RI dan Malaysia Kembangkan Baterai Nusantara Demi Ekosistem ASEAN

Rabu, 26 Agustus 2026 | 22:41:31 WIB
Profesor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus Founder National Battery Research Institute (NBRI), Evvy Kartini.

JAKARTA - Kerja sama kemitraan antara Indonesia dan Malaysia mulai difokuskan pada penguatan ekosistem industri baterai di kawasan Asia Tenggara, salah satu langkah nyatanya ditempuh melalui pengembangan proyek Baterai Nusantara.

Profesor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus Founder National Battery Research Institute (NBRI), Evvy Kartini menyampaikan bahwa kolaborasi regional ini merupakan bagian dari strategi besar untuk membangun ketahanan serta kemandirian teknologi baterai di ASEAN.

“Indonesia memiliki potensi untuk berkontribusi dari sisi material baterai, khususnya pengembangan katoda. Sementara itu, Malaysia memiliki fasilitas pilot yang dapat digunakan untuk memproduksi sel baterai. Kami lebih senang kalau kami juga bisa membuat sel baterai di sini,” kata Evvy di Jakarta, Rabu.

Ia menerangkan bahwa mekanisme pengembangan Baterai Nusantara dilaksanakan dengan memasok material olahan dari Indonesia ke Malaysia untuk kemudian diproses menjadi unit sel baterai secara utuh.

Hasil inovasi tersebut bahkan sudah mulai diperkenalkan secara resmi di Malaysia bersama jajaran kementerian terkait setempat.

Lebih jauh, Evvy menjelaskan bahwa kolaborasi lintas negara ini tidak sekadar berfokus pada volume produksi, melainkan menjadi pijakan awal dalam membentuk rantai pasok baterai mandiri yang melibatkan negara-negara di kawasan ASEAN.

“Kami juga ingin mencoba bagaimana di ASEAN ini tidak tergantung juga. Jadi punya baterai ASEAN sendiri,” katanya.

Langkah ini disokong oleh potensi pasar kendaraan listrik di Asia Tenggara yang amat luas, sehingga sangat prospektif untuk dijadikan basis riset serta pengembangan teknologi baterai berskala regional.

Meski demikian, untuk merealisasikan target tersebut, dibutuhkan peningkatan kapasitas riset hingga kesiapan produksi di tiap-tiap negara anggota.

Salah satu tahapan vital yang dinilai mendesak untuk segera dibangun adalah penyediaan fasilitas pilot plant di tanah air.

Menurut Evvy, keberadaan fasilitas percontohan tersebut sangat dibutuhkan sebagai jembatan penghubung antara hasil riset material di laboratorium menuju tahapan produksi baterai skala industri.

“Pilot itu kami tidak perlu langsung membuat gigawatt hour. Kami perlu bridging antara material ini ke sana,” ujarnya.

Hadirnya fasilitas pilot plant memungkinkan teknologi yang dirancang di laboratorium diuji coba dalam skala lebih besar sebelum masuk ke fase manufaktur masal.

Indonesia juga dapat menyerap teknologi komersial milik mitra untuk kemudian dikembangkan lebih lanjut melalui riset mandiri di dalam negeri.

Evvy menekankan pentingnya pendekatan ini agar posisi Indonesia tidak hanya bertahan sebagai pemasok bahan mentah semata, tetapi juga mampu memproduksi sel baterai secara independen.

Sinergi antara Indonesia dan Malaysia ini sekaligus menjadi bagian dari agenda strategis kawasan untuk memperkokoh penguasaan teknologi baterai nasional.

Lewat penggabungan potensi sumber daya alam, hasil riset, fasilitas pengolahan, serta kekuatan pasar regional, ASEAN diharapkan mampu menciptakan teknologi baterainya sendiri dan tidak sekadar menjadi basis perakitan kendaraan listrik semata.

Terkini