KIJA Andalkan Bisnis Infrastruktur Demi Pertahankan Kinerja 2026

Minggu, 09 Agustus 2026 | 19:49:31 WIB
PT Jababeka Tbk. (KIJA) [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Jababeka Tbk. (KIJA) memilih memperkuat sumber pendapatan berulang alias recurring income sebagai strategi menjaga kinerja di tengah penurunan laba pada semester I/2026. Perseroan bakal menggenjot kontribusi bisnis infrastruktur, mulai dari penyediaan listrik, air, pengelolaan kawasan hingga logistik, seiring makin maraknya aktivitas tenant di kawasan industri.

Langkah ini diambil usai Jababeka mencatatkan pendapatan konsolidasian sebesar Rp2,44 triliun pada semester I/2026, menyusut 11% bila dibandingkan dengan Rp2,73 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Perseroan pun berbalik mengalami rugi bersih sebesar Rp6,4 miliar, dari posisi laba bersih Rp627,6 miliar pada semester I/2025.

Sekretaris Perusahaan KIJA Muljadi Suganda memaparkan bahwa penurunan kinerja tidak berakar dari melemahnya fundamental bisnis, melainkan kombinasi faktor operasional serta beban non-operasional yang bersifat satu kali (one off).

"Fundamental operasional Perseroan tetap solid dengan struktur pendapatan yang semakin seimbang dan didukung oleh bisnis yang menghasilkan pendapatan berulang," ujarnya, Jumat (7/8/2026).

Mengenai aspek operasional, Muljadi menguraikan bahwa penurunan pendapatan dipicu oleh sebagian transaksi penjualan lahan industri yang belum bisa dibukukan sebagai pendapatan akibat perbedaan waktu pengakuan (timing of revenue recognition) sesuai standar akuntansi.

Sementara itu, timbulnya rugi bersih diakibatkan oleh beban one off dari proses refinancing Senior Notes berdenominasi dolar Amerika Serikat menjadi pinjaman perbankan dalam mata uang rupiah. Beban tersebut meliputi rugi selisih kurs, biaya penghentian instrumen lindung nilai (hedging), serta percepatan amortisasi atas obligasi yang dilunasi lebih cepat.

Kendati demikian, Muljadi menegaskan bahwa bisnis inti Jababeka tetap berdaya tahan. Tanpa menghitung pos-pos non-berulang tersebut, perseroan masih mencetak laba operasional mencapai Rp524 miliar.

Porsi pendapatan berulang pun memperlihatkan tren penguatan. Pilar Infrastruktur sukses membukukan lonjakan pendapatan sebesar 15% pada semester I/2026, sehingga porsi recurring revenue terkerek menjadi 57% dari total pendapatan konsolidasian, naik dibanding 45% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurutnya, penguatan porsi recurring income memegang peranan penting untuk meminimalisasi ketergantungan pada penjualan lahan industri yang cenderung fluktuatif dan sangat bergantung pada momen pengakuan pendapatan.

Genjot Infrastruktur Menatap semester II/2026, Jababeka bakal makin memfokuskan bisnis infrastruktur sebagai pendorong pertumbuhan baru. Perseroan menargetkan peningkatan arus pendapatan dari suplai listrik, air bersih, manajemen kawasan industri, hingga sarana logistik seiring terus bertambahnya tenant yang beroperasi.

Di lain sisi, Jababeka tetap memacu penjualan lahan lewat optimalisasi pemasaran di kawasan industri Cikarang dan Kendal sekaligus mengakselerasi penyelesaian transaksi yang tengah berjalan.

Perseroan juga tidak mengubah target marketing sales sebesar Rp3,75 triliun untuk tahun 2026, walau bakal terus mencermati dinamika pasar dan perkembangan transaksi hingga pengujung tahun.

Menurut Muljadi, minat investor terhadap kawasan industri Jababeka Cikarang maupun Kendal Industrial Park tergolong masih positif, sehingga perseroan belum melihat urgensi untuk merombak target tersebut.

"Kami terus memonitor perkembangan pasar serta progres penyelesaian transaksi yang sedang berjalan. Apabila terdapat perubahan yang material terhadap outlook, tentu akan disampaikan sesuai ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku," katanya.

Terkini