Perpusnas Unjuk Gigi Bawa Gagasan Literasi Indonesia di Forum IFLA

Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:07:31 WIB
Perpusnas di IFLA 2026.

JAKARTA - Sebanyak empat pegawai Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) memaparkan ide serta rekam jejak Indonesia dalam memperkuat tingkat literasi pada ajang 90th IFLA World Library and Information Congress (WLIC) 2026 di Busan dan IFLA Satellite Meeting di Seoul, Korea Selatan.

Perhelatan berskala internasional yang mengusung tema "Libraries Powering Transformation" tersebut dihimpun oleh 3.191 utusan dari 111 negara maupun wilayah lewat lebih dari 200 sesi yang mengulas topik kecerdasan buatan (AI), kebebasan intelektual, pemahaman iklim, keterbukaan informasi, memori budaya, hingga metamorfosis perpustakaan.

Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz mengungkapkan dalam keterangannya di Jakarta pada Rabu bahwa kehadiran para staf Perpusnas di panggung global tak sekadar ditujukan untuk mengasah kemampuan personal, melainkan wajib mendatangkan faedah bagi lembaga serta publik luas.

"Pengetahuan, pengalaman, serta jejaring yang diperoleh harus dibawa pulang dan diterjemahkan menjadi gagasan maupun praktik yang relevan untuk memperkuat perpustakaan dan budaya literasi di Indonesia," ujar Aminudin.

Secara keseluruhan terdapat 10 wakil dari Indonesia yang berpartisipasi dalam WLIC 2026 sepanjang 10–13 Agustus. Empat di antaranya merupakan pemapar materi dari Perpusnas, yakni Irhamni Ali, Suci Indrawati Irwan, Sadariyah Ariningrum Wijiastuti, dan Yaya Ofia Mabruri.

Sadariyah Ariningrum Wijiastuti yang masuk dalam jajaran 16 peserta IFLA Emerging Leaders 2026 membedah tiga materi utama terkait budaya pop sebagai media masuk literasi, daya jangkau perpustakaan, serta pola Relawan Literasi Masyarakat (Relima). Inisiatif Relima ini meluas dari 180 relawan di 177 kabupaten/kota pada 2025 menjadi 360 relawan di 321 kabupaten/kota pada 2026.

Di lain kesempatan, Yaya Ofia Mabruri selaku penerima Angela Bersekowski Grant mengulas krusialnya sinergi antara perpustakaan, instansi pendidikan, pengajar, keluarga, dan elemen masyarakat guna mengukuhkan budaya membaca, daya kritis, serta keaslian karya di era gempuran AI.

Selanjutnya, Suci Indrawati Irwan mengetengahkan pembahasan seputar komunikasi ilmiah berbasis diamond open access. Ia menggarisbawahi bahwa repositori studi tak cuma bertugas menyodorkan akses terbuka, namun wajib memastikan informasi mudah dilacak, terhubung, dan bisa difungsikan kembali.

Adapun Irhamni Ali menampilkan materi perihal penerapan metode AI dalam rangka pemantauan kinerja perpustakaan publik. Menurut analisisnya, sekumpulan data perpustakaan mesti diproses agar membantu memetakan pola serta menetapkan vonis kebijakan, dengan tetap mengoreksi mutu data, konteks, dan kebutuhan nyata warga.

Keterlibatan delegasi Perpusnas ini turut disempurnakan melalui agenda studi banding ke jajaran perpustakaan di Korea Selatan. Rangkaian misi tersebut dijadikan ajang alih pengetahuan serta perluasan jejaring demi mengakselerasi transformasi perpustakaan dan literasi tanah air.

Terkini