PDRN Bahan Skincare Viral dari Sperma Salmon dan Efektivitasnya

Senin, 17 Agustus 2026 | 02:34:32 WIB
Ilustrasi Sedang Menggunakan Skincare.

JAKARTA - Industri kecantikan Korea Selatan seakan tidak pernah kehabisan inovasi unik. Saat ini, perhatian para pencinta perawatan kulit tertuju pada satu bahan aktif bernama polydeoxyribonucleotide atau PDRN. Bahan baku pembuatannya bersumber dari sperma ikan salmon.

Secara ilmiah, PDRN merupakan serpihan DNA yang diekstrak secara khusus dari sperma salmon. Bahan ini dipercaya sanggup meregenerasi sel sehingga kulit wajah tampak awet muda, dan kini mulai menjamur sebagai komposisi andalan dalam produk pelembap hingga serum harian.

"PDRN adalah bahan hasil daur ulang dari peternakan salmon industri makanan, bukan berarti orang memelihara salmon khusus untuk mendapatkan DNA ini," kata ahli kimia kosmetik Perry Romanowski, disadur dari Allure, Minggu (16/8/2026).

Gagasan mengoleskan turunan sperma salmon ke wajah mungkin terdengar tidak biasa. Namun, pemanfaatan ekstrak hewan untuk pengobatan medis sebenarnya telah lama diakui.

Sebelum dilirik sebagai serum penunda penuaan, PDRN lebih dulu populer di ranah medis melalui metode suntik guna menyembuhkan luka kronis seperti bisul diabetes. Sperma dipilih karena sel tersebut dinilai paling tepat untuk menghasilkan DNA murni tingkat tinggi tanpa risiko kotoran.

"PDRN telah digunakan dalam pengobatan regeneratif selama bertahun-tahun, terutama di Eropa dan Asia," terang dokter kulit di Hamden, Connecticut, Mona Gohara, MD.

"Ada penggunaan klinis PDRN suntik yang kredibel dalam ranah medis untuk penyembuhan luka maupun bisul, dan bahan ini umumnya dapat ditoleransi dengan baik untuk penggunaan medis," ungkap dia.

Kesamaan struktur pembentuk DNA antara sperma salmon dan manusia memicu reaksi adaptasi yang sangat positif.

"Anak tangga penyusun DNA terbuat dari empat bahan kimia yang sama," jelas Romanowski. Berkat kemiripan tersebut, zat ini sanggup berikatan dengan sel manusia dan merangsang pembentukan jaringan kolagen baru.

"Bayangkan sel kulit sebagai sebuah bola, dan reseptornya menonjol di bagian atas seperti sakelar lampu. Suntikan PDRN pada dasarnya menyalakan sakelar tersebut untuk membangunkan sel dan diharapkan membuat sel-sel itu memproduksi lebih banyak kolagen," jelas dr. Gohara.

Berbekal keberhasilan di bidang medis, produsen kosmetik meyakini versi oles PDRN dapat merangsang perbaikan jaringan. Sensasi tak lazim dari sperma salmon ini sukses menjadi taktik pemasaran untuk memancing rasa penasaran konsumen.

Sayangnya, janji manis ini belum ditopang oleh landasan riset jangka panjang yang benar-benar solid.

"Klaim ketenaran PDRN adalah bahwa bahan ini merupakan salah satu perawatan kulit paling populer di pasar yang sangat kritis, Korea, dan sudah berlangsung selama lebih dari satu dekade," kata dokter kulit di New York City, Melissa K. Levin, MD.

"Pemasarannya bergerak lebih cepat daripada sainsnya," lanjut dia.

Di sisi lain, banyak pakar mengingatkan bahwa pengujian ekstrak DNA dari sperma salmon ini baru terbatas di dalam ruang observasi laboratorium tertutup.

"Bukti yang kami miliki tentang manfaat PDRN ada pada kultur sel, di mana bahan ini bisa melakukan hal-hal seperti mematikan produksi melanin," ingat Romanowski.

"Tapi itu tidak sama dengan mengatakan, 'Kalau kamu memasukkan ini ke dalam krim, lalu mengoleskannya ke kulit, ini pasti akan berhasil'," lanjut dia.

Tantangan fisika turut menjadi rintangan nyata. Idealnya, supaya bisa menembus lapisan tengah kulit secara efektif, partikel produk oles tak boleh melewati batas ukuran 500 dalton.

Mengingat ukuran fragmen DNA salmon ribuan kali lipat lebih besar, kemungkinan besar kandungannya hanya akan mengendap di permukaan saja. Tak sampai di situ, material genetik dari makhluk hidup ini sangat rapuh dan menuntut pengaturan suhu yang ekstra presisi.

"PDRN itu sangat rapuh. Bahan ini tidak stabil, sangat rumit untuk diformulasikan, dan rentan terhadap oksidasi," sebut ahli kimia kosmetik Marisal Mou.

Walau masih dipenuhi keraguan sains dan kendala peracikan, pamor bahan tak lazim ini nyatanya terus meroket karena dinilai unik di mata konsumen.

"Sangat menarik melihat besaran seberapa cepat PDRN meledak di dunia perawatan kulit. Gagasannya sendiri sudah sangat mencolok," ucap ahli kimia kosmetik Amanda Lam.

Meski tengah naik daun, PDRN diprediksi bakal segera tersingkir oleh inovasi baru ke depannya, kecuali para ilmuwan sanggup menemukan formulasi mutakhir untuk mengatasi masalah kestabilan tersebut.

"Para pembuat formula harus bekerja dengan PDRN bermassa molekul lebih kecil, memasangkannya dengan sistem pengiriman yang optimal, dan sumber fragmen DNA akan menjadi sangat penting," kata Mou.

"Kualitas ekstraksi, tingkat kemurnian, distribusi ukuran fragmen yang seragam. Semua pertimbangan ini berujung pada peningkatan biaya bahan," pungkas dia.

Terkini