Kasus ISPA 2026 Capai 400 Ribu per Minggu Dampak Karhutla dan Kemarau

Jumat, 21 Agustus 2026 | 21:33:02 WIB
Petugas Manggala Agni Daops Pekanbaru menyemprotkan air saat berupaya memadamkan kebakaran lahan gambut yang meluas di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, Rabu (19/8/2026).

JAKARTA - Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa memasuki awal musim kemarau pada minggu ke 27-31 tahun 2026, lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menunjukkan tren kenaikan hingga menembus lebih dari 400 ribu kasus per minggu.

Lonjakan angka kasus tersebut tercatat lebih tinggi bila dibandingkan dengan rentang minggu yang sama pada tahun 2025.

"Kalau lihat trennya, salah satu faktor utama karena masuk musim kemarau. Karhutla juga memberi dampak," kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman di Jakarta, Jumat.

Ia menerangkan bahwa pergerakan kasus ISPA pada 2026 secara umum berada di atas catatan tahun 2025. Puncak kemarau berlangsung pada minggu ke 32–44, yang mana data minggu serupa pada 2025 menunjukkan angka yang stabil tinggi, yaitu sekitar 300–350 ribu kasus pada M32 hingga mendekati 400 ribu kasus pada M44.

Garis catatan Kemenkes memperlihatkan pada 2026 M30 kasus berada di kisaran 400 ribu, lalu melandai tipis di M31.

"Musim kemarau di Indonesia berlangsung secara bertahap antarwilayah, dengan sebagian besar wilayah diprediksi mencapai puncak kemarau pada Juli-Agustus 2026," ujar Aji.

Aji menuturkan bahwa periode kemarau menuntut kewaspadaan ekstra terhadap karhutla. Berdasarkan riset dan publikasi ilmiah, eskalasi kebakaran hutan umumnya mulai menanjak sekitar bulan Juli dan mencapai puncaknya pada periode Agustus-September.

Di samping itu, peningkatan ISPA juga lazim terjadi sewaktu musim hujan atau cuaca dingin saat temperatur menurun dan kelembapan meninggi.

Rendahnya cakupan vaksinasi influenza maupun COVID-19 berpotensi memperbesar risiko penularan, terutama menyasar kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

Dalam kesempatan yang sama, ia mengungkapkan per 17 Agustus 2026 sebanyak 90 tenaga kesehatan beserta beragam bantuan logistik kesehatan telah diterjunkan untuk menanggulangi dampak kesehatan akibat karhutla di berbagai daerah.

Tim tenaga kesehatan tersebut terdiri atas dokter, perawat, apoteker, bidan, ahli gizi, pengemudi ambulans, sanitarian, hingga epidemiolog.

Seluruh nakes didistribusikan ke wilayah terdampak karhutla, meliputi 40 nakes ke Kalimantan Selatan, empat ke Riau, 27 ke Kalimantan Tengah, sembilan ke Kalimantan Barat, lima ke Jambi, dan lima ke Kalimantan Timur.

Sementara itu, pasokan logistik yang disalurkan mencakup 267.630 masker, 54 unit OC, 1.000 pasang handscoon, 36 tabung Oxycan, 33 dus PMT, 40 faceshield, serta delapan Alat Pelindung Diri (APD).

Aji mengimbau masyarakat luas untuk konsisten menerapkan pola hidup bersih dan sehat sehari-hari demi menjaga imunitas tubuh di tengah ancaman kemarau dan risiko ISPA akibat karhutla.

"Terapkan PHBS setiap hari. Konsumsi makanan bergizi, cuci tangan pakai air dan sabun, istirahat cukup, dan hindari merokok," katanya.

Ia turut mengingatkan warga agar membatasi mobilitas di luar ruangan sewaktu udara terkontaminasi asap atau debu. Apabila mendesak harus beraktivitas di luar, kenakan masker yang menutup hidung dan mulut secara pas, serta tutup pintu dan jendela saat asap menebal.

"Lindungi kelompok rentan. Bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta penderita asma, penyakit paru, atau penyakit jantung sebaiknya menghindari paparan asap dan segera berkonsultasi jika keluhan memburuk," katanya.

Masyarakat juga diminta menjaga kebersihan lingkungan serta ketersediaan air bersih. Pastikan konsumsi air dan makanan terjamin higienis, serta guncangkan langkah 3M Plus agar genangan air tidak menjadi sarang nyamuk selama kemarau.

"Kenali gejala ISPA dan segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat. Jangan menunda berobat bila mengalami batuk yang tidak membaik, sesak napas, demam tinggi, nyeri dada, atau keluhan lain yang mengganggu, terutama pada kelompok berisiko," katanya.

Terkini