Alasan Pentingnya Mengecek UV Index Demi Menjaga Kesehatan Kulit

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 22:16:01 WIB
Ilustrasi perempuan di bawah sinar matahari [FOTO: NET].

JAKARTA - Sebelum memutuskan untuk memulai berbagai aktivitas di luar ruangan, sebagian masyarakat mungkin terbiasa sekadar memantau prakiraan cuaca guna mengetahui apakah kondisi hari ini akan cerah atawa turun hujan. Kendati demikian, terdapat satu informasi krusial lainnya yang juga patut dicermati, yakni indeks ultraviolet atau yang biasa dikenal sebagai UV index.

Kehadiran UV index merepresentasikan tingkat intensitas paparan radiasi ultraviolet yang bersumber dari cahaya matahari hingga mampu mencapai permukaan bumi. Informasi penting ini dapat dimanfaatkan sebagai acuan dasar dalam menentukan perlindungan kulit yang tepat, khususnya tatkala seseorang hendak beraktivitas di luar ruangan.

Seorang dermatolog, dr. Hafiza Fathan, Sp.DVE, FINSDV, mengungkapkan bahwa paparan sinar ultraviolet pada dasarnya sudah mulai terpancar sejak detik-detik matahari terbit. Walau demikian, kadar tingkat paparannya menunjukkan variasi yang berbeda-beda sepanjang hari.

“Banyak yang belum tahu bahwa paparan UV itu dimulai dari matahari terbit. Namun yang membedakan adalah kadar UV exposure setiap jam,” ujarnya dalam acara Wardah AM Club di Jakarta Pusat, Rabu (12/8/2026).

Penerapan perlindungan diri terhadap paparan sinar UV semestinya tidak hanya dipikirkan pada saat kondisi matahari sudah terasa menyengat. Perubahan tingkat UV yang fluktuatif sepanjang waktu menuntut masyarakat agar lebih peka dalam memahami kondisi paparan di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Menurut pandangan dr. Hafiza, masyarakat yang tinggal di sejumlah negara lain telah lama menjadikan UV index sebagai salah satu instrumen informasi wajib sebelum mereka beraktivitas. Salah satu contoh nyata dapat dilihat di negara Australia, di mana informasi mengenai tingkat radiasi UV selalu disajikan berdampingan dengan laporan prakiraan cuaca harian.

“Contohnya, UV index ini kalau di Australia bukan hanya untuk ngecek weather forecast hari ini, tapi kita juga melihat UV index hari ini UV-nya seberapa, sehingga terbiasa menggunakan sunscreen sejak pagi,” jelasnya.

Kebiasaan semacam ini menjadikan masyarakat di sana tidak melulu mengandalkan kondisi fisik langit tatkala hendak menentukan perisai pelindung bagi kulit mereka. Tingkat UV index diposisikan sebagai pertimbangan utama mengingat cuaca yang cerah belum tentu menjadi satu-satunya indikator tunggal atas tingginya paparan sinar ultraviolet.

Keberadaan UV index berfungsi memberikan gambaran yang akurat mengenai seberapa besar tingkat kekuatan radiasi UV pada waktu-waktu tertentu. Berbekal informasi tersebut, seseorang dapat secara bijak menyesuaikan bentuk perlindungan diri sebelum melangkah keluar rumah.

Langkah antisipasi ini menjadi sangat esensial, terutama bagi kalangan masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi sejak pagi hari. Berbagai rutinitas seperti berolahraga, berjalan kaki menuju tempat beraktivitas, berangkat bekerja, ataupun agenda luar ruangan lainnya tetap berpotensi membuat kulit terpapar radiasi sinar UV secara langsung.

Lebih lanjut, dr. Hafiza memaparkan bahwa kondisi geografis Indonesia yang terletak tepat di wilayah ekuator menuntut masyarakatnya untuk memberikan perhatian ekstra terhadap ancaman paparan sinar UV. Posisi strategis ini membuat tingkat UV index di tanah air kerap berada pada kategori yang sangat tinggi.

“Indonesia itu negara ekuator dengan UV index yang bisa sangat tinggi. Kita tidak bisa menilai kalau hawanya panas UV indeksnya pasti tinggi, sebab panas tersebut akumulasi dari panas atmosfer sama permukaan yang gabung jadi satu,” kata dr. Hafiza.

Oleh karena itu, sensasi hawa panas yang dirasakan oleh tubuh sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai patokan mutlak untuk mengukur tingkat paparan UV. Udara panas yang kita rasakan di kulit merupakan hasil akumulasi dari berbagai faktor lingkungan, sedangkan UV index secara spesifik merefleksikan besaran radiasi ultraviolet yang diterima oleh permukaan bumi.

Pemahaman mendasar ini menjadi sangat penting agar masyarakat tidak semata-mata mengandalkan kondisi tubuh atau derajat suhu udara di sekitar ketika hendak memutuskan perlu atau tidaknya mengenakan produk pelindung kulit dari matahari.

Kondisi langit yang mendung kerap kali mengecoh sebagian orang hingga merasa bahwa mereka tidak memerlukan penggunaan tabir surya atau sunscreen. Padahal, situasi berawan tersebut sama sekali tidak serta-merta melenyapkan keberadaan paparan sinar UV di udara.

“Jadi jangan berpikir kalau mendung itu enggak usah pakai sunscreen, sebab kalau mendung juga masih asa paparan UV yang menembus. Misalnya sudah panas plus UV tinggi, maka potensi kerusakan kulit tambah besar,” ujar dr. Hafiza.

Berdasarkan alasan tersebut, kondisi cuaca di luar semestinya tidak dijadikan satu-satunya landasan utama dalam menentukan perlindungan kulit. Kendati wujud sinar matahari tidak tampak secara kasatmata, ancaman paparan radiasi UV tetap saja dapat berlangsung.

Dr. Hafiza menilai bahwa upaya perlindungan kulit yang optimal wajib mempertimbangkan dua aspek penting secara bersamaan, yakni faktor panas udara dan radiasi ultraviolet itu sendiri.

“Inilah mengapa kita harus memikirkan bagaimana kebutuhan photoprotection kita bisa mengakomodir keduanya, heat dan UV,” tuturnya.

Melalui pemahaman yang baik terhadap UV index serta kebiasaan untuk tidak sekadar berpatokan pada kondisi cuaca semata, masyarakat diharapkan mampu bertindak lebih bijak dalam merumuskan perlindungan diri saat berkegiatan di ruang terbuka. Penggunaan sunscreen pun pada akhirnya dapat menjelma sebagai bagian dari rutinitas harian yang tidak terpisahkan, termasuk diaplikasikan sejak pagi hari sebelum memulai pelbagai aktivitas.

Terkini