Kebiasaan Anak Suka Makan Ingus, Perlukah Orangtua Khawatir?

Kamis, 13 Agustus 2026 | 03:30:31 WIB
Ilustrasi anak pilek [FOTO: NET].

JAKARTA - Pernaihan tabiat buah hati yang gemar mengorek rongga hidung lantas menelan lendir atau ingus yang keluar kerap kali memantik rasa cemas sekaligus resah di benak para orangtua. Padahal, fenomena perilaku yang lumrah dijumpai ini tidak serta-merta mengindikasikan adanya suatu gangguan medis tertentu.

Merujuk pada ulasan dari laman Live Science, kebiasaan memasukkan jari ke hidung dan memakan ingus dikenal secara ilmiah dengan istilah mukofagi. Aktivitas semacam ini ternyata tidak sebatas eksklusif dijumpai pada kalangan anak-anak saja, sebab sejumlah individu dewasa pun secara jujur mengaku pernah atau bahkan masih rutin melakukannya.

Sebagai ilustrasi, hasil riset yang melibatkan sebanyak 200 orang remaja di India pada tahun 2001 silam mendapati temuan bahwa nyaris seluruh partisipan mengaku pernah melakukan kegiatan mengorek hidung. Bahkan, sembilan di antara mereka terang-terangan menyatakan rutin memakan lendir yang berasal dari hidung.

Kendati demikian, motif dasar di balik dorongan seseorang—khususnya anak kecil—untuk memakan ingus masih tergolong minim diteliti secara mendalam.

Sejumlah pakar menduga bahwa kebiasaan unik ini berkaitan erat dengan dorongan rasa ingin tahu yang tinggi, pembentukan pola kebiasaan otomatis, ataupun respon atas kondisi rongga hidung yang sedang terasa kurang nyaman.

Mengapa anak suka makan ingus?

Seorang ahli biologi evolusi bernama Anne Claire Fabre dalam laporannya di Live Science menyebutkan bahwa tabiat serupa ternyata juga dapat diamati pada pelbagai spesies primata tertentu. Menurut analisisnya, komponen pembentuk ingus sebagian besar terdiri dari gas udara, sementara sisa komposisinya mengandung protein, zat karbohidrat, serta garam.

“Ada kemungkinan hewan mendapatkan manfaat dari mengonsumsi komponen-komponen ini,” kata Fabre.

Kendati demikian, temuan tersebut belum cukup kuat untuk dijadikan landasan menyimpulkan bahwa manusia turut mengecap manfaat kesehatan serupa dari kebiasaan memakan ingus.

Bagi kalangan anak-anak, aksi tersebut lazimnya dilatarbelakangi oleh gelora rasa penasaran yang besar. Proses belajar anak pada umumnya ditempuh melalui metode eksplorasi terhadap lingkungan sekitar, yang turut mencakup pengenalan organ tubuh mereka sendiri beserta segala sesuatu yang berhasil mereka temukan.

“Anak-anak belajar dengan menjelajah dan terkadang, itu berarti menjelajahi diri mereka sendiri,” ujar Fabre.

Manakala area hidung dirasa gatal atau dijumpai tumpukan lendir yang mengganggu pernapasan, sang anak lazimnya akan refleks mengoreknya demi meredakan rasa tidak enak tersebut. Selepas ingus berhasil dikeluarkan, dorongan rasa penasaran selanjutnyalah yang menuntun anak untuk mencicipinya.

Di samping faktor rasa ingin tahu, tekstur fisik serta sensasi rasa asin yang khas dari ingus juga disinyalir mampu memikat ketertarikan sebagian orang.

Pada kasus tertentu, aktivitas mengorek hidung bahkan bertransformasi menjadi sebuah kebiasaan mekanis yang dilakukan tanpa sadar atau difungsikan sebagai mekanisme penenang diri (self-soothing).

Walau demikian, hingga saat ini belum ada satupun literatur bukti sahih yang menunjukkan bahwa konsumsi ingus sanggup mendongkrak sistem imunitas kekebalan tubuh. Oleh karena itu, para orang tua sangat tidak disarankan memandang kebiasaan ini sebagai metode alami pelindung anak dari ancaman penyakit.

Apakah makan ingus bisa bikin sakit?

Tindakan menelan ingus sesekali waktu dipastikan tidak serta-merta langsung memicu jatuhnya anak jatuh sakit. Sejatinya, sebagian besar produksi lendir normal yang dihasilkan oleh tubuh manusia pada akhirnya memang akan tertelan secara tidak sadar.

Fungsi utama dari lendir hidung sendiri adalah sebagai filter alami penjebak debu, serbuk sari bunga, partikel kotoran, serta pelbagai mikroorganisme asing yang berupaya masuk melalui saluran pernapasan. Organ tubuh kemudian mengalirkan lendir kotor tersebut menuju area tenggorokan sebelum akhirnya diteruskan masuk ke dalam saluran cerna.

"Apakah ada bakteri dan zat lain di dalam ingus? Tentu saja," kata dokter perawatan primer Matthew Badgett, MD dalam penjelasannya di Cleveland Clinic.

Kendati demikian, benda-benda asing yang berhasil terperangkap di dalam cairan lendir hidung tersebut pada dasarnya memang tetap akan bermuara di tenggorokan dan lambung lewat mekanisme fisiologis normal.

Selepas masuk ke pencernaan, zat-zat tersebut bakal berpapasan dengan cairan lambung yang memiliki tingkat keasaman sangat tinggi. Kondisi lingkungan yang sangat asam ini berfungsi sebagai garis pertahanan utama lini pertama tubuh guna memusnahkan beragam jenis mikroorganisme patogen yang turut terbawa masuk lewat makanan ataupun lendir.

Walaupun demikian, bukan berarti buah hati dibiarkan begitu saja memelihara kebiasaan tersebut tanpa koreksi. Perlu diingat bahwa ingus bukanlah sumber asupan nutrisi yang bergizi, dan kegiatan mengorek hidung menggunakan tangan yang kotor justru berpotensi melipatgandakan risiko penularan kuman penyakit.

Perlukah orangtua khawatir?

Ayah dan bunda sama sekali tidak perlu merasa panik berlebihan manakala mendapati anak sesekali kedapatan mengorek hidung lalu memakan ingusnya. Hal yang jauh lebih esensial untuk dilakukan adalah menanamkan edukasi disiplin menjaga kebersihan diri tanpa perlu membuat si kecil merasa dipermalukan atau dimarahi secara kasar.

Telapak tangan maupun jari jemari yang dipakai untuk mengorek hidung berpotensi besar membawa muatan kuman. Oleh sebab itu, anak hendaknya dibiasakan untuk memakai selembar tisu saat membersihkan kotoran hidung serta disiplin mencuci tangan menggunakan sabun setelahnya.

Kendati demikian, orangtua wajib meningkatkan kewaspadaan apabila tabiat tersebut dilakukan secara terus-menerus tanpa henti hingga memicu timbulnya luka lecet ataupun pendarahan di dalam hidung.

Apabila pola perilaku anak terbukti sangat sulit dikendalikan serta mulai mengganggu kelancaran aktivitas harian mereka, sudah sepatutnya hal tersebut dikonsultasikan langsung kepada tenaga medis profesional.

Kesimpulannya, fenomena anak yang sesekali kedapatan memakan ingus pada dasarnya bukanlah indikasi darurat yang langsung menuntut kekhawatiran berlebih.

Alih-alih melancarkan reaksi amarah, para orangtua dapat membimbing sang anak secara sabar dan perlahan guna memahami pentingnya menjaga higienitas area hidung serta mengalihkannya ke kebiasaan hidup yang jauh lebih sehat.

Terkini