Ekspor Perdana 1.000 Ton Beras ke Malaysia Jadi Kado HUT Ke-81 RI

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 17:47:34 WIB
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani [FOTO: NET].

JAKARTA - Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyampaikan bahwa pelaksanaan ekspor perdana sebanyak 1.000 ton beras premium ke negara Malaysia merupakan kado istimewa yang dipersembahkan dalam rangka menyambut peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Republik Indonesia.

"Menjelang HUT Ke-81 Kemerdekaan RI, kami menunjukkan dengan kerja keras petani, dukungan pemerintah, dan pengelolaan pangan yang baik, Indonesia memiliki kekuatan stok yang memungkinkan kami untuk mulai menembus pasar internasional,” kata Rizal di Jakarta, Sabtu (15/8/2026).

Sebelumnya, pihak Perum Bulog bersama dengan Padi dan Beras Borneo Sdn. Bhd., yang merupakan perusahaan asal Malaysia, telah melaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) terkait rencana ekspor beras premium komersial asal Indonesia menuju Malaysia. Penandatanganan tersebut disaksikan secara langsung oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta pada Jumat (14/8) malam.

Menurut Rizal, penandatanganan MoU ini merupakan sebuah momentum berharga sekaligus persembahan terbaik menjelang perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81.

Ia menuturkan bahwa di tengah semangat kemerdekaan, Indonesia menunjukkan pencapaian kemandirian pangan yang kian kokoh, sehingga membuka kesempatan bagi bangsa untuk tidak sekadar mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri, melainkan turut mengambil bagian dalam percaturan perdagangan pangan tingkat regional.

Saat ini, jumlah Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang berada di bawah pengelolaan Bulog tercatat mencapai angka sekitar 5,2 juta ton. Besarnya kekuatan stok tersebut menjadi salah satu bukti nyata membaiknya kondisi sektor perberasan nasional, yang memberikan kapasitas bagi Indonesia untuk menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat sekaligus memperluas peluang bisnis ekspor beras premium secara komersial.

Dalam rancangan kerja sama tersebut, pengiriman tahap awal komoditas beras premium ke Malaysia direncanakan sebesar 1.000 ton, dengan potensi volume perdagangan lanjutan yang diperkirakan bisa mencapai hingga 200.000 ton per tahunnya.

Rizal menegaskan bahwa langkah ini menjadi tonggak penting bagi Bulog guna memperkuat pilar bisnis komersial, memperluas jangkauan pasar, serta mendongkrak daya saing produk pangan Indonesia di kancah regional maupun global.

"Prioritas Bulog tetap menjaga ketahanan pangan nasional. Namun, ketika stok kuat dan kebutuhan dalam negeri aman, kami memiliki kesempatan untuk mengembangkan bisnis komersial, termasuk ekspor beras premium," katanya.

"Ini merupakan bentuk kepercayaan diri bahwa Indonesia bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga memiliki produk yang dapat dipasarkan ke negara lain,” katanya menambahkan.

Lebih lanjut, Rizal menjelaskan bahwa langkah strategis ini merupakan bagian integral dari proses transformasi perusahaan guna memperkuat lini bisnis komersial serta memperluas jaringan pasar produk pangan Indonesia.

Dengan sokongan produksi domestik yang kuat, cadangan beras pemerintah yang melimpah, serta kerja sama yang sinergis antara pemerintah dan pelaku usaha, Indonesia mempunyai peluang besar untuk memperbaiki posisinya dalam peta perdagangan pangan regional.

Perum Bulog berkomitmen untuk terus merajut sinergi bersama pemerintah dan para mitra strategis, baik di dalam negeri maupun luar negeri, demi memastikan pengelolaan beras nasional tetap berada pada titik keseimbangan antara ketahanan pangan, stabilitas pasokan, peningkatan kesejahteraan petani, dan pengembangan pasar komersial.

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa penandatanganan MoU ekspor beras tersebut merupakan sebuah pencapaian yang membanggakan karena momennya bertepatan dengan menjelang perayaan HUT Ke-81 Republik Indonesia.

"Hari ini, ketika stok kami kuat mencapai sekitar 5,2 juta ton, kami mulai berbicara tentang ekspor. Ini menunjukkan bahwa Indonesia semakin kuat dan semakin percaya diri,” ujar Mentan.

Menurutnya, ketangguhan cadangan beras pemerintah menjadi fondasi utama dalam mengawal ketahanan pangan nasional, di mana ketersediaan stok yang aman memberi ruang bagi Indonesia untuk merambah pasar internasional tanpa sedikitpun mengorbankan kepentingan rakyat di dalam negeri.

“Ekspor bukan berarti kami mengurangi perhatian terhadap kebutuhan rakyat. Justru ekspor dilakukan karena kondisi kami sudah aman. Prioritas utama tetap kebutuhan dalam negeri," kata Amran.

Terkini