Kebiasaan Saat BAB yang Harus Dihindari demi Kesehatan Pencernaan

Senin, 17 Agustus 2026 | 02:28:01 WIB
Ilustrasi kamar mandi [FOTO: NET].

JAKARTA - Buang air besar (BAB) merupakan sebuah proses alami yang dilakukan oleh tubuh untuk membuang sisa-sisa makanan yang memang sudah tidak lagi dibutuhkan. Walaupun kelihatan sederhana, berbagai kebiasaan yang dijalani ketika sedang berada di dalam toilet nyatanya dapat memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap tingkat kenyamanan serta kesehatan saluran pencernaan seseorang.

Merujuk pada penjelasan dari Cleveland Clinic, seorang dokter bedah kolorektal bernama Arielle Kanters, MD, mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah kebiasaan tertentu yang sebaiknya dihindari agar proses BAB dapat berlangsung dengan jauh lebih nyaman.

Beberapa contoh kebiasaan tersebut di antaranya adalah duduk di toilet terlalu lama, melakukan aktivitas mengejan secara berlebihan, hingga mengabaikan sinyal alami dari tubuh untuk segera BAB. Lebih dari itu, kebiasaan-kebiasaan buruk ini juga berpotensi meningkatkan risiko timbulnya berbagai masalah kesehatan, seperti hemoroid atau wasir, serta memperparah kondisi sembelit.

Lantas, apa saja daftar kebiasaan yang sebaiknya tidak dilakukan pada saat seseorang sedang menjalani proses BAB?

Ragam Kebiasaan Saat BAB yang Sebaiknya Dihindari

Mengejan terlalu kuat Mengejan dengan kadar yang sedikit pada saat BAB merupakan suatu hal yang tergolong wajar. Meskipun demikian, tindakan mengejan terlalu kuat serta dilakukan secara berulang-ulang sebaiknya tidak dibiarkan menjadi sebuah kebiasaan. 

Menurut Kanters, timbulnya tekanan yang berlebihan ketika seseorang mengejan dapat menaikkan tingkat tekanan pada area pembuluh darah di sekitar organ anus. Apabila pola ini dilakukan secara terus-menerus, kebiasaan tersebut berisiko besar memicu timbulnya berbagai gangguan kesehatan, termasuk penyakit wasir serta fisura ani atau robekan pada jaringan di sekitar anus.

Jika feses dirasakan sulit keluar secara konsisten, kondisi semacam ini seharusnya tidak diatasi sekadar dengan cara mengejan lebih kuat. Masalah susah buang air besar atau sembelit umumnya berkaitan dengan banyak faktor pemicu, meliputi kekurangan asupan serat, kurangnya cairan tubuh, minimnya aktivitas fisik, ataupun adanya kondisi medis tertentu.

Duduk terlalu lama di toilet Kebiasaan menghabiskan waktu dengan duduk berlama-lama di dalam ruang toilet, khususnya sambil menunggu proses BAB keluar, juga merupakan hal yang sangat dianjurkan untuk dihindari. Kanters memberikan saran agar durasi waktu yang dihabiskan di dalam toilet dibuat sesingkat mungkin dan idealnya diupayakan tidak lebih dari kisaran waktu lima menit saja.

Duduk terlalu lama di atas kloset terbukti mampu meningkatkan tekanan pada jaringan pembuluh darah di sekitar anus serta berkontribusi langsung terhadap munculnya masalah wasir. Apabila dorongan BAB tidak kunjung datang, seseorang tidak perlu terus menerus duduk memaksakan diri. Langkah yang jauh lebih bijak adalah beranjak keluar dari toilet dan baru kembali lagi nanti ketika tubuh memang telah mengirimkan sinyal nyata untuk BAB.

Membawa ponsel dan terlalu lama bermain di toilet Kegiatan bermain gawai atau ponsel ketika sedang berada di dalam toilet mungkin telah menjadi rutinitas harian bagi sebagian kalangan masyarakat. Akan tetapi, kebiasaan ini tanpa disadari dapat membuat durasi duduk di toilet menjadi jauh lebih panjang dari waktu yang semestinya diperlukan. Kanters menyarankan agar setiap orang menghindari kegiatan multitasking seperti melakukan scrolling lini masa media sosial, membaca artikel berita, ataupun membalas pesan singkat saat sedang berada di area toilet.

Berbagai aktivitas tersebut dapat membuat seseorang terlena hingga tidak sadar bahwa dirinya telah duduk terlalu lama di dalam toilet. Oleh karena itu, ruangan toilet semestinya difungsikan secara khusus untuk keperluan buang air besar saja, dan bukan dijadikan sebagai tempat untuk menghabiskan waktu luang bersama ponsel.

Memaksakan BAB saat belum ada dorongan Tidak semua orang diwajibkan untuk membuang air besar pada jam atau waktu yang persis sama setiap harinya. Oleh sebab itu, tindakan memaksakan diri duduk di dalam toilet semata-mata karena merasa sudah waktunya jadwal BAB tidak selalu menjadi hal yang wajib dilakukan.

Kanters menjelaskan lebih lanjut bahwa tubuh manusia sebenarnya memiliki mekanisme sinyal alami yang secara otomatis bertugas memberikan informasi ke otak apabila bagian usus sudah berada dalam kondisi siap untuk mengeluarkan sisa pencernaan. Apabila sensasi dorongan BAB tersebut belum juga muncul, seseorang tidak perlu merasa perlu untuk memaksakan prosesnya. Frekuensi BAB juga sangat mungkin berbeda antara satu individu dengan individu lainnya. Hal yang jauh lebih esensial adalah mengenali pola normal tubuh masing-masing serta peka terhadap setiap kemunculan perubahan yang bersifat menetap ataupun gejala-gejala sulit BAB.

Menahan BAB ketika sudah terasa ingin Sebaliknya, pada saat tubuh telah memberikan sinyal dan dorongan yang kuat untuk segera melakukan BAB, seseorang sebaiknya tidak terlalu sering mengabaikan panggilan alam tersebut. Berdasarkan keterangan dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), kebiasaan menunda atau mengabaikan dorongan untuk BAB dapat menjadi salah satu faktor utama yang memicu ataupun memperparah keluhan sembelit.

Jika perilaku menahan BAB ini dilakukan secara berulang-ulang, seseorang lambat laun akan semakin kesulitan untuk buang air besar, sementara konsistensi feses pun akan menjadi jauh lebih keras sehingga jauh lebih sukar untuk dikeluarkan. Oleh karena itu, penting sekali untuk selalu memberikan kesempatan kepada tubuh guna menjalankan proses BAB secara tepat waktu ketika dorongan tersebut memang sudah dirasakan.

Perhatikan Apabila Kebiasaan BAB Berubah

Pola kebiasaan BAB setiap orang tentu tidak pernah persis sama. Sebagian individu mungkin mendapati dirinya BAB beberapa kali dalam sehari, sementara yang lain barangkali hanya mengalaminya beberapa kali saja dalam kurun waktu satu minggu. Kendati demikian, segala bentuk perubahan pola buang air besar yang terjadi secara menetap dan tidak biasa sebaiknya tidak diabaikan begitu saja.

Pihak NIDDK menyebutkan bahwa kondisi sembelit pada umumnya dapat diidentifikasi melalui beberapa tanda klinis, seperti frekuensi BAB yang kurang dari tiga kali dalam rentang waktu seminggu, bentuk tinja yang terasa keras atau kering, hambatan atau rasa sakit saat proses BAB berlangsung, hingga munculnya sensasi bahwa kotoran belum keluar secara tuntas sepenuhnya.

Segera lakukan konsultasi medis dengan dokter apabila perubahan pola BAB tersebut turut dibarengi dengan kemunculan darah pada feses atau terjadinya perdarahan dari saluran anus, timbulnya rasa nyeri di bagian perut yang bersifat menetap, gejala muntah, demam, kesulitan buang angin, ataupun penurunan berat badan yang terjadi secara drastis tanpa diketahui penyebab pasti yang mendasarinya.

Terkini