Investasi Unilever Rp2,59 Triliun Dorong Hilirisasi Sawit Sei Mangkei

Kamis, 27 Agustus 2026 | 03:28:01 WIB
PT Unilever Oleochemical Indonesia.

JAKARTA - Langkah besar diambil PT Unilever Oleochemical Indonesia (UOI) dalam memperkuat manufaktur Fatty Alcohols di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, pada Rabu (26/8/2026). Kucuran dana bernilai US$155 juta atau setara Rp2,59 triliun ini difokuskan guna mendongkrak daya saing hasil olahan kelapa sawit nasional di kancah internasional.

Surya selaku Wakil Gubernur Sumatera Utara menyampaikan bahwa penambahan fasilitas manufaktur UOI tidak sekadar memacu volume industri, melainkan juga menyuntikkan efek positif bagi perekonomian warga lokal. Menurutnya, ukuran keberhasilan penanaman modal tidak hanya bertumpu pada besarnya dana atau kapasitas barang, tetapi sejauh mana daya serap pekerja lokal, peningkatan keahlian SDM, dan keterlibatan UMKM terwujud.

“Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika investasi mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Saya berharap pengembangan operasional ini semakin membuka ruang bagi tenaga kerja lokal, memperkuat kompetensi sumber daya manusia kami, serta memperluas kemitraan dengan UMKM,” ujar Surya saat menghadiri peresmian pengembangan operasional produksi PT UOI di Marvel 3 Hall KEK Sei Mangkei.

Guna menghadirkan ekosistem bisnis yang merata, Surya mengimbau perusahaan raksasa di KEK Sei Mangkei agar menggaet rantai pasok dari para pelaku usaha lokal. Keterlibatan vendor maupun penyedia jasa kawasan menjadi fondasi penting dalam membangun ekonomi daerah yang inklusif.

“Kami ingin industri besar tumbuh bersama masyarakat. Keterlibatan UMKM dan tenaga kerja lokal akan membuat manfaat ekonomi dari keberadaan KEK Sei Mangkei ini dirasakan secara inklusif dan merata,” katanya.

Pengembangan pabrik UOI ini turut menegaskan posisi Sumatera Utara sebagai pusat hilirisasi kelapa sawit nasional. Surya menambahkan bahwa wilayahnya menyimpan potensi komoditas yang melimpah, terbukti dari capaian produksi sawit yang menyentuh angka 5,2 juta ton sepanjang 2024.

Dari kacamata kesiapan fasilitas teknis, Yuliot Tanjung selaku Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan komitmen pemerintah untuk menjamin ketersediaan pasokan energi. Strategi ini direalisasikan lewat jalur pipa gas Dumai–Sei Mangkei senilai Rp3,5 triliun demi menjaga keandalan operasional kawasan industri.

Pemerintah juga mengakselerasi pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) melalui beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), seperti PLTA Batang Toru berdaya 510 megawatt (MW) dan PLTA Asahan 3 berkapasitas 150 MW. Ketersediaan bahan baku serta energi hijau terpadu dipandang Yuliot sebagai daya tawar utama produk lokal di pasar dunia.

“Dengan ketersediaan gas, listrik terbarukan, dan bahan baku yang cukup di dalam satu ekosistem KEK Sei Mangkei, daya saing produk industri kami di pasaran global akan menjadi sangat tinggi,” ujar Yuliot.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK Rizal Edwin Manansang mencatat akumulasi modal yang masuk ke KEK Sei Mangkei telah menembus US$1,87 miliar dari 29 investor hingga pertengahan 2026. Penyerapan tenaga kerja pun telah melampaui 16.000 orang, dengan UOI sebagai salah satu kontributor terbesar yang menanamkan investasi akumulatif US$52 juta di luar proyek anyar ini.

Performa ekspor UOI pada semester I/2026 mencatatkan nilai US$403 juta, menyumbang lebih dari separuh total ekspor kawasan yang berada di angka US$778 juta. Hal ini membuktikan bahwa pengolahan kelapa sawit dalam negeri mampu merambah pasar rantai nilai global.

“Kontribusi ini membuktikan hilirisasi kelapa sawit di Indonesia mampu bersaing langsung di rantai nilai global,” ujar Rizal.

Chief Supply Chain Officer Unilever Willem Uijen memproyeksikan seluruh fasilitas operasional UOI sanggup mendistribusikan hingga 600.000 ton oleokimia ke lebih dari 30 negara, dengan estimasi nilai ekspor menembus US$800 juta. Langkah ini sejalan dengan komitmen perseroan terhadap prinsip pengolahan ramah lingkungan berbasis bioenergi sirkular.

“Pabrik fatty alcohol ini memperkuat kemampuan Indonesia memproduksi oleokimia bernilai tinggi. Investasi ini bukan sekadar perluasan kapasitas produksi, tetapi juga dedikasi kami pada manufaktur rendah karbon berbasis bio-energi sirkular, serta komitmen memberdayakan tenaga kerja dan masyarakat lokal,” tutur Willem.

Melalui ekspansi pabrik ini, KEK Sei Mangkei kian mengukuhkan posisinya sebagai simpul utama hilirisasi sawit di tanah air. Pemerintah daerah berharap masuknya modal berskala internasional ini mampu memberi nilai tambah pada komoditas lokal sekaligus menggerakkan roda ekonomi warga secara berkelanjutan.

Terkini