Kinerja Emiten Rokok Melonjak Cek Prospek HMSP GGRM WIIM dan ITIC

Kamis, 06 Agustus 2026 | 04:27:32 WIB
Ilustrasi Karyawan Emiten Rokok Sedang Mengecek Di gudang rokok.

JAKARTA - Seluruh emiten industri rokok membukukan lonjakan laba bersih yang signifikan sepanjang semester pertama 2026.

Di balik torehan tersebut, sejumlah indikator kinerja menjadi catatan krusial untuk mengukur ketahanan fundamental perusahaan dalam menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.

PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mencatatkan lonjakan laba bersih 2.440 persen secara year on year (YoY), kendati total penjualan bersihnya tergerus 7,19 persen YoY seiring penurunan segmen sigaret kretek mesin (SKM) sebesar 7,88 persen.

Langkah efisiensi bisnis terbukti memicu kenaikan laba GGRM, namun terbatasnya ruang efisiensi menjadi tantangan masa depan apabila perseroan gagal memacu volume penjualan.

Sementara itu, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) mengantongi pertumbuhan penjualan 2,40 persen YoY dengan topangan utama segmen SKM yang tumbuh 13,84 persen, sehingga memicu perolehan laba bersih naik 97,06 persen YoY.

Meski demikian, penjualan segmen lain seperti sigaret kretek tangan (SKT), sigaret putih mesin (SPM), dan sigaret putih tangan (SPT) milik HMSP merosot dua digit, disertai penurunan pangsa pasar sebesar 1,4 persen akibat fenomena downtrading.

Di sisi lain, PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) mencatat kenaikan penjualan 12,29 persen YoY dan laba bersih melesat 104,56 persen YoY, walau pertumbuhan beban pokok penjualannya terbilang lebih tinggi dibanding HMSP dan GGRM.

Adapun PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC) membukukan kenaikan penjualan 8,67 persen YoY dan laba bersih 16,11 persen YoY, namun menjadi satu-satunya emiten yang mengalami koreksi pada margin laba kotor.

Dari aspek permodalan, rasio utang terhadap ekuitas (DER) seluruh emiten rokok berada pada level rendah, yakni GGRM 0,22 kali, HMSP 0,92 kali, WIIM 0,48 kali, dan ITIC 0,32 kali.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Kevin Yudha Pratama menilai HMSP unggul dari skala jaringan dan merek, tetapi perbaikan GGRM masih bersandar pada pemulihan margin.

"Menurut kami, WIIM menunjukkan kualitas fundamental paling solid dari sisi kinerja semester I/2026 karena pertumbuhan penjualan dan laba bersih disertai ekspansi gross profit margin," kata Kevin kepada Bisnis, dikutip Kamis (6/8/2026).

Sementara itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang memandang HMSP sebagai pilihan paling resilien di tengah tren normalisasi industri tembakau.

"Menurut kami, HMSP masih menunjukkan kualitas fundamental yang paling resilien di tengah fase normalisasi industri rokok. Hal tersebut tercermin dari kemampuannya mempertahankan pertumbuhan top line, diikuti ekspansi laba bersih yang signifikan serta gross profit margin sebesar 19%, lebih tinggi dibandingkan GGRM yang berada di kisaran 15%," ujarnya.

Terkini