JAKARTA - Menghadapi anak yang rewel, menangis, atau sulit diatur terkadang membuat orang tua kehilangan kesabaran. Nada suara yang meninggi, ucapan yang disesali, hingga respons emosional dapat terjadi saat orang tua merasa kewalahan.
Psikolog anak menyampaikan bahwa momen ketika orang tua kehilangan kendali bukanlah satu-satunya penentu kualitas hubungan dengan buah hati.
Hal yang dilakukan setelah kejadian tersebut justru menjadi bagian penting dalam menjaga rasa aman emosional anak.
Langkah utama yang sebaiknya diterapkan orang tua setelah kehilangan kesabaran adalah repair, yaitu upaya memulihkan kembali ikatan setelah terjadi konflik emosional.
Repair membantu mengembalikan rasa aman anak. Menurut Dr. Caroline Danda, PhD, psikolog berlisensi yang telah lebih dari dua dekade menangani anak dan keluarga, repair bukan sekadar meminta maaf lalu melupakan kejadian.
“Repair adalah kebalikan dari berpura-pura bahwa kesalahan tidak pernah terjadi atau berjanji bahwa hal itu tidak akan terulang. Repair dilakukan ketika kami menyadari ada masalah, melihat apa yang salah, kemudian melalui proses untuk memperbaikinya,” ujar Dr. Danda, dikutip dari Parade, Kamis (20/8/2026).
Dr. Danda mengungkapkan bahwa proses ini memberikan kesempatan bagi orang tua dan anak untuk kembali terhubung setelah ikatan sempat merenggang.
Psikolog klinis berlisensi, Dr. Allison Brazendale, PsyD, menambahkan bahwa repair memberikan pesan penting bahwa hubungan dengan orang tua tetap aman meski sempat melewati situasi sulit.
“Ini adalah kesempatan untuk terhubung kembali, memperkuat kepercayaan, dan menunjukkan kepada anak bahwa kesalahan bukanlah akhir dari segalanya,” kata Brazendale.
Konflik yang dibiarkan tanpa penanganan dapat memengaruhi cara pandang anak terhadap dirinya sendiri.
Ketika orang tua meledak, anak tidak selalu memahami situasi tersebut sebagai luapan emosi sesaat. Nada bicara keras dan ekspresi marah bisa membuat anak merasa terancam serta mempertanyakan keamanan dirinya.
Dr. Brazendale menjelaskan bahwa perubahan sikap tersebut mengirimkan sinyal bahaya ke sistem saraf anak. Saat otak masuk ke mode perlindungan, kecemasan akan meningkat sehingga anak sulit berpikir jernih, menyelesaikan masalah, maupun mengontrol emosi.
Dr. Danda menegaskan bahwa reaksi buruk tidak selalu muncul karena seseorang sengaja ingin bertindak demikian.
“Tidak ada seorang pun yang memilih untuk bereaksi dengan buruk. Otak hanya sedang beralih ke mode bertahan hidup,” jelas Dr. Danda.
Tanpa repair, anak berisiko membentuk persepsi yang keliru, seperti merasa dirinya terlalu merepotkan, buruk, atau takut ditinggalkan saat emosinya meluap.
Proses repair dapat dimulai setelah orang tua berhasil menenangkan diri. Orang tua dapat mengakui kesalahan respons, meminta maaf tanpa menyalahkan anak, serta membangun kembali kedekatan lewat dialog yang tenang.
Hal krusial lainnya adalah menghindari kata “tetapi” untuk membenarkan kemarahan. Daripada mengalihkan tanggung jawab, orang tua sebaiknya mengakui kesalahan secara murni.
Dengan demikian, anak belajar bahwa emosi besar tidak membuat dirinya menjadi figur yang buruk, serta memahami bahwa konflik dalam hubungan selalu bisa diperbaiki.
Di samping itu, orang tua tidak perlu terus-menerus terjebak dalam rasa bersalah. Kehilangan kesabaran tidak serta-merta menjadikan seseorang sebagai orang tua yang gagal.
Hal yang perlu disoroti adalah pola perilaku serta iktikad untuk memulihkan hubungan usai perselisihan.
Dr. Brazendale menjelaskan bahwa repair justru menjadi pelajaran berharga bagi anak untuk melihat bahwa hubungan yang sehat bukan berarti bebas dari masalah. Hubungan justru makin kuat saat kedua pihak saling belajar memperbaiki keretakan.
Oleh sebab itu, ketika terlanjur membentak, fokus orang tua sebaiknya tidak berhenti pada rasa bersalah semata. Setelah emosi mereda, mulailah mendekati anak, akui kesalahan, dengarkan perasaannya, dan bangun kembali rasa aman tersebut.