Kasus Paper SSRN, Kemdiktisaintek Buka Suara Hasil Investigasi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 17:49:01 WIB
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto [FOTO: NET].

JAARTA - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengungkapkan bahwa beberapa nama yang dicantumkan sebagai penulis dalam makalah ilmiah yang turut mencatut nama Presiden Prabowo di platform SSRN sejatinya tidak mengetahui keberadaan karya tulis itu.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto telah menerjunkan tim khusus guna mengusut serta menginvestigasi masalah ini secara mendalam sejak Selasa (4/8/2026).

"Sejak dibentuk, tim telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, mengumpulkan informasi dan dokumen, serta meminta klarifikasi dari pihak-pihak yang terkait. Hingga saat ini proses investigasi masih berlangsung," katanya dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (7/8/2026).

Melalui koordinasi intensif, tim investigasi menemukan kenyataan bahwa pihak-pihak yang namanya terseret di dalam artikel ilmiah tersebut tidak pernah dimintai persetujuan. Mereka juga menegaskan tidak terlibat sedikit pun pada tahapan penyusunan maupun proses pengunggahan naskah tersebut ke platform SSRN.

Hasil penelusuran mengenai ketidaktahuan para pihak yang dicatut itu kian diperkuat oleh keterangan resmi yang diperoleh dari perguruan tinggi asal penulis utama. Penulis utama berinisial DD diwartakan telah menandatangani surat pernyataan resmi serta menyampaikan permohonan maaf atas insiden itu.

Di samping mendapati fakta ketidaktahuan tokoh-tokoh yang namanya dicantumkan, tim investigasi Kemdiktisaintek turut menelusuri rekam jejak maupun status akademis dari DD selaku penulis utama.

Hasil temuan awal memastikan bahwa DD belum menduduki jabatan akademis Guru Besar dan tidak berstatus sebagai dosen di perguruan tinggi mana pun. Berdasarkan data yang dihimpun, DD diketahui baru saja menuntaskan sidang promosi doktor beberapa waktu lalu.

Guna menangkal meluasnya disinformasi, Kemdiktisaintek turut memberikan edukasi publik supaya tidak muncul kekeliruan persepsi mengenai fungsi platform SSRN. Platform tersebut ditegaskan bukan lembaga resmi yang berwenang menetapkan penganugerahan penghargaan Nobel.

SSRN pada hakikatnya merupakan platform publikasi awal (preprint) atau wadah repositori di mana peneliti dunia bisa membagikan naskah ilmiah mereka secara terbuka. Karena itu, pemuatan karya di situs tersebut tidak serta-merta menandakan isi maupun klaim di dalamnya sudah divalidasi atau diakui oleh Komite Nobel.

Kemdiktisaintek pun menggarisbawahi celah pada sistem pengunggahan yang memungkinkan pengirim naskah mencantumkan nama orang lain. Apabila pencantuman nama itu tanpa izin, hal tersebut tergolong bentuk pelanggaran etika publikasi ilmiah yang bakal ditindak tegas sesuai regulasi berlaku.

Publik diimbau untuk tidak terkecoh oleh penyebutan kata "nominasi" pada judul artikel. Prosedur nominasi Nobel menerapkan mekanisme rahasia yang datanya dikunci rapat oleh Komite Nobel selama 50 tahun, sehingga keberadaan tulisan di SSRN dipastikan tidak dapat dijadikan patokan adanya nominasi resmi.

Terkini