Penguatan Rantai Dingin KNMP Jadi Kunci Mutu Hasil Tangkapan Nelayan

Senin, 09 Februari 2026 | 10:08:11 WIB
Penguatan Rantai Dingin KNMP Jadi Kunci Mutu Hasil Tangkapan Nelayan

JAKARTA - Upaya meningkatkan kesejahteraan nelayan tidak hanya bergantung pada jumlah hasil tangkapan, tetapi juga pada bagaimana ikan dan produk perikanan dikelola setelah ditangkap. 

Menyadari hal tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus memperkuat pengelolaan rantai dingin di Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) sebagai bagian dari strategi menjaga mutu hasil tangkapan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi bagi nelayan.

Penguatan ekosistem rantai dingin di KNMP dilakukan melalui bimbingan teknis (Bimtek) pengelolaan usaha rantai dingin yang efisien dan berkelanjutan. 

Kegiatan ini menyasar para pengurus Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di lokasi KNMP agar mampu mengelola fasilitas rantai dingin secara profesional dan berorientasi usaha. Langkah ini diharapkan menjadi fondasi penting dalam mendukung ekonomi biru serta ketahanan pangan nasional.

Rantai Dingin Jadi Pilar Ekonomi Biru Dan Ketahanan Pangan

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP, Machmud, menegaskan bahwa keberadaan pabrik es dan cold storage di kawasan KNMP memegang peranan krusial. 

Menurutnya, rantai dingin yang terkelola dengan baik mampu menjaga mutu produk perikanan sejak pascapanen hingga pemasaran, sehingga memberikan nilai tambah yang signifikan bagi nelayan.

“Pengelolaan pascapanen yang berfokus mutu dan kualitas selama proses produksi-pemasaran, menjadikan produk perikanan memiliki daya saing dan nilai tambah tinggi,” terang Machmud.

Ia menambahkan bahwa penguatan rantai dingin sejalan dengan visi ekonomi biru KKP yang menekankan keberlanjutan sumber daya laut, peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir, serta penguatan ketahanan pangan nasional. 

Dengan sistem rantai dingin yang terintegrasi, hasil tangkapan nelayan tidak hanya terjaga kualitasnya, tetapi juga mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Fasilitas Terintegrasi Dari Pascapanen Hingga Konsumen

Dalam mendukung pengelolaan rantai dingin yang optimal, Machmud memastikan KKP memfasilitasi penyediaan sarana dan prasarana yang lengkap dan terintegrasi. Fasilitas tersebut meliputi gudang beku atau cold storage portabel, pabrik es, kendaraan berpendingin, hingga cool box yang digunakan sejak pascapanen.

Seluruh infrastruktur ini dirancang untuk menjaga mutu hasil tangkapan nelayan agar tetap segar dan layak konsumsi hingga sampai ke tangan konsumen. 

Dengan demikian, risiko penurunan kualitas akibat penanganan yang tidak tepat dapat ditekan, sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar terhadap produk perikanan lokal.

Penguatan fasilitas rantai dingin di KNMP juga diharapkan dapat mendorong efisiensi distribusi serta menekan potensi kerugian pascapanen. Melalui pengelolaan yang profesional, fasilitas tersebut tidak hanya menjadi aset fisik, tetapi juga instrumen ekonomi yang mendukung keberlanjutan usaha perikanan rakyat.

Bimbingan Teknis Tingkatkan Kapasitas Pengelola KNMP

Melalui pelaksanaan Bimtek, KKP berharap para pengelola KNMP memperoleh pembelajaran strategis dalam mengelola usaha rantai dingin secara efisien dan berkelanjutan. 

Machmud menekankan bahwa keberhasilan sistem rantai dingin tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur, melainkan terutama oleh kualitas pengelolaan usaha.

“Dengan pengelolaan yang baik, sarana yang tersedia tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas, tetapi juga sebagai instrumen penciptaan nilai tambah dan peningkatan kesejahteraan nelayan,” ujarnya.

Ke depan, KKP berkomitmen untuk terus melakukan bimbingan teknis dan pendampingan lanjutan di lapangan dengan melibatkan Kementerian Koperasi. Pendekatan lintas sektor ini dinilai penting agar koperasi sebagai pengelola utama fasilitas rantai dingin memiliki kapasitas manajerial dan bisnis yang memadai.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Pemberdayaan Usaha Ditjen PDSPKP, Catur Sarwanto, menyebut Bimtek kali ini sebagai bagian dari percepatan program KDMP dan KNMP. 

Ia menjelaskan bahwa sebanyak 350 peserta Bimtek merupakan pengurus KDMP hingga Kepala Dinas Kabupaten/Kota dari 65 lokasi yang telah menerima sarana dan prasarana rantai dingin.

“Bimtek ini merupakan pembekalan kepada para pengurus koperasi yang akan mengelola sarana dan prasarana sistem rantai dingin di KNMP,” tutur Catur.

Integritas Pengelola Menentukan Keberhasilan Usaha Rantai Dingin

Selain aspek teknis dan manajerial, integritas pengelola menjadi faktor penentu keberhasilan usaha rantai dingin di tingkat koperasi. Hal ini disampaikan langsung oleh para pelaku koperasi yang telah berpengalaman mengelola sistem rantai dingin.

Sugito, pengurus KSU Mina Barokah Juwana, Pati, Jawa Tengah, mengungkapkan bahwa terdapat lima kunci keberhasilan usaha kendaraan berpendingin. 

Faktor tersebut meliputi ketersediaan hasil tangkapan nelayan, penghitungan ongkos jasa distribusi yang presisi, selektivitas tenaga kerja pengemudi, perawatan kendaraan secara berkala, serta integritas pengurus dan pengelola.

“Pengelola yang berintegritas dan pengemudi yang jujur, usahanya jadi lancar,” kata Sugito.

Pengalaman serupa disampaikan Wading, pengelola Koperasi Mina Muara Sejahtera. Ia menilai kesamaan visi dan integritas pengurus menjadi fondasi utama kesuksesan koperasi rantai dingin. 

Pengelola cold storage portabel berkapasitas 10 ton tersebut menegaskan bahwa pengurus yang berintegritas akan bertanggung jawab dalam menjaga keberlanjutan usaha.

“Ini faktor keberhasilan usaha yang dikelola koperasi,” ujarnya.

KNMP Dorong Transformasi Kampung Nelayan Lebih Modern

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa KNMP merupakan program terobosan pemerintah untuk mengubah wajah kampung nelayan tradisional menjadi kawasan yang lebih modern dan produktif. 

Melalui program ini, KKP membangun berbagai sarana dan prasarana pendukung kegiatan perikanan dalam satu kawasan terpadu.

Fasilitas tersebut mencakup dermaga, cold storage, bengkel kapal, balai pelatihan, hingga sentra kuliner. Dengan pendekatan kawasan terintegrasi, KNMP diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas perikanan, tetapi juga kualitas hidup nelayan dan masyarakat pesisir secara keseluruhan.

Penguatan rantai dingin menjadi bagian penting dari transformasi tersebut. Dengan sistem pascapanen yang andal, hasil tangkapan nelayan dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar, sekaligus memperkuat posisi produk perikanan Indonesia di pasar domestik maupun global.

Terkini