Pemulihan Rumah Ibadah Aceh: 98 Persen Masjid Beroperasi Darurat Pascabencana

Jumat, 06 Februari 2026 | 10:39:26 WIB
Pemulihan Rumah Ibadah Aceh: 98 Persen Masjid Beroperasi Darurat Pascabencana

JAKARTA - Semangat spiritualitas masyarakat Aceh terbukti menjadi motor penggerak utama dalam pemulihan pascabencana yang melanda Bumi Serambi Mekkah. Meski baru berselang dua bulan sejak musibah banjir dan tanah longsor melanda, geliat aktivitas keagamaan kembali terpancar dari ratusan rumah ibadah yang sempat terdampak. Berdasarkan pemantauan terkini, upaya normalisasi fasilitas publik, khususnya tempat ibadah, menunjukkan progres yang sangat signifikan sebagai persiapan menyambut datangnya bulan suci.

Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Aceh mencatat bahwa hampir seluruh masjid dan mushalla yang terdampak bencana kini telah dibuka kembali untuk jemaah. Walaupun sebagian besar masih dalam status operasional terbatas, kembalinya fungsi rumah ibadah ini menjadi simbol resiliensi masyarakat Aceh di tengah ujian alam.

Data Verifikasi Kemenag: Ratusan Masjid Kembali Berdenyut

Kepastian mengenai tingkat pemulihan ini disampaikan langsung oleh otoritas keagamaan setempat setelah melakukan validasi data di berbagai titik bencana. Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari, menjelaskan bahwa kerja keras seluruh pihak telah membuahkan hasil yang menggembirakan bagi kenyamanan ibadah warga.

"Berdasarkan data yang telah diverifikasi, sudah 98 persen masjid dan mushalla yang terdampak kembali berfungsi, tetapi masih dalam kondisi darurat," kata Azhari di Banda Aceh, Kamis. Ia menyampaikan, berdasarkan data yang direkap dari seluruh daerah terkena banjir dan longsor, terdapat 737 masjid/mushala terdampak, dan 725 di antaranya sudah berfungsi (98 persen), sedangkan 12 lainnya belum aktif karena rusak berat bahkan hilang. “Jadi, sebagian besarnya memang beroperasi secara darurat dengan sumber daya yang ada,” ujarnya menambahkan.

Daftar Rumah Ibadah yang Mengalami Kerusakan Total dan Hilang

Meskipun persentase pemulihan sangat tinggi, masih terdapat lubang menganga di beberapa titik di mana bangunan fisik rumah ibadah tersebut benar-benar tidak bisa lagi digunakan atau bahkan raib terbawa arus. Ke-12 titik ini tersebar di beberapa kabupaten yang mengalami dampak bencana paling ekstrem.

Beberapa di antaranya adalah mushala Baitul Banian Serbajadi di Kabupaten Aceh Timur yang hanyut, serta masjid At Taqarrub Riseh Teungoh di Kabupaten Aceh Utara yang terbawa arus. Di Kabupaten Bener Meriah, terdapat mushala Nurul Hikmah di Timang Gajah, mushala Muttaqin, serta masjid Jamik Mukhlisin di Pintu Rime Gayo yang terdampak parah akibat banjir dan longsor.

Kondisi yang memprihatinkan juga dilaporkan dari Kabupaten Gayo Lues, di mana lima rumah ibadah yakni mushala Serkil Putri Betung, mushala Nurul Huda Pantan Cuaca, masjid Baiturrahim dan Al Ikhlas di Tripe Jaya, serta masjid Nurul Iman di Putri Betung dinyatakan hanyut atau hilang. Sementara itu, masjid Al Mabrur Samalanga di Kabupaten Bireuen dan masjid Al Hikmah Karang Baru di Kabupaten Aceh Tamiang dilaporkan roboh dan terbawa arus banjir.

Gotong Royong ASN dan Warga: Kunci Percepatan Normalisasi

Azhari menekankan bahwa capaian 98 persen ini merupakan buah dari solidaritas sosial yang luar biasa. Tidak hanya dari sisi anggaran, namun tenaga dan semangat kebersamaan masyarakat serta aparatur sipil negara (ASN) menjadi faktor penentu. Banyak pihak terlibat dalam membersihkan sisa-sisa material lumpur dan puing-puing agar jemaah bisa segera bersujud kembali.

"Masyarakat bersama-sama melakukan pembersihan, termasuk ASN kita kerahkan, dan banyak pihak lainnya. Bahkan, saat kita bersihkan masjid, ada alat berat mau membantu, kita hanya mengisi BBM-nya saja," ungkap Azhari. Selain tenaga fisik, dukungan logistik seperti pemberian Al-Quran, sajadah, alat kebersihan, hingga bantuan alat berat dari pihak swasta sangat membantu proses transisi dari kondisi lumpuh menjadi berfungsi darurat.

Alokasi Bantuan Renovasi dan Persiapan Menyambut Ramadhan

Sebagai langkah lanjutan untuk mengembalikan kondisi rumah ibadah menjadi permanen dan layak, Kementerian Agama RI telah menyiapkan skema bantuan finansial. Dana ini dialokasikan untuk memfasilitasi kebutuhan mendesak yang belum terpenuhi selama masa operasional darurat.

Masjid/mushala yang rusak berat, sedang, dan ringan (di luar yang hilang) bakal diberikan bantuan renovasi oleh Kemenag RI yang saat ini masih dalam proses. Alokasi bantuan tersebut ditetapkan sebesar Rp50 juta untuk masing-masing masjid dan Rp30 juta untuk mushalla. Azhari menegaskan bahwa dana tersebut sangat krusial bagi keberlangsungan ibadah. "Bantuan tersebut bisa digunakan untuk membeli pompa air jika airnya tidak bersih, genset, tikar shalat, serta kebutuhan mendesak lainnya," tegasnya.

Target utama dari percepatan renovasi ini adalah memastikan seluruh fasilitas keagamaan siap digunakan dengan optimal sebelum memasuki bulan puasa. "Harapan kita, masjid/mushala yang rusak ini kembali bersih dan berfungsi dengan baik untuk masyarakat beribadah. Apalagi, sebentar lagi kita mau memasuki bulan suci Ramadhan," pungkas Azhari.

Upaya ini menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga hak beribadah masyarakat, sekaligus membuktikan bahwa di balik musibah, terdapat kekuatan persatuan yang mampu memulihkan Aceh dalam waktu yang relatif singkat.

Terkini