Pemprov Jateng Dorong Pemerataan Bauran Energi Terbarukan di Wilayah

Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:07:02 WIB
Wagub Jateng, Taj Yasin saat Sosialisasi 4 Pilar MPR RI bertema Penguatan Ketahanan Energi Nasional di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu 12 Agustus 2026.

JAKARTA - Provinsi Jawa Tengah mencatatkan realisasi bauran energi baru dan terbarukan (EBT) menyentuh angka 22,33 persen sepanjang tahun 2025, sukses menembus target Rencana Umum Energi Daerah (RUED) yang dipasang pada level 21,32 persen.

Pencapaian positif tersebut kini dimanfaatkan sebagai fondasi utama untuk memperluas jangkauan pemanfaatan energi hijau secara merata ke berbagai wilayah kabupaten dan kota.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menegaskan bahwa akselerasi energi terbarukan wajib memberikan dampak positif yang nyata dan merata bagi seluruh lapisan warga.

Pernyataan itu disampaikan dalam agenda Sosialisasi 4 Pilar MPR RI bertema Penguatan Ketahanan Energi Nasional yang berlangsung di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu (12/8).

Di samping memperkokoh pasokan energi lokal, pemerataan EBT diyakini mampu memantik laju pertumbuhan ekonomi serta mengangkat tingkat kesejahteraan masyarakat.

“Kami butuh energi terbarukan itu benar-benar bisa merata di Jawa Tengah. Kami butuh ekosistem di Jawa Tengah tumbuh tapi tidak merusak lingkungan,” kata Taj Yasin.

Taj Yasin menilai ekspansi energi hijau tidak boleh hanya berpusat pada ketersediaan pasokan semata, tetapi juga wajib memprioritaskan kelestarian lingkungan dan ruang hidup warga sekitar.

Mengingat daya tarik investasi di Jawa Tengah terus mengalami lonjakan, pemenuhan kebutuhan pasokan daya harus tetap menjaga mutu lingkungan hidup.

Capaian bauran yang melebihi target ini membuktikan besarnya potensi EBT di Jawa Tengah, mulai dari energi surya, panas bumi, hidro, biomassa, hingga biogas yang tersebar melimpah.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memacu berbagai proyek ramah lingkungan, seperti pembangunan PLTS, PLTS terapung, pemanfaatan panas bumi, PLTM/PLTMH, serta pengolahan limbah berbasis biomassa.

Penguatan potensi lokal ini diperjelas melalui program Desa Mandiri Energi, penggunaan pompa air tenaga surya untuk sektor pertanian, pemanfaatan biogas limbah peternakan, hingga program Eco Pesantren.

Taj Yasin menambahkan, pengembangan EBT tidak sekadar menambah volume daya, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru, membuka peluang investasi, dan menggerakkan roda ekonomi kerakyatan.

Inisiatif ini tergolong strategis guna mengatasi tantangan ketergantungan nasional terhadap impor energi minyak fosil dari luar negeri.

Sementara itu, Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menyoroti kekayaan sumber daya energi Indonesia yang melimpah, namun membutuhkan optimalisasi tata kelola agar ketergantungan impor dapat ditekan.

Peluang pemanfaatan energi surya, angin, air, dan geotermal dipandang sebagai opsi strategis untuk mewujudkan pembangunan nasional yang berwawasan lingkungan.

“Kami tingkatkan sumber energi terbarukan supaya kami punya pembangunan berkelanjutan. Tidak merusak lingkungan, seperti yang disampaikan Pak Wagub,” ujarnya.

Eddy menegaskan bahwa pemanfaatan EBT secara luas di seluruh pelosok negeri akan menjadi fondasi utama bagi terciptanya kemandirian energi nasional secara berdikari.

“Kalau kami kembangkan sumber-sumber energi terbarukan yang ada di seluruh Indonesia, rasanya kami enggak perlu impor lagi. Rasanya ketahanan energi kami bisa kami kuatkan,” ucapnya.

Terkini