Posisi Urutan Lahir Anak Pengaruhi Risiko Penyakit Tertentu

Selasa, 18 Agustus 2026 | 02:53:01 WIB
keluarga dengan 2 anak. [FOTO: NET].

JAKARTA - Ada banyak aspek yang memengaruhi kerentanan seseorang terhadap suatu penyakit, mulai dari eksposur lingkungan, faktor genetik, hingga gaya hidup. Kendati demikian, riset termutakhir menyingkap satu variabel tambahan yang kerap luput dari perhatian banyak orang, yakni posisi urutan kelahiran di dalam keluarga, menyadur Prevention, Senin (17/8/2026).

Studi berjudul “Birth order and disease risk across the human phenome” yang dimuat dalam jurnal Nature Health pada Agustus 2026 menelaah data kesehatan dari lima juta keluarga yang memiliki dua anak. Penelitian ini membuktikan adanya korelasi nyata antara urutan lahir seseorang dengan tingkat probabilitasnya mengidap kondisi medis tertentu.

Temuan hubungan urutan lahir dengan jenis penyakit

Hasil riset mendapati bahwa anak sulung mempunyai tingkat kerentanan yang lebih besar terhadap gangguan perkembangan saraf serta penyakit yang berkaitan dengan alergi sistem kekebalan tubuh. Sebaliknya, anak kedua justru cenderung lebih rentan mengalami gangguan pencernaan serta masalah penyalahgunaan zat. Interval usia yang rapat antarsaudara terbukti mampu memberikan proteksi terhadap kondisi neuropsikiatri dan alergi.

Para periset menyimpulkan bahwa anak pertama dan anak kedua memiliki peluang risiko kesehatan yang berlainan usai membandingkan rasio pada masing-masing anak. Bagi anak sulung, data memperlihatkan adanya eskalasi risiko autisme sebesar 26 persen, alergi makanan 20 persen, rinitis alergi 9 persen, serta gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas sebesar 7 persen. Sementara pada anak kedua, risikonya melonjak 19 persen untuk kasus penyalahgunaan zat serta 14 persen pada gangguan saluran pencernaan.

Berbagai teori medis di balik perbedaan risiko

Meskipun kajian ini tidak mengupas tuntas alasan di baliknya, para praktisi kesehatan merumuskan sejumlah hipotesis terkait fenomena tersebut.

“Sangat mungkin ada sesuatu yang bawaan dari urutan tersebut,” jelas kepala penyakit infeksi anak di University at Buffalo Jacobs School of Medicine and Biomedical Sciences, Mark Hicar, M.D., Ph.D.

“Ada perbedaan biologis antara kehamilan pertama dan berikutnya, termasuk usia, perubahan tubuh ibu, dan perbedaan respons imun,” lanjut dia.

Bayi secara biologis membawa materi asing dari sang ayah yang wajib ditoleransi oleh sistem imun sang ibu. Menurut dr. Hicar, kondisi ini terbukti mengalami perbaikan pada fase kehamilan berikutnya.

Di sisi lain, salah satu penulis studi sekaligus profesor kedokteran di The University of Chicago Biological Sciences Division, Andrey Rzhetsky, Ph.D., mengemukakan bahwa saudara kandung umumnya berbagi mikrobioma yang serupa.

“Ini bisa menjelaskan sinyal pada penyakit infeksi, alergi, dan potensi efek perlindungan dari jarak usia yang dekat terhadap kondisi perkembangan saraf,” ungkapnya.

Rzhetsky turut menilai bahwa orang tua baru biasanya lebih sigap membawa anak pertama mereka ke dokter tatkala timbul kecemasan, yang kemudian memicu diagnosis lebih dini.

“Secara struktural, urutan kelahiran berkorelasi dengan usia orangtua saat anak lahir. Artinya, anak pertama pada dasarnya memiliki orangtua yang lebih muda,” tutur Rzhetsky.

“Jika anak pertamamu memiliki kondisi neurologis, kamu mungkin akan melakukan lebih banyak tes pada kehamilan berikutnya,” papar dr. Hicar sepakat.

“Contoh lainnya, paparan lingkungan dan pola makan yang direncanakan biasanya diterapkan lebih ketat pada anak pertama dibandingkan kehamilan setelahnya,” imbuh dia.

Urutan kelahiran bukan satu-satunya penentu utama

Studi ini sekadar memetakan rasio peluang secara menyeluruh, dan bukan menjadi garansi mutlak bahwa manifestasi penyakit tersebut pasti menimpa diri Anda.

Kami berbicara tentang efek populasi. Di tingkat individu, efeknya tidak terlalu kentara,” tegas Rzhetsky.

Dokter spesialis anak di Mercy Medical Center, Ashanti Woods, M.D., menggarisbawahi bahwa belum ada konfirmasi mutlak.

“Sebagai dokter anak, saya menyambut baik penelitian seperti ini agar suatu hari nanti bisa menjawab pertanyaan, 'Apa penyebab kondisi bayi saya...' dari para orangtua,” katanya.

“Meskipun demikian, pada penelitian apa pun, penting untuk membedakan antara korelasi dan penyebab. Dengan kata lain, apakah ini benar-benar penyebab kondisinya, atau sekadar pola yang diamati?” ucap dr. Woods.

Terlebih lagi, kondisi klinis tergolong sangat rumit. Menurut dokter spesialis anak di Providence Saint John’s Health Center, Danelle Fisher, M.D., ada banyak variabel yang turut berperan dalam memicu berbagai penyakit tersebut.

“Urutan kelahiran mungkin hanya salah satu dari sekian banyak faktor yang bisa memengaruhi tingkat penyakit,” pungkas dr. Fisher.

Terkini