JAKARTA - Masa depan sebuah daerah sangat bergantung pada kualitas pendidikan generasi mudanya. Di tengah tantangan ekonomi yang kerap menjadi tembok penghalang bagi anak-anak untuk menamatkan sekolah, Kabupaten Brebes muncul dengan solusi konkret yang memberikan secercah harapan. Bukan sekadar janji di atas kertas, sebuah gerakan masif telah membuktikan bahwa kehadiran negara di tengah kesulitan masyarakat mampu mengubah garis takdir ratusan anak yang sebelumnya terpaksa meninggalkan bangku pendidikan.
Saat ratusan anak di berbagai daerah terancam putus sekolah karena himpitan ekonomi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes justru memilih tancap gas. Langkah proaktif ini diambil sebagai respons atas tingginya angka putus sekolah yang dipicu oleh faktor finansial keluarga. Dengan semangat mengembalikan hak pendidikan anak, Pemkab Brebes meluncurkan inisiatif yang menyasar jantung persoalan secara langsung.
Keberhasilan Nyata Pengembalian Siswa ke Institusi Pendidikan
Indikator keberhasilan sebuah program pemerintah terletak pada data yang dihasilkan di lapangan. Melalui program GAS ROLAS (Gerakan Anak Sekolah 12 Tahun), Pemkab Brebes berhasil menarik kembali 628 anak ke bangku pendidikan sepanjang tahun 2025 kemarin. Angka ini mencerminkan dedikasi luar biasa dari para petugas yang turun langsung ke desa-desa untuk menjemput para siswa agar mau kembali belajar.
Program unggulan Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma dan Wakil Bupati Wurja itu digerakkan secara masif oleh Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Brebes, yang tampil sebagai motor penggerak utama di lapangan. Kolaborasi antar lini ini memastikan bahwa setiap kendala yang dialami oleh anak-anak putus sekolah dapat diidentifikasi dan diberikan solusi yang tepat sasaran.
Implementasi GAS ROLAS: Melampaui Sekadar Wajib Belajar
Strategi yang digunakan dalam gerakan ini tidak hanya mengandalkan kampanye formal, tetapi lebih kepada aksi nyata yang menyentuh ranah personal siswa. GAS ROLAS tidak berhenti pada jargon wajib belajar 12 tahun. Pemkab memahami bahwa memaksa anak kembali ke sekolah tanpa adanya sistem pendukung hanya akan berujung pada kegagalan yang sama di kemudian hari.
Oleh karena itu, program ini menyasar langsung anak-anak rentan putus sekolah, mulai dari tingkat dasar hingga menengah atas, dengan pendekatan aktif dan pendampingan berkelanjutan. Pendekatan ini melibatkan komunikasi intensif dengan orang tua siswa untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya pendidikan sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan keluarga mereka.
Dukungan Infrastruktur dan Pendampingan Berkelanjutan
Dindikpora Brebes sebagai pelaksana teknis memastikan bahwa anak-anak yang telah ditarik kembali ke sekolah mendapatkan fasilitas yang memadai. Program ini menjamin bahwa tidak ada lagi alasan biaya yang menghalangi seorang anak untuk meraih ijazah setara SMA. Selain itu, pendampingan terus dilakukan untuk memantau kehadiran dan perkembangan akademik siswa guna mencegah mereka kembali putus sekolah di tengah jalan.
Pencapaian 628 anak yang kembali bersekolah pada tahun 2025 menjadi bukti bahwa "GAS ROLAS" adalah tameng yang kuat bagi anak-anak Brebes dari ancaman putus sekolah. Fokus pemerintah daerah kini adalah memperluas jangkauan program ini agar lebih banyak lagi anak-anak di pelosok Brebes yang bisa menikmati layanan pendidikan hingga tuntas 12 tahun.
Dengan keberhasilan ini, Kabupaten Brebes telah menetapkan standar baru dalam penanganan anak putus sekolah, yang mengandalkan kecepatan bertindak dan ketepatan kebijakan dalam menghadapi krisis pendidikan di tingkat lokal.