Alasan Menteri HAM Natalius Pigai Rekomendasikan Buku Karya Barat

Minggu, 02 Agustus 2026 | 21:26:31 WIB
Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai.

JAKARTA – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai memberikan rekomendasi kepada generasi muda untuk membaca karya dari para penulis Barat.

Langkah dan pandangannya tersebut disampaikan berdasarkan pengalaman pribadinya yang sudah mulai aktif menulis sejak usia muda.

Pigai menceritakan bahwa dirinya dulu pernah memperoleh arahan serta saran buku bacaan langsung dari sosok penulis ternama Romo Mangunwijaya.

Pernyataan ini dibagikan melalui akun media sosial pribadinya, sembari menampilkan sejumlah foto buku yang telah berhasil diterbitkannya.

"Mengapa saya berkomentar soal buku dan karya cipta yang wajib dibaca oleh generasi muda dan saat ini mendapat beragam reaksi publik," kata Pigai dalam unggahannya.

Saat masih bermukim di Yogyakarta, ia memperoleh banyak bimbingan literasi dari rohaniawan sekaligus budayawan Yusuf Bilyarta Mangunwijaya.

"Buku pertama ini saya menulis karena dididik dan ditantang oleh penulis kenamaan Indonesia berkelas dunia Romo Mangunwijaya di Gang Kuwera Nomor 12 Gejayan. Beliau pula yang mengajarkan saya buku seperti apa yang saya harus baca," imbuh Pigai.

Romo Mangun kala itu memberikan tantangan kepadanya untuk menyusun sebuah karya sejarah tanah kelahirannya secara independen dan netral.

“Natalius kau bisa enggak nulis buku sejarah papua tetapi objektif? tidak boleh melibatkan perasaanmu sebagai orang Papua agar isinya berkualitas dan objektif?” kata Romo Mangun kepada Pigai sebagaimana diceritakan Pigai.

Tantangan tersebut mendorong Pigai menjadi salah satu penulis buku ilmiah populer termuda di Indonesia pada usianya yang baru menginjak 21 tahun.

Buku karyanya yang bertajuk "Evolusi Nasionalisme dan Sejarah Konflik Politik di Papua" turut membawanya memegang jabatan Staf Khusus Menteri.

Karya yang terbit pada 1999 itu diluncurkan di Yogyakarta serta dihadiri oleh perwakilan duta besar dari berbagai negara sahabat.

"Buku Evolusi sudah diulas di berbagai bahasa dan ada di berbagai perpustakaan di seluruh dunia," beber Pigai.

Selain karya tersebut, Pigai juga memamerkan buku lain berjudul "Migrasi Tenaga Kerja Internasional" yang kini menjadi referensi akademis.

"Hasilnya karena buku ini hari ini, saya menjadi satu diantara 39 Menteri dari 287 juta penduduk Indonesia. Jadi saya bukan anak karbitan kemarin sore ikuti perkembangan ilmu pengetahuan di negeri ini," beber dia.

Atas dasar perjalanan itu, Menteri HAM menyarankan agar anak-anak Indonesia membiasakan diri membaca literatur terjemahan maupun karya asli penulis luar.

Ia berpandangan bahwa buku terbitan luar cenderung lebih objektif dibandingkan dengan penulisan lokal yang kerap bersifat subjektif.

"Rekomendasi untuk anak-anak Indonesia, baca saja buku yang dikarang oleh orang Barat atau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Kalau tidak bisa dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia. Kenapa? Karena kalau orang Indonesia nulis itu sesuai versinya dan subjektif," tutur Pigai.

Terkini