Orang Cerdas Lebih Pedas saat Berbicara Simak Penjelasan Lengkapnya

Selasa, 11 Agustus 2026 | 01:55:31 WIB
Ilustrasi Orang Cerdas.

JAKARTA — "Orang pintar itu kalau ngomong lebih pedas, tajam." Ungkapan macam ini mungkin pernah mampir di telinga Anda, bahkan diamini sebagai kenyataan.

Pertanyaannya, benarkah taraf kecerdasan seseorang memicu gaya bicaranya bertransformasi menjadi lebih tajam atau melukai perasaan?

Tema kecerdasan memang selalu menarik diurai. Kecerdasan kerap ditautkan dengan tabiat atau gaya hidup tertentu.

Tak sedikit kalangan mengorelasikan kecerdasan tinggi dengan kapasitas berdebat, bernalar kritis, hingga mengutarakan argumentasi yang terdengar menusuk. Dari sini, muncul asumsi bahwa kian cerdas seseorang, kian pedas pula caranya bertutur kata.

Riset yang dirilis dalam Scandinavian Journal of Psychology berusaha membedah faktor-faktor yang memengaruhi perilaku agresif, termasuk agresi lisan. Penyelidikan terhadap 665 partisipan mengonfirmasi bahwa kebiasaan berbicara menyerang lebih dominan didorong oleh beberapa faktor, seperti:

tingkat emosi marah yang tinggi,

sifat neurotisisme atau kecenderungan mengidap emosi negatif yang tinggi,

serta tingkat agreeableness alias sikap kooperatif yang rendah.

Di sisi lain, peneliti menemukan bahwa individu dengan emotional intelligence (EI) atau kecerdasan emosional yang baik cenderung mampu meredam korelasi antara rasa marah dan tindakan agresif. Artinya, figur yang mampu mengenali dan mengendalikan emosinya biasanya lebih cakap memilah diksi ketika berbicara, kendati dilanda kejengkelan.

Membedah studi dari Journal of Research in Personality, kebiasaan melontarkan celaan atau ucapan menusuk hati lebih erat hubungannya dengan sifat antagonis. Figur dengan kadar antagonis tinggi cenderung mudah berbuat agresif, meremehkan orang lain, merundung (bullying), hingga terhambat merajut hubungan interpersonal yang harmonis.

Studi ini tidak mendapati bahwa kecerdasan menjadi pemicu seseorang lebih gemar memakai diksi yang menusuk. Walhasil, cara seseorang berinteraksi lebih mencerminkan watak pribadinya dibanding level kecerdasannya.

Lantas, bagaimana dengan kecenderungan bersikap sarkastik? Bukankah figur cerdas kerap dipandang lebih sarkastik?

Riset yang dimuat dalam Personality and Individual Differences menguraikan bahwa mencerna sarkasme memang menuntut kapasitas kognitif tertentu, khususnya theory of mind, yakni keahlian memahami pikiran, perasaan, serta sudut pandang pihak lain.

Kapabilitas ini memandu seseorang menyadari bahwa suatu kalimat tidak selalu bermakna eksplisit. Peneliti turut mendapati bahwa gaya sarkasme lebih kerap dilayangkan kepada kawan dekat dibanding sosok yang baru dikenal.

Akan tetapi, studi tersebut tidak pula menyimpulkan bahwa pemilik kecerdasan lebih tinggi secara otomatis lebih sering berbicara sarkastik atau menyakiti. Memahami bentuk sarkasme dan gemar mempraktikkan sarkasme merupakan dua ranah yang tidak sama.

Lalu, mengapa pandangan 'orang pintar lebih pedas saat bicara' bisa sedemikian populer? Besar kemungkinan karena individu berdaya nalar kritis atau penguasa bahasa yang mumpuni sering kali sanggup menyuarakan argumen secara lebih lugas dan sistematis.

Gaya penyampaian sedemikian kerap dinilai terdengar lebih tajam, padahal belum tentu diniatkan untuk melukai lawan bicara. Selain itu, kecerdasan intelektual acap disamakan dengan keterampilan komunikasi, padahal keduanya tak selalu beriringan.

Seseorang dapat mengantongi IQ tinggi, namun tetap sanggup bertutur dengan empati. Sebaliknya, seseorang juga bisa melontarkan kata-kata tajam meski tidak memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata.

Terkini