Menperin Sebut Industri Jadi Tulang Punggung Perekonomian Nasional

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 18:02:01 WIB
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita [FOTO: NET].

JAKARTA - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan pesan penting dari Presiden Prabowo Subianto mengenai esensi pertumbuhan ekonomi serta investasi yang harus mampu menghadirkan manfaat nyata secara langsung bagi masyarakat, sehingga semakin mempertegas posisi sektor industri sebagai tulang punggung utama perekonomian nasional.

"Bapak Presiden menegaskan bahwa pertumbuhan dan investasi bukanlah tujuan akhir, tetapi instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Setiap investasi harus mampu menciptakan pekerjaan dan setiap kebijakan harus memperbaiki kehidupan masyarakat. Bagi Kementerian Perindustrian, arahan ini semakin memperkuat tekad kami untuk menjalankan industrialisasi yang inklusif, berdaya saing, dan memberikan nilai tambah sebesar-besarnya di dalam negeri," kata Menperin, dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu (15/8/2026).

Di dalam pidato kenegaraannya di Gedung Parlemen, Jakarta, pada hari Jumat (14/8/2026), Presiden Prabowo menekankan bahwa di tengah situasi dinamika global yang diwarnai oleh konflik geopolitik, perang dagang, gangguan pada rantai pasok, serta tekanan ekonomi dunia, Indonesia dituntut untuk semakin mandiri dan mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Agus menjelaskan bahwa berbagai arahan strategis dari Presiden tersebut diterjemahkan oleh pihaknya melalui penerapan konkrit Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN).

Strategi tersebut dirancang khusus untuk memperkokoh struktur industri nasional, mempercepat proses hilirisasi, mendongkrak nilai tambah, menggenjot produktivitas serta daya saing, memperluas jangkauan pasar, hingga menciptakan lapangan kerja yang berkualitas.

Menurutnya, arah kebijakan industrialisasi tidak boleh sekadar berorientasi pada pencapaian angka pertumbuhan semata, melainkan harus memastikan bahwa nilai tambah ekonomi yang dihasilkan semakin besar dan dapat dinikmati secara merata di dalam negeri.

Menperin menilai bahwa kebijakan penguatan sektor industri sejauh ini telah membuahkan hasil yang positif. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja industri pengolahan nonmigas pada triwulan II 2026 tercatat tumbuh sebesar 5,32 persen secara tahunan atau year on year (yoy), melampaui angka pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama yang berada di level 5,29 persen.

Di samping mencatatkan pertumbuhan di atas rata-rata ekonomi nasional, sektor industri pengolahan turut memberikan sumbangsih besar dengan kontribusi sebesar 18,50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga tetap memegang status sebagai kontributor terbesar dalam struktur perekonomian Indonesia.

Lebih lanjut, industri pengolahan juga bertindak sebagai sumber utama penggerak pertumbuhan ekonomi dengan besaran kontribusi mencapai 0,90 persen.

Kinerja gemilang dari industri nasional ini turut tecermin melalui sejumlah indikator aktivitas manufaktur yang terpantau stabil.

Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) berada pada posisi level 52,31, sementara Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia periode Juli 2026 bertengger di level 50,2, dan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada bulan yang sama berhasil mencapai angka 53,10.

"Capaian ini menunjukkan bahwa kebijakan Presiden yang memberikan keberpihakan kuat terhadap sektor industri telah menghasilkan dampak yang konkret. Manufaktur bukan hanya tumbuh, tetapi pertumbuhannya mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Ini menjadi modal yang sangat penting untuk terus memperbesar peranan industri sebagai motor penggerak ekonomi," tutur Menperin.

Menperin menegaskan bahwa pihak pemerintah akan terus mengawal dan menjaga momentum positif tersebut melalui berbagai kebijakan yang mampu menjamin kepastian berusaha, memperkuat pasar domestik, menarik minat investasi, serta menciptakan iklim persaingan industri yang semakin kompetitif.

Ia juga menekankan bahwa program hilirisasi harus terus diperluas cakupannya agar tidak berhenti pada tahapan pengolahan komoditas menjadi produk antara saja. Hilirisasi perlu diarahkan secara berkesinambungan hingga mampu menghasilkan produk akhir yang memiliki nilai tambah tinggi, sekaligus memperkuat ekosistem industri di dalam negeri.

Menurut Agus, setiap aliran investasi yang masuk ke Indonesia harus mampu memberikan efek limpahan (multiplier effect) yang luas bagi perekonomian, termasuk dalam hal penciptaan lapangan kerja, penguatan rantai pasok domestik, pemanfaatan produk dalam negeri, pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta berlangsungnya proses alih teknologi.

Menperin menambahkan bahwa upaya penguatan industri nasional juga mutlak memerlukan dukungan pasar domestik yang kuat dan tangguh.

Agus menegaskan bahwa Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan terus konsisten mengawal seluruh arahan Presiden melalui perumusan kebijakan yang pro-industri, yang menitikberatkan pada penguatan struktur industri, hilirisasi, substitusi impor, transformasi teknologi, pengembangan industri hijau, peningkatan kompetensi SDM, serta perluasan pasar di dalam maupun luar negeri.

"Pesan Bapak Presiden sangat jelas bahwa Indonesia harus semakin mampu berdiri di atas kaki sendiri. Bagi kami, salah satu fondasi utama untuk mewujudkannya adalah industri nasional yang kuat dan berdaulat. Karena itu, momentum pertumbuhan manufaktur yang saat ini sudah melampaui pertumbuhan ekonomi nasional harus terus kami jaga dan tingkatkan," tegas Agus.

Terkini