Review FTSE September 2026: BSDE, SILO, dan SMRA Turun Kelas

Minggu, 23 Agustus 2026 | 18:38:31 WIB
Pengunjung melihat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) [FOTO: NET].

JAKARTA — Sejumlah saham Indonesia tercatat mengalami penurunan klasifikasi dalam FTSE Global Equity Index Series pada review periode September 2026. Sejumlah emiten seperti PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO), hingga PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) dilaporkan terdegradasi dalam rebalancing indeks global tersebut.

Berdasarkan publikasi resmi FTSE Russell pada Jumat (21/8/2026), BSDE didepak dari Mid Cap Index dan bergeser ke Micro Cap Index. Pada peninjauan kali ini, tidak ada satu pun saham asal Indonesia yang berhasil menembus kategori Mid Cap.

Sementara itu, sebanyak 10 emiten yang sebelumnya bertengger di Small Cap Index turut dikeluarkan dari kategori tersebut. Deretan saham itu terdiri atas PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB), PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. (BJBR), PT Bank BTPN Syariah Tbk. (BTPS), PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR), PT MDS Retailing Tbk. (LPPF), PT Media Nusantara Citra Tbk. (MNCN), PT Panin Financial Tbk. (PNLF), SILO, SMRA, serta PT Surya Citra Media Tbk. (SCMA).

Dari daftar tersebut, SILO bersama delapan emiten lainnya terdegradasi ke Micro Cap Index. Di sisi lain, tidak tercatat adanya perubahan pada kelompok Large Cap Index.

Adapun emiten yang dikeluarkan dari Micro Cap Index mencakup PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA), PT Ancara Logistics Indonesia Tbk. (ALII), PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO), PT Bank Victoria International Tbk. (BVIC), PT Cahaya Aero Services Tbk. (CASS), PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT), dan PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk. (CARS).

Selain itu, deretan emiten yang juga terlempar mencakup PT Integra Indocabinet Tbk. (WOOD), PT Intiland Development Tbk. (DILD), PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk. (JTPE), PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk. (JKON), PT Jayamas Medica Industri Tbk. (OMED), PT Clipan Finance Indonesia Tbk. (CFIN), PT Kencana Energi Lestari Tbk. (KEEN), serta PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN).

Daftar tersebut turut melibatkan PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk. (MAHA), PT Mastersystem Infotama Tbk. (MSTI), PT Medela Potentia Tbk. (MDLA), PT Multipolar Tbk. (MLPL), PT Panca Budi Idaman Tbk. (PBID), PT Panin Sekuritas Tbk. (PANS), PT Paninvest Tbk. (PNIN), PT PP (Persero) Tbk. (PTPP), PT Prodia Widyahusada Tbk. (PRDA), PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk. (RALS), PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk. (ISSP), dan PT Trans Power Marine Tbk. (TPMA).

Kendati demikian, pihak FTSE Russell memaparkan bahwa hasil evaluasi tersebut masih berpeluang berubah hingga sesi penutupan perdagangan Jumat (4/9/2026).

“Mulai Senin, 7 September 2026, perubahan hasil peninjauan indeks tersebut akan dianggap final,” tulis FTSE Russell dalam pengumumannya, Jumat (21/8/2026).

Tahap berikutnya, hasil akhir rebalancing FTSE September dijadwalkan meluncur pada Jumat (18/9/2026), sementara perombakan anggota konstituen bakal berlaku efektif per Senin (21/9/2026).

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menuturkan bahwa penundaan dari FTSE Russell menyita perhatian kalangan pemodal lantaran berisiko memengaruhi arus modal asing ke pasar modal Indonesia. 

Dinamika ini berlangsung searah dengan langkah Bank Indonesia yang menahan BI-Rate di level 5,75%, serta kebijakan FTSE Russell yang menangguhkan penambahan konstituen baru asal Indonesia hingga Desember 2026.

Sebagai informasi, FTSE Russell merupakan entitas penyedia indeks acuan tingkat dunia di bawah naungan London Stock Exchange Group (LSEG). Indeks tersebut menjadi salah satu pedoman utama bagi investor institusi global, termasuk manajer investasi, pengelola dana pensiun, hingga pengelola dana indeks dalam mengalokasikan portofolio investasi mereka.

Pergeseran konstituen di dalam indeks FTSE Russell dapat memicu penyesuaian susunan portofolio oleh pemodal yang menjadikannya sebagai tolok ukur. Masuk maupun keluarnya suatu saham dari jajaran indeks berpotensi memengaruhi tingkat permintaan, likuiditas, hingga lalu lintas dana asing pada emiten terkait. 

Bagi pasar modal Indonesia, perubahan tingkatan klasifikasi ini turut menjadi salah satu parameter krusial bagi investor internasional untuk menilai keterjangkauan dan daya tarik pasar keuangan domestik.

Daftar Saham Indonesia Terdampak Review FTSE September 2026:

Large Cap

Inclusions : -

Exclusions : -

Mid Cap

Inclusions : -

Exclusions : BSDE

Small Cap

Inclusions : -

Exclusions : BBYB, BJBR, BTPS, LPKR, LPPF, MNCN, PNLF, SILO, SMRA, SCMA

Micro Cap

Inclusions : BBYB, BJBR, BTPS, BSDE, LPKR, LPPF, MNCN, PNLF, SMRA, SCMA

Exclusions : ADHI, ASSA, ALII, AGRO, BVIC, CASS, CFIN, BWPT, CARS, WOOD, DILD, JTPE, JKON, OMED, KEEN, MAIN, MAHA, MSTI, MDLA, MLPL, PBID, PANS, PNIN, PTPP, PRDA, RALS, ISSP, TPMA

Terkini