Orang Tua Diimbau Tidak Asal Diagnosis Kondisi Anak lewat Medsos

Selasa, 11 Agustus 2026 | 02:28:02 WIB
Ilustrasi self-diagnose.

JAKARTA - Media sosial kini menjadi salah satu sumber informasi utama bagi para orang tua ketika mencari tahu tentang tumbuh kembang serta perilaku buah hati. Beragam konten mengenai neurodivergensi, seperti autisme hingga ADHD, marak beredar di platform digital.

Informasi tersebut memang dapat membantu mengenali indikasi awal pada anak. Namun, terlalu bergantung pada konten media sosial berisiko membuat orang tua menyimpulkan sendiri kondisi kesehatan mental maupun fisik anak tanpa konfirmasi ahli.

Psikolog Erna Yulianti mengimbau agar orang tua tidak melakukan self-diagnose atau diagnosis mandiri hanya berbekal paparan informasi di internet.

"Jika terlalu banyak mendapatkan informasi, dikhawatirkan informasi-informasi yang kami serap dengan sendirinya itu menjadi self-diagnose, jika dibiarkan itu akan berbahaya bagi kami," ujar Erna.

Erna menjelaskan bahwa tren konten dari para pembuat konten di media sosial sangat cepat memengaruhi persepsi publik. Karena itu, orang tua dituntut lebih cermat dalam memilah informasi yang beredar.

Sebelum memercayai suatu klaim kesehatan, orang tua perlu memeriksa latar belakang pembuat konten, kompetensi keilmuan yang dimiliki, serta rujukan sumber ilmiah yang digunakan.

Konten yang valid umumnya mencantumkan referensi yang jelas. Pengecekan ini penting mengingat perilaku tertentu pada anak tidak serta-merta menandakan bahwa anak mengidap kondisi neurodivergen.

Selain media sosial, Erna juga menekankan agar orang tua tidak mengandalkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menegakkan diagnosis. Meskipun AI mampu merangkum jawaban dengan cepat, penjelasannya tidak bisa menggantikan pemeriksaan komprehensif dari tenaga medis.

Hasil olahan AI hanya berdasarkan pengumpulan data dari teks di internet, sehingga tidak bisa dijadikan tolok ukur pasti kondisi medis anak.

Jika muncul kekhawatiran terkait tumbuh kembang anak, langkah paling tepat adalah berkonsultasi langsung ke dokter spesialis anak, psikolog, atau tenaga kesehatan terkait.

Sesi konsultasi profesional hendaknya dimanfaatkan untuk mengonfirmasi seluruh temuan atau keraguan yang diperoleh dari media sosial, sehingga penanganan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan nyata sang anak.

"Orangtua harus memaksimalkan waktu konsultasi dan banyak bertanya untuk mengonfirmasi tiap informasi yang sudah didapatkan dari media sosial sebelumnya," ujar Erna.

Terkini