Cek Rekomendasi Saham Emiten CPO AALI BWPT LSIP Senin 2 Februari 2026

Senin, 02 Februari 2026 | 09:16:11 WIB
Cek Rekomendasi Saham Emiten CPO AALI BWPT LSIP Senin 2 Februari 2026

JAKARTA - Sektor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali menarik perhatian pelaku pasar menjelang perdagangan Senin, 2 Feberuari 2026. 

Sejumlah emiten CPO mencatatkan kinerja keuangan yang membaik hingga kuartal III-2025, seiring kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) CPO serta perbaikan produksi. 

Kondisi tersebut memberi sentimen positif di tengah fluktuasi pasar saham yang masih dipengaruhi dinamika global dan pergerakan harga komoditas.

Para analis menilai penguatan kinerja ini mencerminkan kemampuan emiten CPO menjaga profitabilitas meskipun menghadapi tantangan struktural, seperti faktor cuaca, usia tanaman, hingga tuntutan keberlanjutan. 

Kombinasi antara ASP yang lebih tinggi dan strategi operasional yang adaptif menjadi faktor utama yang menopang kinerja keuangan emiten sepanjang sembilan bulan pertama 2025.

Sejalan dengan itu, sejumlah analis pasar modal merilis rekomendasi saham untuk emiten CPO yang dinilai masih memiliki prospek menarik. 

Tiga saham yang menjadi sorotan adalah PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT), dan PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP). Berikut ulasan lengkap rekomendasi saham sektor CPO menjelang awal pekan.

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang solid hingga kuartal III-2025. Perseroan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 22,11 triliun, meningkat 35,8% secara tahunan atau year on year (YoY) dibandingkan Rp 16,28 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Sejalan dengan peningkatan pendapatan, laba bersih AALI per September 2025 mencapai Rp 1,07 triliun, naik 33,57% YoY dari Rp 801,15 miliar.

Dari sisi operasional, produksi CPO AALI terus menunjukkan tren perbaikan. Hingga sembilan bulan pertama 2025, total produksi CPO tercatat mencapai 882.000 ton, lebih tinggi dibandingkan 814.000 ton pada periode yang sama tahun 2024.

 Peningkatan produksi ini berjalan beriringan dengan kenaikan ASP CPO yang mencapai Rp 14.556 per kilogram atau naik 14% YoY.

Namun demikian, profil perkebunan AALI yang mayoritas berada pada usia matang mendorong ketergantungan yang lebih tinggi terhadap pembelian tandan buah segar (TBS) dari pihak eksternal. Strategi ini diperlukan untuk menjaga stabilitas operasional dan volume produksi di tengah keterbatasan pertumbuhan TBS inti.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, Research Analyst Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga memberikan rekomendasi Hold untuk saham AALI dengan target harga Rp 8.000. Rekomendasi ini mencerminkan valuasi yang dinilai relatif wajar setelah kenaikan kinerja keuangan sepanjang 2025.

PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT)

PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) juga menunjukkan kinerja yang membaik hingga akhir September 2025. Pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp 4,19 triliun, meningkat 43,0% YoY dibandingkan Rp 2,93 triliun pada periode yang sama tahun 2024. Laba bersih sembilan bulan pertama 2025 mencapai Rp 271,44 miliar atau tumbuh 52,04% YoY.

Dari perspektif keberlanjutan, BWPT mencatatkan perkembangan positif. Saat ini, empat dari tujuh pabrik milik perseroan telah memenuhi standar sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). 

Manajemen menargetkan pencapaian sertifikasi RSPO penuh dengan menambahkan satu pabrik bersertifikasi RSPO setiap tahun, dan berada di jalur yang tepat untuk menyelesaikan sertifikasi penuh pada 2027.

Pencapaian ini diperkirakan akan meningkatkan daya tarik BWPT di mata pembeli premium, sekaligus memperkuat stabilitas penjualan jangka panjang. Selain itu, langkah ini menempatkan BWPT pada posisi yang lebih menguntungkan di tengah semakin ketatnya persyaratan keberlanjutan CPO dalam rantai pasok global.

Berdasarkan prospek tersebut, Analis Samuel Sekuritas Indonesia Juan Harahap memberikan rekomendasi Buy untuk saham BWPT dengan target harga Rp 450. Rekomendasi ini mencerminkan optimisme terhadap perbaikan kinerja operasional dan potensi rerating valuasi seiring peningkatan standar keberlanjutan.

PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP)

PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) membukukan penjualan sebesar Rp 3,96 triliun sepanjang sembilan bulan 2025. Angka tersebut tumbuh 35% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Laba bersih LSIP juga mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 55% YoY menjadi Rp 1,25 triliun, sejalan dengan peningkatan laba inti atau core profit sebesar 40% YoY.

LSIP tetap mampu mencatatkan ekspansi margin yang sehat berkat penguatan ASP CPO. Meski produksi TBS inti cenderung melambat, perseroan mengimbanginya dengan peningkatan pembelian TBS eksternal. 

Strategi ini membuat total volume TBS tetap tumbuh positif sebesar 2,5% YoY pada periode sembilan bulan pertama 2025. Selain itu, peningkatan tingkat ekstraksi CPO turut mendukung kenaikan output CPO sebesar 4,1% YoY.

Dari sisi aset, LSIP menambah area inti matang seluas 1.362 hektare hingga akhir September 2025. Dengan tambahan tersebut, total area matang meningkat menjadi 86.333 hektare, naik dari 84.941 hektare pada tahun 2024. 

Meski demikian, produktivitas masih tergolong lemah akibat tingginya porsi tanaman tua yang memerlukan peremajaan bertahap.

Atas dasar kinerja dan prospek tersebut, Analis Ciptadana Sekuritas Asia Yasmin Soulisa merekomendasikan Buy untuk saham LSIP dengan target harga Rp 1.620. Rekomendasi ini mencerminkan keyakinan terhadap stabilitas fundamental LSIP di tengah dinamika sektor CPO.

Prospek Sektor CPO ke Depan

Secara keseluruhan, kinerja positif emiten CPO hingga kuartal III-2025 memberikan optimisme menjelang perdagangan awal Februari 2026. Kenaikan ASP, perbaikan produksi, serta langkah strategis di bidang keberlanjutan menjadi faktor utama yang menopang prospek sektor ini. 

Meski tetap dihadapkan pada tantangan struktural dan volatilitas harga komoditas, saham-saham CPO masih berpotensi menjadi pilihan investor dengan profil risiko menengah hingga panjang.

Terkini