Bank Indonesia Sebut Digitalisasi dan Uang Tunai Saling Melengkapi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 23:29:02 WIB
Asisten Gubernur Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia Anwar Bashori [FOTO: NET].

JAKARTA - Asisten Gubernur Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Anwar Bashori, menyatakan bahwa transformasi penggunaan instrumen pembayaran digital bukanlah berfungsi untuk menggantikan eksistensi rupiah fisik, melainkan sebagai bentuk pelengkap seiring dengan dinamika perkembangan model transaksi keuangan yang terus berubah mengikuti perkembangan zaman.

“Digitalisasi luar biasa kenaikannya, tapi Bank Indonesia mengatakan bahwa antara digitalisasi dengan cash itu adalah bukan saling menggantikan, tapi komplementari, saling melengkapi,” kata Anwar saat ditemui media dalam acara pembukaan Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (Ferbi) 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Anwar menuturkan bahwa Bank Indonesia selalu berkomitmen mendukung percepatan digitalisasi transaksi keuangan di tanah air, salah satunya diwujudkan melalui masifnya perluasan penggunaan QRIS di berbagai pelosok wilayah Indonesia.

Kendati demikian, kondisi geografis Indonesia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau serta tantangan konektivitas jaringan telekomunikasi yang belum merata di sejumlah daerah menjadikan keberadaan uang rupiah kertas dan logam masih memegang peranan yang sangat vital dalam menopang perputaran roda ekonomi kerakyatan.

Ia memberikan contoh nyata pada wilayah-wilayah terpencil yang memiliki keterbatasan akses internet serta tingkat literasi keuangan yang belum merata seperti di Pulau Jawa. Kondisi tersebut menuntut Bank Indonesia untuk tetap konsisten mengedarkan rupiah fisik serta rutin melakukan penggantian uang layak edar setiap tahunnya melalui kerja sama khusus dengan jajaran patroli Angkatan Laut guna mendistribusikan pasokan uang ke daerah 3T.

“Kalau di Jakarta, kalau ada namanya uang kurang bagus, bisa kami ATM ada, setiap waktu bisa kami dropping, tapi kalau wilayah terpencil itu cycle-nya cukup lama karena medannya nggak bisa, tapi karena harus hadir kami dengan kapal laut untuk mengganti, setiap tahun itu mengganti tempat-tempat yang terpencil itu kami ganti uangnya,” kata Anwar.

Ia menambahkan bahwa penggunaan uang fisik juga terbukti sangat esensial sebagai alat tukar utama bagi para pedagang dan pembeli di pasar-pasar tradisional yang sebagian besar belum terintegrasi dengan ekosistem digital keuangan seperti layanan QRIS.

Di samping itu, keberadaan uang kertas lembaran juga masih sangat diandalkan masyarakat guna melestarikan tradisi silaturahmi, seperti berbagi bingkisan angpao pada momen perayaan Hari Raya Lebaran maupun hari-hari besar keagamaan lainnya.

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa pada situasi darurat tatkala terjadi bencana alam, kebutuhan terhadap uang kartal mutlak tidak tergantikan lantaran sistem transaksinya sama sekali tidak bergantung pada kestabilan pasokan listrik ataupun jaringan telekomunikasi.

“Hal-hal itu yang terus kami perhatikan, dan tidak ada negara satu pun negara ini yang meninggalkan uang kartal, digitalisasi bukan substitusi, tapi saling melengkapi,” kata Anwar.

Terkini