PLN Indonesia Power Siap Serap Listrik dari Dua Proyek PGEO 45 MW

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 20:35:01 WIB
Ilustrasi PLTP PLN.

JAKARTA - PT PLN Indonesia Power menyatakan kesiapannya untuk mengawal dan menyokong percepatan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Sebagai tindak lanjut konkret, PLN Indonesia Power bersama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) secara resmi menandatangani Letter of Intent (LoI) terkait skema jual beli pasokan listrik dari dua proyek panas bumi berkapasitas total 45 Megawatt (MW).

Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta menjelaskan bahwa kerja sama strategis ini mencakup operasional PLTP Lahendong Binary berkekuatan 15 MW di Sulawesi Utara serta PLTP Ulubelu Binary berdaya 30 MW di Provinsi Lampung.

Bernadus turut menegaskan komitmen kuat PLN Indonesia Power untuk memaksimalkan potensi energi geotermal di Tanah Air agar terkonversi menjadi sumber energi bersih yang tangguh.

“Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar. Melalui kolaborasi PLN Indonesia Power dan PGE pada Lahendong dan Ulubelu, kami ingin mengoptimalkan potensi tersebut menjadi energi bersih yang andal sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional,” kata Bernadus melalui rilis yang disiarkan pada Jumat (21/8/2026).

Bernadus mengulas, kedua fasilitas PLTP tersebut menerapkan inovasi teknologi bottoming demi mengolah kembali sisa panas dari fluida geotermal (brine) yang belum terpakai menjadi daya listrik bersih tambahan pada kompleks pembangkit eksisting.

Langkah ini dipandang sebagai bentuk efisiensi dan optimalisasi potensi pada Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang sudah beroperasi, sekaligus mendongkrak kapasitas produksi tanpa perlu sepenuhnya bergantung pada pembukaan arena WKP baru.

Dalam peta rencana kerja sama berjangka panjang ini, akumulasi potensi pengembangan daya bahkan diproyeksikan mampu menembus angka 230 MW.

Sejalan dengan agenda pemanfaatan energi terbarukan ini, Bernadus mengingatkan bahwa percepatan transisi energi mutlak membutuhkan sinergi lintas pemangku kepentingan.

“Sinergi antara PLN, PLN Indonesia Power, PGE, pemerintah, investor, dan seluruh pelaku industri menjadi kunci untuk mempercepat hadirnya pembangkit bersih yang andal dan berkelanjutan,” tambah Bernadus.

Prosesi penandatanganan LoI antara PLN Indonesia Power dan PGEO ini dilangsungkan dalam ajang The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026. Kesepakatan diteken langsung pada 19 Agustus 2026 oleh Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta dan Direktur Utama PGEO Ahmad Yani.

Dalam panggung perhelatan tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menggarisbawahi pentingnya akselerasi proyek dan mendorong kolaborasi erat antara jajaran pemerintah dengan para pengusaha sektor geotermal.

“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, begitu juga dunia usaha. Kuncinya adalah kolaborasi. Ketika regulator, PLN, pengembang, dan seluruh pemangku kepentingan bergerak bersama, saya yakin kekayaan panas bumi Indonesia dapat kami optimalkan menjadi energi bersih yang andal dan menjadi kekuatan di masa depan," ungkap Bahlil.

Tahun 2026 sendiri menandai genap 100 tahun perjalanan energi panas bumi di Indonesia sejak pemboran perdana di Kamojang. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyoroti keunggulan geotermal yang sanggup memasok daya listrik tanpa henti selama 24 jam penuh.

"Seratus tahun sejak pengeboran pertama dilakukan pada 1926, uapnya masih mengalir dan terus memberi manfaat bagi negeri. Dari Kamojang, kami melihat bahwa geothermal memiliki kekuatan untuk menjadi energi bersih yang andal, berkelanjutan, dan menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia menuju kemandirian energi,” kata Eniya.

Terkini