Dua Penyakit Ini Mengintai Warga akibat Polusi Udara Jakarta pada 2026

Kamis, 20 Agustus 2026 | 03:06:33 WIB
Ilustrasi Polusi Udara.

JAKARTA - Polusi udara yang menyelimuti kawasan Jakarta membawa ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Sejumlah penyakit, mulai dari pneumonia hingga penyakit jantung iskemik, berisiko meningkat tajam seiring memburuknya kualitas udara.

Hal tersebut diungkapkan Guru Besar Departemen Kesehatan Lingkungan Universitas Indonesia Budi Haryanto dalam diseminasi hasil penelitian kualitas udara di Jakarta Selatan pada Kamis (20/8/2026).

Merujuk data BPJS Kesehatan, tren kasus pneumonia, penyakit jantung iskemik, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serta penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) terus melonjak signifikan sepanjang periode 2021 hingga 2023.

Pada 2021, tercatat 16.209 kasus pneumonia, 29.225 kasus jantung iskemik, 14.954 kasus ISPA, dan 13.229 kasus PPOK. Angka ini naik pada 2022 menjadi 33.038 kasus pneumonia, 35.910 kasus jantung iskemik, 36.669 kasus ISPA, dan 24.308 kasus PPOK.

Tren kenaikan berlanjut pada 2023, di mana kasus pneumonia menyentuh 48.084, jantung iskemik 40.068 kasus, ISPA 56.571 kasus, dan PPOK 32.474 kasus.

"Jantung iskemik ini umum terjadi sekarang. Banyak ini kasusnya," ujar Budi dalam media briefing di Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026).

Budi menjelaskan bahwa setiap kenaikan konsentrasi polutan PM2,5 sebesar 15 mikrogram per meter kubik udara dapat memicu peningkatan kasus pneumonia sebesar 20 persen, penyakit jantung iskemik 37 persen, PPOK 27 persen, dan ISPA 18 persen.

Kondisi ini berimbas langsung pada lonjakan beban klaim BPJS Kesehatan untuk 12 kelompok penyakit terkait polusi, dari Rp588 miliar pada 2021 naik menjadi Rp867 miliar pada 2022, dan menembus Rp1,19 triliun pada 2023.

Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mengupayakan penanganan polusi udara melalui penyemprotan air oleh tim pemadam kebakaran hingga rencana teknologi modifikasi cuaca (TMC) oleh BPBD.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa penyemprotan air oleh damkar telah dikerahkan, sementara modifikasi cuaca masih terkendala kondisi alam akibat ketersediaan awan hujan yang minim.

"Berkali-kali saya sudah memerintahkan kepada BPBD untuk segera melakukan modifikasi cuaca tapi karena nggak ada awan, nggak bisa turun (hujan)," jelasnya.

Terkini