Strategi Emiten Komponen Lokal Amankan Ceruk Pasar Baterai Kendaraan Listrik

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:32:38 WIB
Strategi Emiten Komponen Lokal Amankan Ceruk Pasar Baterai Kendaraan Listrik

JAKARTA - Arus elektrifikasi di industri otomotif tanah air bukan lagi sekadar tren, melainkan transformasi fundamental yang memaksa para pemain komponen lokal untuk memutar otak. Menghadapi pergeseran dari mesin pembakaran internal (ICE) ke kendaraan listrik (EV), produsen komponen mulai bergerak agresif mendiversifikasi portofolio mereka. Fokusnya kini bukan lagi sekadar suku cadang logam atau plastik konvensional, melainkan jantung dari kendaraan masa depan: teknologi penyimpanan energi atau baterai.

Langkah ini menjadi krusial di tengah meningkatnya adopsi EV sebagai sarana transportasi massal. Perkembangan ini mendorong pelaku industri untuk menyesuaikan portofolio produk dengan arah pasar yang kian mengarah ke elektrifikasi. Dengan menguasai teknologi komponen pendukung EV, produsen lokal berharap tidak hanya menjadi penonton di rumah sendiri, tetapi juga menjadi pemain kunci dalam rantai pasok energi terbarukan yang lebih luas.

Inovasi Baterai Lithium Lokal di Ajang IIMS 2026

Salah satu bukti nyata keseriusan pemain lokal terlihat dalam pameran otomotif bergengsi di awal tahun ini. PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) memperkenalkan baterai lithium 12 volt dalam ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026. Inovasi ini menjadi sinyal bahwa perusahaan siap bersaing di segmen komponen elektrik yang selama ini didominasi produk impor.

Presiden Direktur DRMA Irianto Santoso mengatakan, pengembangan komponen pendukung kendaraan listrik merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam merespons perubahan industri otomotif. Baginya, kecepatan dalam beradaptasi adalah kunci agar tetap relevan di pasar yang berubah sangat cepat. “Industri otomotif sedang bergerak ke arah elektrifikasi. Kami mencoba menyesuaikan diri dengan kebutuhan tersebut,” ujar Irianto di Jakarta, Sabtu.

Baterai lithium 12V yang diperkenalkan ditujukan untuk sepeda motor listrik, tersedia dalam dua varian, yakni 12V 6Ah dan 12V 3,5Ah. Keunggulannya pun cukup mencolok dibandingkan teknologi lama, dengan bobot lebih ringan serta ukuran ringkas dibandingkan aki konvensional. Pengembangan produk tersebut dilakukan melalui unit bisnis Dharma Connect yang berfokus pada teknologi kendaraan listrik dan energi terbarukan.

Menjawab Tantangan Lingkungan dan Komitmen Global

Ekspansi ke sektor baterai tidak hanya didorong oleh motif profit, tetapi juga tanggung jawab terhadap krisis iklim. Head of Business Development DRMA Eko Maryanto mengatakan, pengembangan teknologi baterai tidak terlepas dari isu lingkungan global dan kebutuhan akan sistem penyimpanan energi yang lebih efisien. Kesadaran akan pengurangan emisi karbon menjadi landasan utama riset dan pengembangan produk mereka.

“Kalau kita lihat, persoalannya sekarang adalah lingkungan. Kita bicara soal pemanasan global dan komitmen global seperti COP. Salah satu solusi yang sedang berkembang adalah teknologi lithium sebagai penyimpan energi,” kata Eko. Menurut Eko, baterai berbasis lithium tidak hanya dibutuhkan untuk kendaraan listrik, tetapi juga untuk mendukung sistem energi terbarukan, seperti panel surya dan tenaga angin.

Hal ini menunjukkan bahwa pasar yang dibidik jauh lebih luas dari sekadar otomotif. Potensi sistem penyimpanan energi rumahan dan industri menjadi target jangka panjang. “Energi dari surya dan angin itu butuh sistem penyimpanan. Saat ini, teknologi penyimpanan yang paling efisien masih berbasis lithium,” ujarnya.

Dominasi Teknologi LFP untuk Penggunaan Masif

Dalam peta teknologi baterai dunia, terdapat perdebatan antara penggunaan Nickel Manganese Cobalt (NMC) dan Lithium Iron Phosphate (LFP). Eko menjelaskan, terdapat berbagai jenis baterai lithium yang digunakan sesuai kebutuhan. Namun, untuk pasar Indonesia yang mengutamakan stabilitas dan harga yang lebih terjangkau, teknologi LFP memiliki keunggulan tersendiri.

Untuk penggunaan massal, teknologi lithium iron phosphate (LFP) menjadi salah satu yang paling banyak digunakan karena lebih stabil dan fleksibel. “Kalau NMC lebih banyak dipakai di mobil listrik, tapi untuk penggunaan yang lebih luas, LFP justru lebih dominan. Di produk kami juga, penggunaan LFP lebih banyak,” kata Eko. Pilihan pada LFP dianggap lebih realistis untuk kebutuhan sepeda motor listrik yang membutuhkan ketahanan suhu dan siklus hidup yang lebih lama.

Keunggulan Performa dan Durabilitas Jangka Panjang

Berpindah dari aki konvensional ke lithium bukan sekadar mengikuti tren, melainkan peningkatan kualitas teknis yang signifikan. Dari sisi performa, Eko menilai baterai lithium memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan aki konvensional, mulai dari daya tahan hingga usia pakai yang lebih menguntungkan bagi konsumen.

“Dari performa, aki lithium lebih kuat dan lebih stabil. Umurnya juga bisa jauh lebih panjang, minimal sekitar lima tahun, bahkan bisa lebih lama, dengan bobot yang lebih ringan,” ujarnya. Efisiensi ini menjadi nilai jual utama bagi pengguna kendaraan listrik yang menginginkan perangkat penyimpanan energi yang minim perawatan namun memiliki umur pakai yang panjang.

Diversifikasi Portofolio demi Ketahanan Bisnis

Di sisi manajemen risiko, langkah masuk ke industri baterai merupakan strategi untuk memperkuat struktur keuangan perusahaan. Deputy Head of Business Development DRMA Steven Adrian Santoso mengatakan, perusahaan berupaya mengurangi ketergantungan pada satu lini bisnis saja. Hal ini penting untuk menjaga keberlangsungan perusahaan di tengah fluktuasi pasar otomotif dunia.

“Dengan portofolio yang lebih beragam, risiko usaha bisa lebih terkelola,” ujar Steven. Strategi ini terbukti efektif dalam memacu pertumbuhan perusahaan. DRMA sendiri menargetkan penjualan sekitar Rp 6 triliun pada 2025. Target tersebut ditopang oleh kinerja segmen roda dua dan roda empat, serta meningkatnya kontribusi dari bisnis kendaraan listrik dan non-otomotif.

Dengan demikian, keterlibatan produsen komponen lokal di sektor baterai bukan hanya tentang mengikuti arus elektrifikasi, melainkan tentang membangun ekosistem energi mandiri yang lebih hijau dan berkelanjutan bagi Indonesia di masa depan.

Terkini