Menperin Mendorong IKM Masuk Rantai Pasok Industri Motor Listrik

Selasa, 18 Agustus 2026 | 02:16:31 WIB
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita.

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan keterlibatan industri kecil menengah (IKM) dalam ekosistem kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB), khususnya motor listrik nasional (molinas).

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa pengembangan industri kendaraan listrik harus memberikan dampak berganda bagi struktur industri nasional, termasuk membuka peluang bagi IKM untuk menjadi bagian dari rantai pasok industri besar.

"Target kami bukan sekadar semakin banyak IKM yang mendapatkan pembinaan, tetapi juga memenuhi persyaratan industri, karena IKM harus mampu memenuhi kualifikasi sebagai pemasok, masuk ke dalam rantai pasok, dan pada akhirnya memperoleh pesanan secara berkelanjutan," kata Menperin dalam keterangannya yang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (18/8/2026).

Menurut dia, penguatan IKM tidak cukup hanya melalui peningkatan kapasitas produksi, melainkan harus diarahkan agar pelaku usaha mampu memenuhi standar serta kualifikasi sebagai pemasok industri.

Upaya tersebut mulai membuahkan hasil melalui keterlibatan dua IKM binaan Kemenperin, yakni PT Kannindo Metal Industri dan PT Multikon Rekatama Industri, yang masuk dalam ekosistem pendukung motor listrik nasional yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 13 Agustus 2026 di Cikarang, Jawa Barat.

Kedua IKM tersebut telah mampu memproduksi komponen boks baterai dan bracket baterai untuk molinas Alva yang berada di bawah naungan PT Electra Mobilitas Indonesia.

Keberhasilan ini menunjukkan bahwa industri kecil nasional memiliki peluang besar untuk mengambil peran lebih luas dalam rantai pasok kendaraan listrik.

Menurut Menperin, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) menjalankan berbagai program pengembangan IKM komponen alat angkut, mulai dari identifikasi IKM potensial, peningkatan kemampuan teknologi dan kualitas, pengembangan prototipe, pengujian dan sertifikasi, hingga integrasi IKM ke dalam rantai pasok industri kendaraan listrik.

Adapun pengembangan IKM dalam ekosistem kendaraan listrik dilakukan dengan pendekatan supplier development, yaitu menjadikan kebutuhan industri besar dan original equipment manufacturer (OEM) sebagai dasar pembinaan.

Melalui pendekatan tersebut, kemampuan IKM lokal dipetakan dan disesuaikan dengan kebutuhan komponen kendaraan listrik.

IKM potensial kemudian menjalani asesmen kesiapan pemasok guna mengetahui berbagai aspek yang masih perlu diperkuat.

"Pembinaan IKM harus dimulai dari kebutuhan pasar. OEM dan tier-1 menyampaikan kebutuhan serta standar yang harus dipenuhi, kemudian pemerintah melakukan pembinaan agar IKM mampu menutup kesenjangan tersebut melalui penguatan teknologi, SDM, kualitas produk, standardisasi, serta akses pengujian," jelasnya.

Lebih lanjut, pihaknya juga terus memperluas peluang lokalisasi komponen kendaraan listrik dengan meningkatkan kemampuan IKM secara bertahap sesuai tingkat kesiapan teknologi dan kompleksitas produk.

Pada tahap awal, IKM dapat berkontribusi melalui produksi komponen yang teknologinya telah dikuasai, seperti komponen berbasis logam, plastik, karet, jok, bracket, housing, sheet metal, fastener, wiring harness, serta berbagai komponen pendukung kendaraan listrik lainnya.

Sementara itu, IKM dengan kemampuan engineering dan manufaktur yang lebih tinggi akan diarahkan untuk menghasilkan komponen bernilai tambah lebih besar, seperti battery housing, motor housing, precision machining, komponen kelistrikan, hingga komponen pendukung battery pack dan power electronics.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita menyampaikan penguatan kemitraan antara IKM dengan industri besar, OEM, dan tier-1 menjadi salah satu instrumen penting untuk mempercepat integrasi IKM ke dalam rantai pasok kendaraan listrik.

Selain itu, Kemenperin juga menyelenggarakan business matching yang tidak hanya mempertemukan IKM dengan industri besar, tetapi juga mencakup penyampaian spesifikasi komponen, supplier assessment, pengembangan prototipe, pengujian, hingga proses kualifikasi pemasok.

Terkini