Danantara Komitmen Masuk Pemegang Saham BEI Demi Peremajaan Teknologi

Kamis, 27 Agustus 2026 | 03:32:32 WIB
Ilustrasi Gedung Danantara.

JAKARTA — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) menegaskan kesiapannya untuk ambil bagian sebagai pemegang saham Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam agendanya menyukseskan demutualisasi bursa yang ditargetkan selesai pada 6 hingga 8 pekan mendatang.

Chief Investment Officer Danantara sekaligus CEO Danantara Investment Management (DIM) Pandu Sjahrir menjelaskan bahwa masuknya Danantara ke BEI berjalan atas mandat BPI Danantara lewat penyuntikan modal segar. Dana anyar tersebut bakal dialokasikan khusus guna memperbarui sistem teknologi bursa.

“Kami mengharapkan 6 sampai 8 minggu ke depan ini semua selesai, di mana kami melalui penugasan dari BPI Danantara akan masuk ke pasar modal, ke Bursa Efek Indonesia, yang nanti uangnya pun akan digunakan untuk peremajaan teknologi,” kata Pandu, mengutip kanal YouTube Bisnis.com, Rabu (26/8/2026).

Ia menambahkan, langkah demutualisasi menjadi prioritas utama Danantara lantaran fondasi pasar modal yang kokoh merupakan pilar vital dalam ekosistem investasi nasional.

“Menurut kami, demutualisasi pasar modal mungkin paling penting. Tidak ada sektor investasi di dunia di negara maju yang tidak memiliki pasar modal yang sehat,” ujarnya.

Pandu menyoroti rekam jejak pasar modal di Amerika Serikat, China, serta India yang tergolong dalam dan teruji. Ketiga negara tersebut telah lebih dulu menuntaskan demutualisasi bursa dan mengalihkan status hukumnya menjadi perseroan terbatas.

“Ketiga-tiganya juga sudah menjadi PT dan sudah fully demutualized. Yang paling baru itu India, itu pun 10 tahun yang lalu,” katanya.

Ia menggarisbawahi pentingnya Indonesia mengejar ketertinggalan melalui percepatan demutualisasi BEI. Selain memperbarui infrastruktur teknologi, Danantara berniat memacu variasi instrumen aset di pasar keuangan, dari saham hingga produk derivatif.

Pandu menargetkan BEI dalam jangka pendek sanggup menembus jajaran pasar modal terbaik di Asia Tenggara, lalu perlahan merangkak naik ke tingkatan teratas di kawasan Asia.

“Kami harus bisa punya short-term aim bagaimana menjadi pasar modal terbaik di Asia Tenggara. Dari Asia Tenggara menjadi salah satu yang terbaik di Asia,” ujarnya.

Penguatan fasilitas pasar modal dinilai sangat krusial demi menopang ekspansi investasi Danantara. Sebab, saat portofolio perusahaan Danantara siap menggelar aksi penawaran umum perdana saham (IPO), bursa domestik harus memiliki daya saing yang setara.

“Kami kalau mau nanti IPO, keinginan kami kan pasti di Indonesia. Tapi Indonesia sendiri apakah sekompetitif dengan pasar modal lain? Itu yang harus kami siapkan,” kata Pandu.

Ia pun menggarisbawahi pentingnya melonggarkan akses perusahaan masuk ke pasar saham, termasuk memfasilitasi mekanisme dual listing bila memang diperlukan.

“Kami harus mempermudah orang untuk melakukan IPO. Kami harus mempermudah juga untuk perusahaan-perusahaan yang bagus ingin masuk di Indonesia,” ujarnya.

Perihal posisi Danantara pascabergabung sebagai pemegang saham BEI, Pandu memastikan instansinya tak akan mengambil alih peran regulator. Kewenangan regulasi dipastikan tetap dipegang penuh oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Di sini kami pemegang saham bursa efek. Our job is to make bursa efek kami menjadi makin kompetitif dan makin baik. Sesimpel itu,” kata Pandu.

Pandu menegaskan OJK mempertahankan posisinya sebagai pengawas aturan, sedangkan Danantara berfokus mendorong peningkatan kinerja bursa agar mampu bersaing global.

Danantara bertindak memberikan petunjuk strategis, sedangkan porsi eksekusi operasional diserahkan sepenuhnya kepada jajaran direksi BEI untuk diterjemahkan di lapangan.

Ia menyebut koordinasi awal mengenai visi pengembangan bursa ke depan sudah mulai dijalin bersama pihak BEI.

Lebih lanjut, Pandu menyerukan pentingnya menanamkan sikap kepekaan terhadap krisis (sense of crisis) dalam membenahi pasar modal nasional agar tak kalah saing dari negara tetangga.

“Sense bahwa kami bukan yang terbaik, kami masih harus perlu banyak belajar. Sense bahwa kami akan selalu berubah, kalau enggak kami yang akan diubah,” ujarnya.

Ia menilai catatan dan evaluasi dari MSCI patut dijadikan pelecut untuk membenahi celah pasar modal, khususnya masalah konsentrasi kepemilikan dan transaksi tidak sehat.

Pandu juga menyuarakan perlunya sanksi finansial yang lebih berat bagi para pelanggar aturan bursa agar menimbulkan efek jera yang nyata.

“Di Amerika kan dilakukan sanksi yang dalam. Sanksinya jangan Rp500 juta, contohnya. Harus jauh lebih besar biar ada juga efek jera,” katanya.

Namun demikian, penegakan disiplin tersebut idealnya berjalan seiring dengan kemudahan korporasi dalam mengakses fasilitas IPO di tanah air.

“Kami harus membuat pasar modal kami sekompetitif pasar modal lain,” ujarnya.

Sinergi antara ketegasan aturan, kemudahan akses, dan perbaikan infrastruktur tecermin sebagai kunci utama agar BEI mampu merebut posisi bursa terdepan di tingkat regional.

Terkini