Konstruksi Smelter Nikel HPAL Vale di Pomalaa Tuntas 100 Persen

Kamis, 13 Agustus 2026 | 06:32:32 WIB
Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia Tbk Budiawansyah.

JAKARTA - Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia Tbk Budiawansyah menyampaikan bahwa pembangunan fisik serta mekanis smelter nikel high pressure acid leach (HPAL) di Blok Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara, telah selesai dan mulai memasuki tahapan uji coba pengoperasian.

"Sudah (tuntas) konstruksi. Satu line sudah mechanical completion. Konteks mechanical completion sudah selesai, sudah 100 persen," ujar Budi ketika dijumpai di Jakarta, Kamis.

Budi mengungkapkan bahwa saat ini fasilitas smelter nikel HPAL di kawasan Blok Pomalaa tersebut tinggal menjalani tahap pengujian sistem pengoperasian.

Proses uji coba pengoperasian tersebut, menurut penuturan Budi, baru bisa dieksekusi apabila seluruh struktur fisiknya rampung dikerjakan.

Ia juga menegaskan bahwa proses uji coba pengoperasian atau tes commissioning ini diproyeksikan tidak akan menelan waktu yang lama.

Oleh sebab itu, Budi menambahkan bahwa fasilitas pemurnian nikel HPAL di Blok Pomalaa sejatinya sudah berada dalam kondisi siap untuk beroperasi secara penuh.

"Nggak lama (uji cobanya). Yang penting kan fisiknya tuh siap beroperasi. Tinggal nunggu hari baik," ujar Budi.

Sebelumnya, PT Vale Indonesia Tbk menargetkan operasional smelter nikel berbasis HPAL di Pomalaa dapat mulai berjalan pada triwulan ketiga 2026, lebih cepat dari estimasi awal pada triwulan keempat 2026.

Fasilitas smelter nikel HPAL di Pomalaa ini dirancang untuk mampu memproduksi sekitar 120 ribu ton nikel dalam wujud mixed hydroxide precipitate (MHP).

Komoditas MHP sendiri hadir dalam bentuk serbuk berwarna hijau keabu-abuan yang memuat persenyawaan nikel serta kobalt hidroksida, sekaligus menjadi komponen bahan baku utama dalam industri pembuatan baterai kendaraan listrik (EV).

Adapun kegiatan penambangan di wilayah Blok Pomalaa diperkirakan mampu mendulang bijih nikel hingga 7 juta wet metric ton (wmt) saprolite serta 21 juta wmt limonite untuk setiap tahunnya.

Terkini