Potongan 8 Persen Ojol Buat Margin GOTO Tertekan pada Tahun 2026 Ini

Kamis, 20 Agustus 2026 | 02:39:31 WIB
Pengemudi ojek online (ojol) menunjukan logo GoTo.

JAKARTA - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menghadapi tantangan dalam menjaga margin bisnis transportasi roda dua GoRide setelah penerapan kebijakan pembatasan potongan sebesar 8 persen. Kebijakan tersebut membuat unit economics GoRide saat ini masih berada di zona negatif.

Meski demikian, GOTO menilai implementasi kebijakan sejauh ini berjalan lancar dengan jumlah konsumen, pengemudi, dan transaksi yang tetap stabil.

Direktur Utama GOTO Hans Patuwo mengatakan perseroan akan mengevaluasi sejumlah strategi untuk memperbaiki unit economics GoRide setelah penerapan kebijakan potongan 8 persen.

“Unit economics kami saat ini masih negatif dan kami masih menunggu situasi menjadi lebih stabil. Ke depannya, kami akan melakukan berbagai penyesuaian untuk meningkatkan unit economics,” ujar Hans.

Menurut Hans, GOTO masih memiliki sejumlah tuas untuk memperbaiki unit economics bisnis transportasi roda dua. Langkah tersebut antara lain berkaitan dengan harga, biaya platform, hingga waktu penerapan tarif. GOTO juga akan mengevaluasi peluang penghematan biaya di seluruh bisnis On Demand Service (ODS) untuk menjaga kinerja bisnisnya.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai besarnya penurunan margin GOTO tidak bisa langsung dihitung hanya dari perubahan skema komisi. Pasalnya, perubahan komisi dari sebelumnya sekitar 20 persen menjadi 8 persen bukan satu-satunya faktor yang menentukan pendapatan pengemudi maupun struktur ekonomi layanan transportasi daring.

“Karena GOTO sebelumnya dapat menentukan tarif berdasarkan supply and demand. Hal ini mungkin akan menyulitkan GOTO untuk mendapatkan kesempatan margin yang lebih besar ke depannya,” ucap Nico, Rabu (19/8/2026).

Menurut Nico, dampak kebijakan terhadap profitabilitas GOTO masih harus dilihat dari formula tarif serta mekanisme pembatasan komisi yang nantinya diterapkan pemerintah. Pemangkasan komisi dari sebelumnya sekitar 20 persen menjadi 8 persen belum serta-merta menunjukkan besarnya tekanan yang akan diterima GOTO.

Berdasarkan masukan dari pengemudi, perubahan komisi tersebut bukan satu-satunya komponen yang menentukan pendapatan mereka karena masih terdapat sejumlah beban biaya lain yang harus ditanggung.

Dengan demikian, tekanan terhadap margin GOTO akan sangat bergantung pada kemampuan perseroan mempertahankan pendapatan di tengah perubahan skema tersebut. Nico menuturkan apabila GOTO tetap dapat mempertahankan pendapatan secara penuh meski terjadi perubahan skema komisi, tekanan terhadap profitabilitas dapat lebih terjaga.

Di sisi lain, GOTO memiliki sejumlah pilihan untuk merespons perubahan struktur komisi tersebut. Hans sebelumnya mengatakan perseroan dapat menggunakan berbagai tuas, mulai dari penyesuaian harga, biaya platform, hingga waktu penerapan tarif. Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensi terhadap ekosistem GOTO.

Penyesuaian harga misalnya berpotensi meningkatkan pendapatan per transaksi, tetapi di sisi lain dapat memengaruhi permintaan konsumen. Sementara itu, efisiensi biaya dapat membantu menjaga margin tanpa harus langsung membebankan kenaikan biaya kepada pengguna.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan GOTO pada akhirnya menghadapi pilihan untuk menyerap tekanan margin atau meneruskan sebagian beban tersebut kepada merchant maupun konsumen.

“Kalau komisi food dan delivery dibatasi, GOTO menghadapi pilihan untuk menyerap tekanan margin atau menaikkan biaya kepada merchant maupun konsumen yang berpotensi menekan volume,” ujarnya.

Risiko terhadap margin GOTO juga tidak hanya berasal dari bisnis transportasi roda dua. Wafi mengatakan pengaturan tarif layanan pengantaran barang dan makanan berada di bawah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), berbeda dengan tarif angkutan penumpang yang berada di bawah Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Dengan demikian, skema pembagian 92:8 yang berlaku pada layanan transportasi roda dua belum tentu diterapkan pada GoFood maupun GoSend.

“Tarif barang dan makanan diatur Komdigi, berbeda dengan Kemenhub yang mengatur tarif penumpang. Jadi, skema 92:8 belum tentu diterapkan sama ke GoFood dan GoSend,” kata Wafi, Rabu (19/8/2026).

Menurutnya, apabila pemerintah nantinya menerapkan pembatasan potongan sebesar 8 persen secara flat untuk layanan makanan dan pengantaran barang, dampaknya terhadap GOTO akan lebih material. Wafi menilai pembatasan komisi pada layanan food delivery dan pengiriman barang juga berpotensi memberikan risiko tekanan terhadap profitabilitas GOTO dalam dua kuartal berturut-turut.

Dengan kondisi tersebut, investor masih perlu menunggu bentuk final regulasi untuk mengukur seberapa besar perubahan struktur komisi akan memengaruhi margin GOTO.

Meski bisnis ODS menghadapi tekanan dari perubahan regulasi, prospek GOTO tidak sepenuhnya bergantung pada bisnis mobilitas dan layanan pesan-antar. Nico menilai perseroan memiliki ekosistem yang lebih luas serta diversifikasi bisnis yang dapat menjadi penopang kinerja ketika salah satu lini menghadapi tekanan regulasi.

Pertumbuhan finansial GOTO melalui GoPay juga terus meningkat, tercermin dari kenaikan total transaksi. Menurut Nico, perkembangan tersebut menunjukkan bisnis GOTO di luar ODS masih terus berkembang dan memberikan kontribusi terhadap kinerja perseroan.

“GOTO tidak hanya mengandalkan dua lini bisnis saja saat ini. Mereka mengandalkan ekosistem GOTO yang mereka miliki. Selain itu, mereka juga memiliki diversifikasi bisnis yang kuat yang dapat membantu menjaga kinerja GOTO,” tuturnya.

Dengan demikian, besarnya tekanan terhadap margin GOTO akibat pembatasan potongan 8 persen akan sangat ditentukan oleh kemampuan perseroan menyesuaikan struktur biaya, menjaga pendapatan per transaksi, serta mempertahankan volume transaksi.

Di tengah proses finalisasi regulasi ojol, ruang bagi GOTO untuk mengoptimalkan unit economics menjadi faktor penting yang akan menentukan seberapa besar kebijakan tersebut berdampak terhadap profitabilitas perseroan.

Terkini