Penghijauan dan Permaculture, Prabowo Targetkan NTT Hijau Kembali

Kamis, 27 Agustus 2026 | 18:59:33 WIB
Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat penanganan bencana gempa bumi di Posko Penanganan Gempa Bumi di Bataliyon Yonif TP 834/WM, Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) [FOTO: NET].

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan program penghijauan di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai bagian dari skema jangka menengah dan panjang demi mengatasi kendala ketersediaan pasokan air sekaligus menguatkan ketahanan pangan kawasan. 

Prabowo memaparkan bahwa pemerintah bakal membangun pusat pembibitan atau nursery di tingkat provinsi maupun kabupaten untuk menyediakan bibit tanaman produktif yang siap ditanam pada lahan-lahan terbuka.

Hal tersebut dikemukakan Prabowo sewaktu menyimak laporan dari jajaran pejabat dan menteri Kabinet Merah Putih dalam agenda peninjauan penanganan dampak bencana gempa bumi di Nagekeo, NTT, Rabu (26/8/2026).

"Saya telah membentuk waktu itu Unhan, Dikti sama BRIN untuk keliling ke beberapa negara belajar bagaimana mempercepat penghijauan," kata Prabowo.

Menurut penjelasannya, agenda penghijauan tidak semata-mata dilakukan dengan menanam pohon secara asal, melainkan wajib diarahkan pada pemanfaatan jenis tanaman produktif yang sekaligus berfungsi mengunci ketersediaan air. 

Oleh sebab itu, pemerintah pusat siap menyokong pendirian fasilitas pembibitan di tingkat provinsi dan kabupaten. Bibit yang diproduksi selanjutnya disebar untuk ditanam pada area terbuka serta kawasan vital penopang sumber air.

"Semua lahan yang terbuka kami tanam pohon yang produktif dan pohon-pohon untuk mengamankan air," ujarnya.

Prabowo turut menggalakkan penerapan permaculture pada wilayah pegunungan serta area yang mengalami kerusakan lingkungan. Menurut pertimbangannya, metode ini memerlukan ketepatan dan konsistensi sebelum mampu mendatangkan hasil nyata.

"Kalau dilakukan dengan teliti dalam empat, lima, enam tahun itu bisa menampung dan menambah air di dalam bumi," kata Prabowo.

Ia optimistis kawasan yang saat ini dalam kondisi gundul sanggup kembali menghijau dalam kurun waktu kuran lebih satu dekade apabila program tersebut digulirkan secara konsisten.

"Daerah-daerah gundul ini dalam 10 tahun bisa hijau kembali," ujarnya.

Prabowo menggarisbawahi bahwa penghijauan wajib dijadikan bagian integral dari rancangan pembangunan pemerintah provinsi dan kabupaten, bersanding dengan pengembangan sektor pertanian. 

Ia menyuarakan pula pentingnya pemberian edukasi pelestarian hutan sejak jenjang sekolah. Masyarakat, terkhusus generasi muda, harus disadarkan akan pentingnya menjaga keberadaan pohon dan dilarang membuka lahan memakai metode membakar atau menebang pohon secara serampangan.

"Pohon adalah sumber kehidupan. No tree, no forest. No forest, no water. No water, no life," kata Prabowo.

Di samping program penghijauan, Prabowo menganggap penggunaan teknologi desalinasi sanggup menjadi solusi ampuh untuk mencukupi pasokan air bersih, utamanya bagi kawasan kepulauan dan area pesisir yang minim sumber air tawar. 

Ia menyebut Indonesia telah mengantongi kemampuan untuk mengembangkan teknologi desalinasi lewat pelbagai lembaga edukasi dan riset. Pemerintah dapat pula mengombinasikan teknologi dalam negeri dengan teknologi luar negeri yang kini makin terjangkau harganya.

"Ini nanti kami integrasikan, kami bantu ke semua kabupaten, kecamatan, desa yang membutuhkan air bersih," ujarnya.

Kendati demikian, Prabowo menandaskan bahwasanya pembangunan infrastruktur dan pemanfaatan teknologi harus dibarengi dengan penguatan edukasi kepada warga terkait pengelolaan lingkungan serta sumber daya air.

Pada kesempatan itu, Prabowo mengutarakan kembali dukungannya atas rencana pembukaan kawasan pertanian seluas 8.000 hektare di Nagekeo. Ia menyampaikan wilayah tersebut berpotensi dikembangkan menjadi lumbung pangan apabila pembuatan jaringan irigasi berjalan sesuai dengan tenggat.

"Kalau tiga bulan lagi menurut Menteri PU irigasi jalan, kami mulai. Setelah itu 8.000 hektare itu menjadi lumbung pangan," katanya.

Prabowo juga mengimbau agar pemajuan sektor pertanian berjalan beriringan dengan langkah penghijauan. Dengan begitu, peningkatan hasil produksi pangan tak sampai mengorbankan keberlanjutan sumber air maupun kelestarian alam. Ia bahkan mematok target transformasi lingkungan ini tidak cuma berhenti di Nagekeo, namun diperluas ke seluruh pelosok NTT.

"NTT kami ubah untuk jadi hijau semua," ujar Prabowo.

Gubernur NTT pada forum tersebut mengutarakan rasa optimis bahwasanya daerahnya sanggup menjelma sebagai salah satu pilar utama secara nasional pada sektor peternakan dalam jangka waktu lima tahun mendatang.

Pada perjumpaan yang sama, Prabowo menyimak pula kelangsungan aktivitas belajar mengajar bagi anak-anak korban gempa. Ia menginstruksikan penyediaan tenda-tenda sekolah diperhitungkan secara cermat supaya proses edukasi tak terputus sepanjang masa darurat bencana.

Kepala BNPB Suharyanto melaporkan bahwa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah mengalokasikan tenda-tenda sekolah yang kini dalam tahap penyaluran. Untuk sementara waktu, kegiatan pembelajaran dapat menumpang pada tenda pengungsian yang tersedia. Prabowo pun meminta adanya penambahan unit tenda bilamana daya tampung yang ada masih kurang.

"Untuk sementara sekolah enggak boleh berhenti, jadi tambah tenda," kata Prabowo.

Ia menegaskan proses pendidikan wajib terus berlanjut walaupun masyarakat sedang berada dalam masa pemulihan pascabencana.

Demi menjamin keberlanjutan agenda penghijauan, Prabowo meminta BRIN bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk tidak hanya berfokus di NTT, namun turut merancang program edukasi pemulihan hutan untuk skala nasional. Menurutnya, pemulihan kawasan gundul membutuhkan sikap sabar, ketekunan, ketabahan, dan semangat gotong royong.

"Permaculture membutuhkan lima tahun. Itu kesabaran, ketekunan, ketabahan, gotong royong," ujarnya.

Prabowo mengimbau pula agar jajaran TNI dan Polri turut mengambil bagian dalam program penghijauan ini. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, beserta pemerintah pusat diharapkan membina koordinasi yang solid guna memastikan program pelestarian ini tidak mandek sebagai agenda jangka pendek.

Menutup pergarahannya, Prabowo kembali menegaskan pentingnya sikap keberpihakan para pemimpin terhadap rakyat yang paling membutuhkan. Menurutnya, gubernur, bupati, camat, sampai kepala desa merupakan figur pemimpin yang menduduki posisi paling dekat dengan konstituennya.

"Berani itu harus berani berbuat, berani berpikir, berani bertanya, berani mendengar, berani mencari tahu yang benar-benar dirasakan orang yang paling jauh, paling susah, paling miskin, paling tidak berdaya," kata Prabowo.

Terkini