JAKARTA - PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT) menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk menghadapi risiko perubahan iklim, termasuk fenomena El Nino dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Langkah tersebut diambil guna menjaga keberlangsungan operasional perkebunan kelapa sawit perseroan secara optimal.
Direktur dan COO BWPT Andrew Haryono mengatakan perseroan telah mengantisipasi risiko iklim melalui sistem deteksi dini dan langkah preventif.
Indikasi El Nino mulai terpantau sejak Mei 2026 dan berpotensi menguat pada Juli, disusul ancaman karhutla pada Agustus.
Perseroan mengedepankan prinsip identifikasi risiko sedini mungkin serta respons cepat dengan mengandalkan teknologi satelit, drone, menara pemantau api, dan patroli rutin.
“Kami deteksi dini melalui menara pemantau api. Kami proaktif untuk menopang operasional ke depan. Prinsip kami adalah mengidentifikasi risiko lebih cepat dan memberikan respons yang lebih tanggap,” ujarnya dalam Paparan Publik, Kamis (27/8/2026).
Selain teknologi pemantauan, BWPT memperkuat kesiapsiagaan dengan menyediakan peralatan pemadam kebakaran dan sumber daya manusia yang memadai.
Andrew menyampaikan bahwa dampak El Nino terhadap operasional BWPT sejauh ini belum terlihat secara signifikan, tetapi perseroan terus memantau perkembangannya.
“Dampak El Nino secara riil belum terlihat. Kami menggunakan teknologi satelit, drone, menara api, dan patroli. Kami juga melengkapi peralatan damkar dan SDM yang cukup. Mungkin dampaknya akan kami monitor hingga tahun depan,” katanya.
Di sisi lain, BWPT memproyeksikan prospek harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) tetap positif hingga akhir tahun dan berlanjut ke tahun depan.
Harga CPO diperkirakan bertahan di level tinggi karena pasokan berpotensi tertekan saat permintaan pasar terus meningkat.
“Harga CPO akhir tahun hingga tahun depan masih tinggi karena suplai tertekan sementara demand meningkat,” ujarnya.
BWPT mengoperasikan perkebunan kelapa sawit seluas 84.000 hektare di Sumatra, Kalimantan, dan Papua dengan total kapasitas pabrik 2,4 juta ton TBS per tahun.
Dalam aspek keberlanjutan, perseroan menegaskan komitmennya melalui sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) untuk seluruh produksi CPO.