JAKARTA - Pemerintah saat ini tengah berupaya menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda area seluas 107.000 hektare di pelbagai penjuru wilayah Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago menyampaikan bahwa bencana karhutla ini dipicu oleh dampak kekeringan ekstrem serta fenomena El Nino yang masih berlangsung.
"Kami menghadapi El Nino yang kuat, yang sudah berlaku dan mulai berlaku sekarang sampai dengan awal September atau awal Oktober yang akan datang," kata Djamari dalam jumpa pers di Kantor Kemenko Polkam, Jakarta Pusat, Senin.
Djamari menjelaskan bahwa luasan area terbakar mencapai 107.000 hektare tersebut tersebar di sejumlah kawasan yang tergolong dalam kategori rawan maupun tidak rawan karhutla.
Adapun enam provinsi yang masuk ke dalam kategori rawan karhutla mencakup Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, serta Riau.
Demi memadamkan kobaran api, pemerintah telah mengoperasikan armada pesawat hingga helikopter untuk menjalankan misi pemadaman dari jalur udara.
"Kami mengerahkan sekitar 43 helikopter sampai dengan hari ini, ditambah dengan fixed-wing juga bisa antara 10 sampai dengan 15 sesuai dengan kebutuhan," kata Djamari.
Di samping pengerahan operasi pemadaman udara, pemerintah turut melancarkan tindakan penanganan darat memanfaatkan penggunaan tangki fleksibel sebagai wadah penampung air sementara.
Fasilitas tersebut dimanfaatkan oleh petugas lapangan untuk menghimpun pasokan air skala besar sebelum disalurkan menuju titik lokasi yang terdampak karhutla.
Djamari menggarisbawahi bahwa pihak pemerintah terus mempererat koordinasi bersama pemerintah daerah dan instansi terkait guna memastikan penanganan karhutla dapat berjalan secara optimal.
Melalui rentetan langkah penanggulangan tersebut, Djamari optimistis titik api di wilayah yang terdampak karhutla dapat dipadamkan secara total dalam kurun waktu dekat.