Danantara Fokus Reinvestasi Keuntungan 5 hingga 10 Tahun ke Depan 2026

Rabu, 26 Agustus 2026 | 00:07:42 WIB
Warga melintas didepan Wisma Danantara Indonesia di Jakarta.

JAKARTA - Di tengah tingginya ekspektasi setoran dividen badan usaha milik negara (BUMN), Danantara memilih untuk memprioritaskan reinvestasi keuntungan dalam rentang 5 hingga 10 tahun ke depan demi memperbesar nilai investasi dan imbal hasil jangka panjang.

Chief Investment Officer Danantara sekaligus CEO Danantara Investment Management (DIM) Pandu Sjahrir menyampaikan bahwa keuntungan yang didapatkan Danantara pada tahap awal sebaiknya tidak terburu-buru ditarik sebagai dividen.

“Tentunya masukannya yang saya ingat dari Bapak [Presiden Prabowo Subianto] adalah tolong diinvestasi ulang dulu selama 5—10 tahun ke depan,” katanya mengutip kanal YouTube Bisnis.com, Rabu (26/8/2026).

Pernyataan tersebut mencuat di tengah arahan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya memperkirakan setoran dividen BUMN kepada negara pada 2026 dapat meningkat hingga menyentuh angka Rp200 triliun.

Pada 2025 lalu, setoran dividen BUMN kepada negara tercatat sebesar Rp142,3 triliun, atau mengalami lonjakan 67 persen jika dibandingkan dengan realisasi pada 2024.

Menurut Pandu, Danantara masih merupakan lembaga yang relatif baru sehingga memerlukan waktu untuk memperbesar kapasitas operasional dan memberikan hasil yang optimal.

“Untuk perusahaan yang masih sangat muda, it takes a decade lebih. Baru setelah satu dekade sebaiknya baru bisa mulai ada semacam dividend policy. Tapi kalau diambil sekarang sayang,” ujarnya.

Pandu menerangkan bahwa semangat pembentukan sovereign wealth fund (SWF) adalah membangun dana cadangan bagi generasi mendatang, sehingga keuntungan awal sepatutnya diinvestasikan kembali.

Pandu mengingatkan agar momentum pertumbuhan Danantara tidak dikorbankan demi memenuhi kebutuhan penerimaan negara dalam jangka pendek.

“Jangan sampai momentum yang lagi baik ini mungkin karena kebutuhan yang sangat short term dikorbankan untuk nanti masa depan yang seharusnya bisa lebih baik lagi,” katanya.

Pandu menambahkan bahwa kontribusi dividen terhadap total penerimaan negara relatif terbatas di kisaran 3 persen hingga 4 persen, sementara sektor pajak dan PNBP menyumbang porsi hingga 20 persen.

“Yang paling banyak itu dari pajak, PNBP semacam royalti dan pajak-pajak lainnya itu 20%. Tugas utama kami adalah memperbesar 20% itu,” tuturnya.

Pandu menilai peningkatan tax ratio akan memberikan dampak yang lebih signifikan bagi negara, mengingat rasio pajak Indonesia yang masih di bawah 10 persen berbanding 15-16 persen di negara tetangga.

Sementara itu, Pandu menyampaikan bahwa laporan keuangan tahun pertama Danantara akan segera tuntas dengan fokus penilaian pada efisiensi, profitabilitas, serta tingkat pengembalian investasi.

“Revenue is revenue, tapi yang harus dilihat adalah efisiensi yang berhasil dilakukan. Itu sih yang lebih penting,” katanya.

Terkini