Trisula International Waspadai Persaingan Akibat Tarif Impor AS 10 Persen

Rabu, 19 Agustus 2026 | 02:59:32 WIB
Karyawan beraktivitas di salah satu pabrik tekstil di Jawa Barat.

JAKARTA — PT Trisula International Tbk. (TRIS) mengantisipasi potensi pengetatan persaingan pada industri tekstil dan pakaian jadi global menyusul regulasi tarif impor AS sebesar 10 persen.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) memberlakukan tarif tambahan sebesar 10 persen untuk Indonesia melalui kebijakan Section 301 yang membidik negara penyuplai terkait isu pekerja paksa.

Langkah pengenaan tarif anyar dari AS ini diterapkan berbarengan dengan berakhirnya tenggat tarif sementara 10 persen ke seluruh negara pada 24 Juli 2026.

Direktur Utama TRIS Widjaya Djohan memaparkan bahwa arah kebijakan perdagangan AS patut terus dipantau lantaran bisa memicu eskalasi kompetisi, khususnya pada lini produk pakaian standar yang peka harga.

"Tentunya kami juga terus memonitoring dan mewaspadai kondisi saat ini dengan cermat," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (19/8/2026).

Sampai saat ini, ia menilai konsekuensi penyesuaian tarif bagi TRIS terbilang lebih terkendali sebab porsi pamasaran ke AS mayoritas terfokus pada segmen pakaian kustomisasi dan bernilai tambah.

Karakter khusus pada produk tersebut menjadikan tingkat sensitivitas terhadap pergerakan harga relatif lebih rendah dibandingkan barang tekstil masal.

Di samping itu, kemitraan jangka panjang yang terjalin erat bersama para pemesan lama menjadi penopang tangguh bisnis TRIS di tengah dinamika aturan perdagangan internasional.

"Selain itu, perseroan memiliki hubungan jangka panjang dengan pelanggan eksisting, yang membuat dampaknya masih dapat dikelola," imbuhnya.

Sikap optimistis tersebut diperkuat oleh perolehan finansial TRIS yang solid sepanjang semester I/2026. Perseroan berhasil mencatatkan laba bersih Rp57,9 miliar, atau melesat 12,2 persen secara tahunan hingga melebihi ekspektasi pasar.

Pada lini pendapatan utama, omzet penjualan TRIS terangkat 15,9 persen menyentuh Rp889,6 miliar. Lonjakan performa ini utamanya dipicu oleh pengiriman ekspor yang melambung 20,3 persen menjadi Rp530,5 miliar.

Melalui capaian tersebut, aktivitas ekspor saat ini menyumbang porsi hingga 60 persen dari total nilai penjualan TRIS, sementara pasar domestik memberikan kontribusi sebesar Rp359,1 miliar.

Laju ekspor yang kuat menjadi modal berharga bagi TRIS untuk menghadapi dinamika kebijakan baru di Amerika Serikat. Pasalnya, perseroan memiliki basis konsumen yang terdistribusi ke berbagai negara, mulai dari Australia, AS, Selandia Baru, Inggris, hingga Jepang.

Di antara jajaran tujuan ekspor, pasar Amerika Serikat menempati posisi strategis bagi TRIS. Sepanjang semester I/2026, AS menjadi tujuan ekspor terbesar kedua perseroan dengan porsi mencapai 30 persen dari total omzet luar negeri.

Nilai penjualan ke pasar AS sukses menyentuh Rp159 miliar, atau tumbuh 19 persen disandingkan dengan perolehan pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Ke depannya, TRIS melihat prospek ekspansi pasar AS masih terbuka lebar. Perseroan saat ini tengah menjajaki diskusi bersama para pembeli lama di Amerika Serikat terkait potensi pesanan mendatang.

Peluang tambahan volume order dari mitra lama maupun calon klien baru diproyeksikan mampu menjaga laju penjualan perseroan di tengah regulasi tarif anyar.

"TRIS optimistis dapat menjaga kinerja keuangan ke depan tetap positif di tengah pemberlakuan kebijakan tarif baru AS," ujarnya.

Terkini