Waspadai Alergi Susu Sapi pada Anak yang Sering Terlambat Dikenali

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:57:32 WIB
Ilustrasi Susu Sapi.

JAKARTA - Kondisi Alergi Protein Susu Sapi (ASS) pada anak membutuhkan perhatian dan penanganan medis yang tepat. Kekeliruan atau keterlambatan dalam menegakkan diagnosis berisiko memperpanjang masa pemulihan serta mengganggu proses tumbuh kembang anak.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menegaskan bahwa pemenuhan kesehatan anak pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan pondasi penting bagi kualitas hidup jangka panjang.

"Periode 1.000 HPK paling menentukan bagi kualitas kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan. Proses perkembangan anak pada periode tersebut sangat dipengaruhi oleh kecukupan nutrisi serta kemampuan otak untuk terus berkembang melalui mekanisme neuroplastisitas," ujar Taruna.

Menurut Taruna, kecukupan asupan gizi anak erat kaitannya dengan kondisi kesehatan pencernaan, mengingat terdapat hubungan langsung antara organ pencernaan dan sistem saraf otak (gut-brain axis).

"Keseimbangan mikrobiota usus berperan penting dalam menjaga sistem imun sekaligus mendukung pematangan fungsi otak pada masa awal kehidupan," katanya.

Sebaliknya, ketidakseimbangan mikrobiota atau disbiosis dapat menimbulkan reaksi peradangan yang memengaruhi daya kerja neurologis. Hal inilah yang mendasari pentingnya menjaga fungsi saluran cerna ketika menangani kasus alergi susu sapi.

Penanganan Alergi Susu Sapi
Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi Prof Zakiudin Munasir mengutarakan bahwa kasus keterlambatan diagnosis alergi susu sapi masih relatif sering ditemui dalam ruang lingkup medis.

"Keterlambatan diagnosis yang masih kerap terjadi dapat memperpanjang proses penanganan serta berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak," ujar Zakiudin.

Zakiudin mengingatkan para orang tua agar berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis sebelum mengambil keputusan mengganti formula anak, sebab tidak seluruh gangguan cerna bersumber dari alergi susu.

Terkait intervensi nutrisi, Zakiudin menyoroti kekeliruan penggunaan partially hydrolyzed formula (pHF) bagi anak yang sudah terkonfirmasi mengidap alergi susu sapi. Sesuai panduan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pHF hanya diperuntukkan bagi langkah pencegahan.

"pHF tidak direkomendasikan untuk anak yang sudah mengalami alergi susu sapi namun masih dapat digunakan untuk pencegahan alergi susu sapi serta masalah saluran cerna lainnya yang tidak disebabkan oleh alergi susu sapi," jelasnya.

Bagi kasus alergi skala ringan hingga sedang, extensively hydrolyzed formula (eHF) disarankan sebagai pilihan utama karena dapat ditoleransi oleh lebih dari 90 persen pasien anak.

Sementara untuk tingkatan alergi berat, penggunaan amino acid formula (AAF) dapat diberikan guna meredakan gejala secara lebih singkat.

Alternatif lain berupa formula berbasis isolat protein soya juga dapat dipertimbangkan sesuai dengan ketersediaan, tingkat keterjangkauan, dan rekomendasi klinis.

"Pilihan nutrisi harus mengikuti panduan berbasis bukti untuk penanganan alergi susu sapi ini," kata Zakiudin.

Terkini