TNI AL dan Angkatan Laut China Bakal Latihan Bersama di Taiwan

Rabu, 12 Agustus 2026 | 18:51:02 WIB
Kadet dari Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China melakukan kunjungan persahatan ke Surabaya, Jawa Timur [FOTO: NET].

JAKARTA - Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China bersama jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI) diagendakan bakal melaksanakan latihan navigasi maritim bersama di kawasan perairan yang terletak di sebelah timur Pulau Taiwan.

“Pada pertengahan Agustus, kapal Angkatan Laut China Honghe akan bersama kapal fregat Angkatan Laut Indonesia menggelar latihan navigasi di perairan sebelah timur Pulau Taiwan,” demikian disebutkan dalam laman Kementerian Pertahanan China di Beijing, Rabu (12/8/2026).

Titik koordinat perairan sebelah timur Taiwan tersebut berada persis di sisi timur Pulau Taiwan, membentang menghadap langsung ke arah Samudra Pasifik serta Laut Filipina, sehingga lokasi pelaksanaan dipastikan tidak berada di dekat wilayah teritorial Indonesia ataupun kawasan Laut China Selatan.

“Latihan tersebut akan berfokus pada sejumlah materi, antara lain latihan komunikasi dan pengisian ulang perbekalan di laut. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan operasi bersama angkatan laut kedua negara, memperdalam kerja sama pragmatis kedua pihak, serta bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan,” demikian disebutkan dalam pernyataan tersebut.

Agenda latihan gabungan ini diselenggarakan selang tidak lama pascakeputusan Departemen Luar Negeri Filipina yang secara resmi mengumumkan penyerahan peta laut otentik terkait garis pangkal normal serta ruang lingkup kewenangan yurisdiksinya atas wilayah perairan Scarborough Shoal kepada pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 29 Juli 2026.

Langkah diplomatik tersebut, menurut klaim pihak Filipina, dimaksudkan demi mengukuhkan tingkat transparansi serta kepastian hukum yang kuat atas kepemilikan hak-hak maritim negara tersebut.

Wilayah perairan Scarborough Shoal, atau yang lazim dikenal sebagai Bajo de Masinloc menurut penamaan Filipina serta Huangyan Dao bagi pihak China, turut populer dengan sebutan Beting Scarborough. Formasi geografis gugusan terumbu karang melingkar itu berjarak kurang lebih sekitar 230 kilometer dari garis pantai Filipina dan membentang sejauh 1.000 kilometer dari Pulau Hainan, China.

Kendati demikian, juru bicara Kementerian Pertahanan China, Kolonel Senior Chen Xi, pada hari Jumat (7/8) dengan tegas menyatakan bahwa Pulau Huangyan merupakan teritori wilayah yang secara inheren mutlak menjadi bagian integral dari kedaulatan China.

“China secara terus-menerus, damai, dan efektif menjalankan kedaulatan serta yurisdiksi terhadap Pulau Huangyan dan merupakan satu-satunya negara yang memiliki hak untuk menetapkan garis pangkal laut teritorial Pulau Huangyan berdasarkan hukum internasional,” kata Chen Xi dalam laman Kementerian Pertahanan China.

Menurut kacamata Chen Xi, langkah kebijakan Filipina yang menyerahkan peta laut resmi kepada PBB tersebut dinilai telah mencederai dan melanggar secara serius kedaulatan teritorial China, kaidah hukum internasional, serta norma-norma fundamental pergaulan hubungan antarnegara.

“Tindakan tersebut ilegal dan tidak memiliki keabsahan. Kegiatan latihan yang diselenggarakan China merupakan peringatan keras terhadap tindakan pelanggaran hak dan provokasi Filipina, sekaligus merupakan langkah yang diperlukan untuk mempertahankan kedaulatan serta hak dan kepentingan China atas Pulau Huangyan,” tambah Chen Xi.

Chen Xi secara tegas menekankan bahwa pelaksanaan latihan militer di sekitar kawasan Pulau Huangyan tersebut sepenuhnya memiliki landasan legitimasi yang sah serta dapat dibenarkan secara hukum.

“Perlu ditegaskan bahwa sejak memperoleh kemerdekaan pada 1946 hingga sekarang, Filipina berulang kali menggunakan hukum internasional sebagai dalih untuk, melalui legislasi domestik, memperluas klaim wilayah teritorial dan wilayah laut yang berada di bawah yurisdiksinya,” ungkap Chen Xi.

Rangkaian latihan di perairan sebelah timur Taiwan itu sendiri turut dihelat beriringan menyusul momentum kunjungan persahabatan armada Gugus Kapal 83 Angkatan Laut PLA yang baru saja merapat di Pelabuhan Surabaya, Jawa Timur, pada rentang tanggal 2 hingga 6 Agustus 2026 lalu.

Selama agenda lawatan muhibah di tanah air, rombongan Gugus Kapal 83 sempat melaksanakan serangkaian kunjungan protokoler kehormatan kepada para petinggi jajaran militer serta pejabat pemerintahan Indonesia. Para taruna kadet beserta personel militer aktif PLA juga menyempatkan diri menyambangi Akademi Angkatan Laut (AAL) Indonesia guna berpartisipasi dalam ajang pertandingan olahraga persahabatan serta menggelar forum interaksi salon budaya bersama para taruna kadet AL Indonesia.

Di samping itu, sewaktu kapal-kapal perang Angkatan Laut PLA tersebut tengah bersandar di dermaga Pelabuhan Tanjung Perak, kalangan masyarakat umum Indonesia, warga negara asing asal China yang bermukim di Indonesia, serta perwakilan unsur militer Indonesia diberikan kesempatan istimewa untuk menaiki kapal layar latih kebanggaan mereka, yakni Qijiguang.

Sebagai bentuk timbal balik keakraban diplomasi militer, para taruna kadet Angkatan Laut China juga memperoleh kesempatan berkunjung ke atas geladak kapal layar latih kebanggaan TNI AL, KRI Bima Suci, yang tercatat telah mengukir rekam jejak tiga kali kunjungan muhibah ke daratan China, yakni masing-masing pada tahun 2019, 2024, serta terakhir pada bulan Mei 2026.

Terkini