JAKARTA - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menjamin kerja sama lintas wilayah senantiasa terjaga guna memenuhi pasokan logistik bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Mendag Budi dalam keterangannya di Jakarta, Senin, menjelaskan pihaknya memaksimalkan penyaluran persediaan bahan pangan utama dari area terdekat NTT, seperti Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Jawa Timur, agar bantuan lebih sigap tiba di lokasi.
“Di NTT terus kami monitor distribusinya, jangan sampai terlambat. Jadi kami kami terus koordinasi dengan (provinsi) di sebelahnya, seperti NTB atau juga dari Jawa, karena dari Jawa ini kan banyak pasokan telur. Jawa Timur banyak pasokan telur,” kata dia.
Pihaknya menambahkan, langkah ini selaras dengan program Kemendag yang mengarahkan kesetaraan harga melalui skema temu bisnis (business matching) antarwilayah yang memerlukan pasokan pasokan serta mengalami deviasi harga pangan.
“Ketika daerah-daerah lain itu harganya naik, kami membuat namanya business matching antarwilayah. Jadi kami fasilitasi ya dengan dinas dan pelaku usahanya agar ketemu antara supplier dan pembeli yang ada di wilayah timur yang harganya mahal,” kata pria yang akrab disapa Busan tersebut.
Di samping itu, Kemendag terus melancarkan pengawasan terkait kebutuhan barang pokok beserta ketersediaan jalurnya ke kawasan terdampak bencana lewat kemitraan bersama distributor terdekat, Ditjen PDN Kemendag, dan pemerintah daerah.
“Kami juga sudah koordinasi dengan para distributor, terutama distributor yang ada di wilayah lain di provinsi terdekat, di NTB, misalnya. Kami sudah koordinasi untuk dengan pelaku usaha agar tetap menjaga pasokan-pasokan terutama pasca bencana ini di NTT,” ujar Mendag.
Sebagai informasi, guncangan gempa bumi bermagnitudo 7,7 sebelumnya melanda kawasan Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8) pukul 05.58 WITA.
Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Minggu (16/8) malam, tercatat 54 korban jiwa meninggal dunia, 199 orang menderita luka-luka, 9.963 jiwa mengungsi, dan 1.528 kepala keluarga (KK) terdampak.
BNPB turut mendata sebanyak 2.403 unit rumah mengalami kerusakan akibat guncangan di pesisir utara Pulau Flores tersebut, dengan perincian 1.543 rusak berat, 328 rusak sedang, serta 532 rusak ringan.
Sebanyak 22 sarana pendidikan mengalami kerusakan dan 88 bangunan sekolah lainnya terdampak oleh guncangan. Sementara itu, fasilitas pelayanan kesehatan yang terdampak menyentuh angka 211 unit, meliputi 21 rumah sakit serta 190 puskesmas.