BPS Jelaskan Arti Desil 10 DTSEN dan Cara Cek Statusnya Secara Online

Minggu, 23 Agustus 2026 | 16:56:32 WIB
ILUSTRASI. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan bahwa penetapan desil pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) bukanlah patokan mutlak untuk menentukan tingkat kemiskinan, besaran pendapatan, maupun jumlah kekayaan seseorang. Simak petunjuk pengecekan dan pengajuan pembaruan status desil secara online.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti memaparkan bahwa desil menggambarkan urutan relatif satu keluarga jika dibandingkan dengan keluarga lain berdasarkan kombinasi bermacam karakteristik sosial ekonomi.

"Desil menunjukkan posisi relatif suatu keluarga dibandingkan keluarga lainnya berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi. Karena itu, angka desil perlu dipahami sebagai gambaran posisi relatif dalam pemeringkatan kesejahteraan, bukan sebagai ukuran tunggal kondisi ekonomi suatu keluarga," jelas Amalia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (22/8/2026).

Makna Desil dalam DTSEN

Dalam skema DTSEN, setiap keluarga diperingkatkan terlebih dahulu berdasarkan sekumpulan indikator sosial ekonomi. Selanjutnya, seluruh keluarga dibagi ke dalam 10 kelompok yang masing-masing porsinya berkisar 10% dari total populasi keluarga.

Desil 1 memuat daftar kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 diisi oleh kelompok ber-kesejahteraan relatif paling tinggi. Walau begitu, posisi angka tersebut tidak serta-merta menandakan seluruh anggota di dalamnya mengantongi pendapatan atau pengeluaran yang seragam.

Sebagai acuan, keluarga yang terdata pada desil 3 berada di urutan ketiga dari 10 tingkatan kesejahteraan relatif. Hal itu tidak langsung berarti keluarga tersebut memegang besaran penghasilan tertentu atau tergolong miskin.

BPS menekankan bahwa penetapan desil tidak cuma bertumpu pada satu variabel saja, seperti nominal penghasilan, kepemilikan barang, daya listrik, atau tipe pekerjaan. Seluruh elemen ditimbang secara terpadu.

Faktor Penentu Desil DTSEN

Pemeringkatan tingkat kesejahteraan di dalam DTSEN mengukur beragam kondisi sosial ekonomi keluarga, di antaranya:

kondisi serta kualitas hunian;

sumber air minum;

bahan bakar dan energi memasak;

kepemilikan aset;

daya serta konsumsi pemakaian listrik;

susunan anggota keluarga;

tingkat pendidikan;

jenis pekerjaan;

kondisi kesehatan; serta

disabilitas.

Seluruh data tersebut diproses menggunakan metode statistik Proxy Means Test (PMT) guna mengestimasi tingkat kesejahteraan relatif berpatokan pada variabel yang dapat diobservasi.

Lewat dokumen tata kelola DTSEN, BPS menjabarkan bahwa metode PMT difungsikan untuk memprediksi besaran pengeluaran per kapita berbasis variabel individu serta keluarga, yang mana hasilnya diolah menjadi daftar peringkat kesejahteraan dan desil.

"Karena menggunakan kombinasi berbagai karakteristik, satu kondisi atau satu indikator saja tidak dengan sendirinya menentukan posisi desil suatu keluarga," kata Amalia.

Oleh sebab itu, pergeseran pada satu aspek—misalnya perubahan kondisi tempat tinggal atau aset—tidak otomatis menggeser posisi desil, lantaran kalkulasi dihitung secara simultan.

Penyebab Perbedaan Persepsi Status Desil

Adanya selisih antara kondisi riil yang dirasakan warga dengan posisi desil pada DTSEN dipicu oleh sifat pemeringkatan yang relatif. Kedudukan sebuah keluarga tidak sekadar diukur secara individu, melainkan terus diperbandingkan dengan kondisi keluarga lain.

Alhasil, warga yang merasa berpenghasilan rendah tidak serta-merta otomatis masuk ke desil 1. Begitu pula sebaliknya, keluarga tidak langsung berada di desil tinggi hanya karena mempunyai satu aset yang mencolok. BPS menggabungkan berbagai parameter ketimbang menetapkan garis ambang pendapatan yang kaku.

DTSEN Sebagai Basis Data Pemerintah

DTSEN difungsikan sebagai rujukan basis data pemerintah untuk memetakan perencanaan, penentuan sasaran penerima, hingga evaluasi program. Sistem ini dibentuk melalui integrasi beragam data pemerintah, meliputi Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek), serta Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE), yang disinkronkan dengan data kependudukan.

BPS bertugas menyusun, mengelola, sekaligus memperbarui DTSEN. Hingga 10 Juli 2026, DTSEN Versi 3 Tahun 2026 telah menghimpun 290,13 juta data individu serta 95,98 juta data keluarga.

Langkah Cek Desil DTSEN 2026

Masyarakat dapat memeriksa status desil melalui portal Cek Bansos Kemensos dengan alur berikut:

Akses portal resmi Cek Bansos Kemensos di https://cekbansos.kemensos.go.id.

Ketikkan NIK yang tertera pada KTP.

Tuliskan kode verifikasi yang muncul pada layar.

Pilih tombol Cari Data.

Sistem akan menampilkan rincian data penerima manfaat beserta status desil apabila informasi sudah tersedia.

Tata Cara Pemutakhiran Data DTSEN

Bagi warga yang mendapati data diri atau keluarganya belum sesuai dengan kondisi riil, BPS menyediakan ruang pengajuan pembaruan melalui fitur usul dan sanggah di saluran resmi seperti Cek Bansos, SIKS-NG via operator desa/kelurahan, atau Cek DTSEN.

Meskipun begitu, permohonan tersebut tidak serta-merta langsung mengubah angka desil. Informasi baru yang masuk akan ditampung dalam proses pemutakhiran dan pengolahan hitung ulang. Keputusan akhir desil tetap merujuk pada data dan metode pemeringkatan yang berlaku.

BPS menegaskan komitmennya untuk terus memutakhirkan data bersama kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Masyarakat diimbau memahami bahwa desil bukanlah cap permanen status kaya atau miskin, melainkan posisi relatif keluarga dalam urutan kesejahteraan berbasis gabungan kondisi sosial ekonomi.

Terkini