CIMB Niaga Optimis Kredit UKM Tumbuh 8 Persen hingga Akhir 2026

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:16:32 WIB
Bank CIMB Niaga.

JAKARTA - Penyaluran pembiayaan kredit usaha kecil dan menengah (UKM) masih menghadapi dinamika tantangan seiring terjadinya perlambatan laju pertumbuhan kredit di industri perbankan nasional.

Kendati demikian, PT Bank CIMB Niaga Tbk tetap optimistis sanggup mendongkrak realisasi penyerapan kredit pada segmen tersebut hingga penghujung tahun.

Head of Emerging Business Banking CIMB Niaga Tony Tardjo memaparkan bahwa tren pertumbuhan kredit UKM secara industri memang cenderung terbatas, tetapi pihak perseroan konsisten mencetak kinerja positif.

Berpatokan pada data OJK, Tony menyebut pergerakan pasar UKM memang lambat. Walau begitu, penyaluran kredit UKM CIMB Niaga per Juni 2026 mampu tumbuh 2,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

"Memang market-nya juga kelihatannya slow, tapi kami terus berusaha yang terbaik. UKM ini segmen penting untuk menumbuhkan GDP Indonesia," ujar Tony di sela-sela ajang CIMB Niaga Wealth Xpo 2026, Rabu (26/8).

Menurut Tony, guliran paket stimulus pemerintah amat membantu memacu pergerakan UMK. Dari sisi perbankan, CIMB Niaga rutin menghadirkan program skema pembiayaan bersuku bunga kompetitif demi menggenjot pertumbuhan loan.

"Salah satu tantangan UKM kan suku bunga. Dengan suku bunga yang kompetitif diharapkan pertumbuhan loan bisa lebih cepat," katanya.

Berbekal strategi tersebut, CIMB Niaga memasang target kredit UKM tumbuh 7 hingga 8 persen pada akhir tahun dengan memaksimalkan dorongan penyaluran pada semester II/2026.

Saat ini portofolio kredit UKM CIMB Niaga menembus angka Rp27 triliun. Tony memproyeksikan akumulasi angka tersebut bakal terkatrol naik menjadi Rp28 triliun hingga Rp28,5 triliun pada akhir tahun.

"Kami harapkan paling tidak akhir tahun bisa bertambah Rp1 triliun, mungkin Rp28 triliun, Rp28,5 triliun. Tapi tentunya tetap menerapkan prinsip kehati-hatian," ujarnya.

Mengenai aspek kualitas pembiayaan, Tony memastikan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) segmen UKM relatif terjaga ramah di bawah 4 persen, serta ditargetkan bertahan di bawah 3 persen lewat penyaringan debitur yang presisi.

"Kalau NPL tentunya serendah mungkin lebih baik. Tapi saya selalu ingin kalau bisa di bawah 3% untuk UKM," kata Tony.

Tony menggarisbawahi pentingnya menjaga kualitas aset di tengah tantangan ekonomi. Walau selektif, perbankan diwajibkan menyokong pelaku usaha melalui penyediaan solusi keuangan yang fleksibel.

Dari peta sektor bisnis, Tony memandang industri perdagangan ritel serta manufaktur skala kecil memegang potensi pertumbuhan yang sangat prospektif.

"Kalau terutama di daerah, komoditasnya pertumbuhannya bagus, biasanya UKM-nya juga cukup maju," ujarnya.

Ia menambahkan, jangkauan luas jaringan operasional CIMB Niaga dari Sumatera hingga Papua menjadi fondasi kuat yang menyokong diversifikasi bisnis UKM perseroan.

Di tengah tren perbankan yang kian ketat, Tony menegaskan CIMB Niaga tetap terbuka melayani seluruh spektrum nasabah mulai dari perorangan, UKM, hingga korporasi besar selama memiliki prospek usaha yang jelas.

Terkait efektivitas penggunaan fasilitas, tingkat utilisasi kredit UKM perseroan berada pada level sehat yakni 60 hingga 70 persen, yang terhitung wajar untuk menopang kebutuhan modal kerja fluktuatif.

"Kalau UKM dengan aktivitas normal, naik turun sekitar 70% itu wajar. Yang penting kualitasnya tetap terjaga," pungkasnya.

Terkini