PDRN Jadi Bahan Skincare Viral: Simak Asal-Usul dan Manfaatnya

Senin, 17 Agustus 2026 | 02:36:01 WIB
Ilustrasi skincare mengandung PDRN [FOTO: NET].

JAKARTA - Industri kecantikan asal Korea Selatan tampaknya tidak pernah kehabisan ide untuk menghadirkan berbagai inovasi yang terbilang unik. Saat ini, pusat perhatian dari para pencinta rutinitas perawatan kulit atau skincare tengah tertuju pada satu jenis bahan aktif baru yang dikenal dengan nama polydeoxyribonucleotide atau yang disingkat sebagai PDRN. Menariknya, bahan baku utama yang digunakan untuk membuat zat ini berasal dari bagian sperma ikan salmon.

Secara ilmiah, PDRN pada dasarnya merupakan serpihan molekul DNA yang diekstrak melalui proses khusus langsung dari sperma ikan salmon tersebut. Zat ini dipercaya memiliki kemampuan luar biasa dalam meregenerasi sel-sel kulit sehingga wajah dapat tampak lebih awet muda, dan kini mulai banyak bermunculan sebagai kandungan andalan dalam produk-produk perawatan seperti pelembap hingga serum harian.

"PDRN adalah bahan hasil daur ulang dari peternakan salmon industri makanan, bukan berarti orang memelihara salmon khusus untuk mendapatkan DNA ini," kata ahli kimia kosmetik Perry Romanowski, Minggu (16/8/2026).

Menelusuri Efektivitas PDRN Sperma Salmon pada Kulit

Gagasan untuk mengaplikasikan produk turunan sperma salmon ke area wajah mungkin sekilas terdengar ganjil dan tidak biasa. Kendati demikian, praktik pemanfaatan ekstrak yang bersumber dari hewan untuk kebutuhan dunia pengobatan sebenarnya telah diakui sejak lama. Topik ini bahkan sempat dibahas secara komprehensif di dalam sebuah studi berjudul "Marine-Derived Pharmaceuticals – Challenges and Opportunities" pada tahun 2016, serta melalui berbagai publikasi riset di jurnal ilmiah Frontiers in Pharmacology.

Jauh sebelum dilirik dan populer sebagai bahan serum yang diklaim mampu menunda proses penuaan dini, PDRN sebetulnya telah lebih dulu dikenal luas dalam ranah medis melalui prosedur suntik guna mempercepat proses penyembuhan pada kasus luka kronis, seperti misalnya bisul yang dialami oleh penderita diabetes. Bagian sperma dipilih karena sel tersebut dinilai paling tepat untuk menghasilkan tingkat kemurnian DNA yang sangat tinggi tanpa adanya risiko kontaminasi kotoran.

"PDRN telah digunakan dalam pengobatan regeneratif selama bertahun-tahun, terutama di Eropa dan Asia," terang dokter kulit di Hamden, Connecticut, Mona Gohara, MD. "Ada penggunaan klinis PDRN suntik yang kredibel dalam ranah medis untuk penyembuhan luka maupun bisul, dan bahan ini umumnya dapat ditoleransi dengan baik untuk penggunaan medis," ungkap dia.

Adanya kesamaan pada struktur dasar pembentuk molekul DNA antara sperma ikan salmon dan manusia inilah yang kemudian memicu terjadinya reaksi adaptasi biologis yang sangat positif.

"Anak tangga penyusun DNA terbuat dari empat bahan kimia yang sama," jelas Romanowski. Berkat kemiripan karakteristik tersebut, zat ini sanggup berikatan dengan sel-sel tubuh manusia serta merangsang proses pembentukan jaringan kolagen yang baru.

"Bayangkan sel kulit sebagai sebuah bola, dan reseptornya menonjol di bagian atas seperti sakelar lampu. Suntikan PDRN pada dasarnya menyalakan sakelar tersebut untuk membangunkan sel dan diharapkan membuat sel-sel itu memproduksi lebih banyak kolagen," jelas dr. Gohara.

Kesenjangan antara Klaim Pemasaran dan Sains

Berbekal kesuksesan yang telah terbukti di bidang medis, para produsen produk kosmetik lantas meyakini bahwa versi penggunaan oles atau topikal dari PDRN juga mampu merangsang perbaikan jaringan kulit. Sensasi penggunaan bahan yang tidak lazim ini terbukti sukses menjadi strategi pemasaran yang ampuh guna memancing rasa penasaran dari para konsumen. Sayangnya, berbagai janji manis tersebut hingga kini masih belum sepenuhnya didukung oleh landasan riset ilmiah jangka panjang yang benar-benar solid.

"Klaim ketenaran PDRN adalah bahwa bahan ini merupakan salah satu perawatan kulit paling populer di pasar yang sangat kritis, Korea, dan sudah berlangsung selama lebih dari satu dekade," kata dokter kulit di New York City, Melissa K. Levin, MD. "Pemasarannya bergerak lebih cepat daripada sainsnya," lanjut dia.

Di sisi lain, banyak kalangan pakar kesehatan yang mengingatkan bahwa sejauh ini pengujian terhadap ekstrak DNA dari sperma salmon tersebut masih terbatas dilakukan di dalam ruang observasi laboratorium tertutup.

"Bukti yang kami miliki tentang manfaat PDRN ada pada kultur sel, di mana bahan ini bisa melakukan hal-hal seperti mematikan produksi melanin," ingat Romanowski. "Tapi itu tidak sama dengan mengatakan, 'Kalau kamu memasukkan ini ke dalam krim, lalu mengoleskannya ke kulit, ini pasti akan berhasil'," lanjut dia.

Hambatan Ukuran Molekul dan Kestabilan Produk

Tantangan di bidang fisika turut menjadi hambatan nyata yang tidak bisa diabaikan. Secara ideal, agar suatu zat mampu menembus lapisan tengah kulit dengan efektif, partikel dari produk oles tidak boleh melampaui batas ukuran maksimal 500 dalton. Mengingat ukuran fragmen DNA salmon tercatat jauh lebih besar hingga ribuan kali lipat, kemungkinan besar kandungan tersebut pada akhirnya hanya akan mengendap di permukaan luar kulit saja.

Tidak berhenti sampai di situ saja, material genetik yang berasal dari makhluk hidup ini juga dikenal sangat rapuh serta menuntut standar pengaturan suhu penyimpanan yang ekstra presisi.

"PDRN itu sangat rapuh. Bahan ini tidak stabil, sangat rumit untuk diformulasikan, dan rentan terhadap oksidasi," sebut ahli kimia kosmetik Marisal Mou.

Walaupun saat ini masih diwarnai oleh berbagai keraguan dari dunia ilmiah serta kendala teknis dalam proses peracikannya, pamor dari bahan yang tidak lazim ini nyatanya terus meroket tajam lantaran dinilai memiliki keunikan tersendiri di mata konsumen.

"Sangat menarik melihat besaran seberapa cepat PDRN meledak di dunia perawatan kulit. Gagasannya sendiri sudah sangat mencolok," ucap ahli kimia kosmetik Amanda Lam.

Meskipun tengah berada di puncak popularitas, PDRN diprediksi bakal segera tersingkir oleh gelombang inovasi baru di masa mendatang, terkecuali jika para ilmuwan berhasil menemukan formulasi mutakhir yang mampu mengatasi persoalan kestabilan tersebut.

"Para pembuat formula harus bekerja dengan PDRN bermassa molekul lebih kecil, memasangkannya dengan sistem pengiriman yang optimal, dan sumber fragmen DNA akan menjadi sangat penting," kata Mou. "Kualitas ekstraksi, tingkat kemurnian, distribusi ukuran fragmen yang seragam. Semua pertimbangan ini berujung pada peningkatan biaya bahan," pungkas dia.

Terkini