Lahan Industri Dongkrak Pendapatan SSIA Jadi Rp3,35 Triliun

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:42:31 WIB
Ilustrasi proyek pembangunan Subang Smartpolitan

JAKARTA - Emiten yang terafiliasi dengan grup Djarum, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mencatatkan raihan kinerja positif sepanjang semester I/2026 melalui pembukuan lonjakan pendapatan serta peningkatan laba bersih.

Berdasarkan publikasi laporan keuangan perseroan, SSIA mengantongi pendapatan konsolidasian mencapai Rp3,35 triliun pada semester I/2026, atau melonjak 58,4 persen secara tahunan (year on year/YoY) dibanding capaian Rp2,12 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

VP of Investor Relation dan Corporate Communication SSIA Erlin Budiman menyampaikan bahwa pertumbuhan tersebut utamanya didorong oleh segmen properti yang membukukan lonjakan pendapatan paling signifikan.

Pendapatan di lini bisnis properti menembus angka Rp1,27 triliun, atau melesat 274,1 persen YoY berkat terakuisisinya pencatatan akuntansi penjualan lahan industri.

"Pertumbuhan kinerja tersebut, terutama ditopang oleh pengakuan penjualan lahan industri atau accounting sales recognition yang kuat pada bisnis kawasan industri," ujarnya dalam pernyataan tertulis, Rabu (5/8/2026).

Peningkatan kinerja operasional yang solid ini mendorong SSIA meraih laba bersih senilai Rp262,6 miliar pada semester I/2026. Sektor properti kembali menjadi penopang utama dengan raihan laba bersih Rp459,3 miliar, melesat dibanding Rp44,9 miliar pada semester I/2025.

Perolehan EBITDA konsolidasian terdata menyentuh Rp692,5 miliar dengan marjin EBITDA berada di level 20,7 persen, atau tumbuh pesat dibanding EBITDA semester I/2025 yang senilai Rp106 miliar dengan marjin 5 persen.

Di balik melesatnya performa keuangan, aktivitas penjualan lahan industri baru sejatinya sempat mengalami perlambatan. Pada semester I/2026, anak usaha pengelola kawasan industri PT Suryacipta Swadaya (SCS) mengamankan marketing sales lahan industri 9,4 hektare bernilai Rp195,9 miliar.

Manajemen perseroan membeberkan bahwa penyesuaian tersebut dipicu meningkatnya suhu geopolitik di kawasan Timur Tengah yang membuat jajaran perusahaan global menunda agenda investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI).

Kendati demikian, pengakuan penjualan secara akuntansi tetap tinggi lantaran bersumber dari transaksi yang telah diamankan pada periode sebelumnya. Sepanjang semester I/2026, SSIA membukukan penjualan lahan seluas 64,7 hektare senilai Rp1,08 triliun dari kawasan Subang Smartpolitan serta Suryacipta City of Industry Karawang.

Hingga akhir Juni 2026, backlog penjualan lahan SCS terdata senilai Rp84,3 miliar yang mencakup penjualan lahan seluas 4,1 hektare.

Sementara itu, lini bisnis konstruksi lewat PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) mengantongi pendapatan Rp1,70 triliun, cenderung stabil dari posisi semester I/2025. Adapun lini perhotelan mengindikasikan tren pemulihan dengan raihan pendapatan Rp471,1 miliar, atau naik 113,3 persen YoY.

Sektor konstruksi turut mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 21,1 persen YoY menjadi Rp93,2 miliar. Sementara sektor perhotelan masih menanggung rugi bersih Rp83,8 miliar, meski angka ini berhasil ditekan sebesar 20,3 persen dari rugi bersih periode sebelumnya yang senilai Rp105,1 miliar.

Menilik neraca keuangan, posisi kas SSIA pada akhir semester I/2026 berada di kisaran Rp1,09 triliun, terkoreksi 4,2 persen dari posisi kuartal I/2026 sebesar Rp1,14 triliun akibat pembayaran bunga atas renovasi Paradisus by Meliá Bali serta belanja pembebasan lahan.

Di sisi lain, jumlah utang berbunga perseroan berhasil susut 3,5 persen menjadi Rp2,27 triliun. Dengan perkembangan ini, rasio utang terhadap ekuitas (gearing ratio) membaik ke level 26,8 persen yang menandakan struktur modal perseroan berada dalam kondisi kian sehat.

Terkini