PP Presisi Raih Kontrak Baru Rp1,5 Triliun, Rugi Anjlok 93,4%

Kamis, 20 Agustus 2026 | 00:16:02 WIB
Ilustrasi Pekerja beraktivitas di salah satu proyek [FOTO: NET].

JAKARTA — PT PP Presisi Tbk. (PPRE) berhasil mengamankan raihan kontrak baru mencapai Rp1,5 triliun hingga periode Semester I/2026. Sebagian besar kontrak tersebut bersumber dari lini bisnis jasa pertambangan dan konstruksi.

PPRE mengungkapkan bahwa kisaran 97% dari akumulasi kontrak baru yang diraih hingga Juni 2026 berasal dari kedua sektor tersebut. Pencapaian ini mempertegas komitmen perseroan dalam memperluas cakupan bisnis jasa pertambangan dan konstruksi.

Selaras dengan melonjaknya perolehan kontrak baru, PPRE meraup pendapatan konsolidasian sebesar Rp2,2 triliun hingga Juni 2026. Capaian ini menunjukkan pertumbuhan 35% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar Rp1,6 triliun. Penopang utama pendapatan perseroan pun kembali datang dari lini pertambangan dan konstruksi dengan porsi menyentuh 97,3%.

Direktur Utama PPRE Rizki Dianugrah menyatakan bahwa kenaikan pendapatan ini menandakan operasional perseroan berjalan tetap stabil.

“Pertumbuhan pendapatan menunjukkan aktivitas operasional PPRE tetap terjaga. Penurunan rugi juga menjadi perkembangan positif dalam proses penguatan fundamental PPRE. Ke depan, kami fokus pada efisiensi, produktivitas, optimalisasi aset, serta peningkatan kualitas dan profitabilitas proyek,'” kata Rizki dalam keterbukaan informasi, dikutip Kamis (20/8/2026).

Bidik Kemitraan Strategis Di samping mengandalkan pemasukan dari kontrak baru, PPRE juga intens mengeksplorasi potensi kemitraan strategis guna memperlebar sayap bisnis, khususnya pada sektor pertambangan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perseroan dalam memperkokoh kapabilitas serta portofolio proyek di bidang jasa pertambangan dan konstruksi.

PPRE turut memaksimalkan pendayagunaan aset yang dimiliki sekaligus memacu efisiensi operasional demi menopang pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.

Dari sudut pandang kinerja keuangan, pembenahan aktivitas operasional ini berdampak positif pada penurunan angka kerugian tahun berjalan perseroan. Hingga Juni 2026, rugi tahun berjalan PPRE sukses dipangkas hingga 93,4% menjadi Rp88,6 miliar, melandai jauh dibandingkan rugi sebesar Rp1,3 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Perbaikan tersebut salah satunya dipicu oleh penyusutan beban penurunan nilai dari Rp656 miliar pada 2025 menjadi Rp57,9 miliar hingga Juni 2026. Di sisi lain, beban keuangan tercatat berada di posisi Rp167,7 miliar, lebih melandai dibanding Rp171,4 miliar pada kurun waktu yang sama tahun lalu.

Vice President Corporate Secretary PPRE Mei Elsa Kembaren mengungkapkan bahwa raihan pada Semester I/2026 merupakan bagian dari rangkaian penguatan fundamental perseroan.

“Capaian Semester I 2026 menjadi bagian dari proses penguatan PPRE menuju kinerja yang lebih sehat dan berkelanjutan. Kami akan terus menjaga tata kelola, disiplin pengelolaan keuangan, serta kualitas operasional Perseroan,” kata Mei.

Ke depan, imbuhnya, PPRE bakal terus mempertajam kompetensi pada lini jasa pertambangan dan konstruksi, mengoptimalkan aset beserta portofolio proyek, serta menggenjot efisiensi. Rangkaian tindakan ini dieksekusi demi mewujudkan visi perseroan untuk menjadi perusahaan jasa pertambangan dan konstruksi yang terdepan di Indonesia.

Terkini