Isu Akuisisi oleh Haji Isam Dorong Pergerakan Saham Bayan (BYAN)

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:04:01 WIB
Investor mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) [FOTO: NET].

JAKARTA — Pergerakan lembar saham emiten sektor pertambangan batu bara PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) terpantau mengalami koreksi pelemahan di tengah kencangnya pusaran rumor rencana akuisisi oleh konsorsium bisnis yang dikomandoi oleh pengusaha asal Kalimantan Selatan, Haji Isam. 

Berdasarkan rilis data perdagangan dari platform IDX Mobile, saham BYAN ditutup melemah sebesar 0,17 persen ke level posisi harga Rp14.975 per lembar saham pada penutupan akhir sesi pertama perdagangan hari Jumat (28/8/2026). Sepanjang berjalannya sesi pertama, saham BYAN sempat bergerak fluktuatif pada rentang kisaran level Rp14.900 hingga menyentuh harga Rp15.200 per saham.

Dalam kurun waktu sepekan ke belakang, harga saham BYAN tercatat mengalami koreksi sekitar 7,42 persen, dan secara akumulasi year to date melemah 4,62 persen. Kendati demikian, kinerja performa harga saham BYAN justru tercatat melambung tinggi hingga 24,02 persen dalam rentang waktu satu bulan terakhir, serta tumbuh secara masif mencapai 50,88 persen dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.

Dinamika fluktuasi harga saham dari emiten produsen batu bara dengan kapitalisasi pasar jumbo ini merefleksikan tingginya tingkat antisipasi serta respons pelaku pasar terhadap spekulasi adanya perombakan struktur pengendali di tubuh perusahaan raksasa batu bara tersebut.

Isu terkait rencana pengambilalihan ini mencuat ke ruang publik menyusul kabar bahwa sang taipan Low Tuck Kwong—yang memegang kendali sekitar 40 persen kepemilikan saham—bersama putrinya yang memiliki porsi lebih dari 22 persen saham BYAN, tengah berada dalam tahap penjajakan diskusi untuk mendivestasikan 62,2 persen porsi total saham pengendali mereka.

Konsorsium pimpinan Haji Isam santer dikabarkan sebagai salah satu kandidat kuat calon pembeli potensial. Apabila skema transaksi bisnis ini benar-benar terwujud dan terealisasi, aksi korporasi tersebut bakal tercatat sebagai salah satu kesepakatan (deal) korporasi pertambangan terbesar sepanjang sejarah di Indonesia, sekaligus menandai babak akhir era kepemimpinan Low Tuck Kwong di tampuk kepemimpinan Bayan Resources.

Estimasi nilai transaksi yang diproyeksikan untuk proses pengambilalihan 62,2 persen kepemilikan saham tersebut diperkirakan berada pada kisaran angka US$6 miliar hingga US$8 miliar. Angka tersebut terpaut jauh di bawah valuasi total nilai pasar BYAN saat ini yang diestimasi menyentuh level US$28 miliar, mengingat terbatasnya porsi saham publik yang beredar (free float).

Di sisi lain, selubung ketidakpastian masih menyelimuti kepastian eksekusi transaksi ini. Pihak manajemen BYAN melalui pernyataan resmi keterbukaan informasi yang disampaikan kepada pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) tertanggal 18 Agustus menegaskan bahwa pihak perseroan sama sekali tidak mengetahui adanya rencana pengambilalihan ataupun akuisisi saham oleh Haji Isam maupun entitas pihak yang terafiliasi dengannya. 

Kendati demikian, jajaran pemegang saham pengendali mengindikasikan sikap yang tetap terbuka terhadap setiap peluang bisnis yang dinilai mampu memaksimalkan nilai investasi mereka.

Valuasi yang Fair

Menanggapi dinamika pergerakan harga saham serta rumor pengambilalihan kendali BYAN yang tengah bergulir, sejumlah kalangan analis pasar keuangan mengimbau para investor agar tetap bersikap rasional dan cermat.

Harry Su selaku Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, memberikan penekanan khusus mengenai signifikansi kejelasan patokan harga atau fair price sekiranya transaksi akuisisi tersebut benar-benar dieksekusi. Menurut pandangannya, wacana nilai akuisisi di angka US$6 miliar hingga US$8 miliar untuk memborong 62,2 persen saham berada jauh di bawah nilai pasar wajar BYAN saat ini. 

Harry menyebut potensi skema akuisisi yang berada di bawah harga pasar atau dengan diskon besar berpotensi memicu kekhawatiran serius terkait perlindungan nilai investasi bagi para pemegang saham minoritas atau publik.

"Akan menjadi sentimen positif jika transaksi tersebut harganya fair dan disepakati kedua belah pihak. Harga yang fair ini penting, karena tentunya berdampak terhadap valuasi atas porsi yang dimiliki publik," ujarnya, Jumat (28/8/2026).

Sementara itu, Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Ruly Wisnubroto, menilai bahwa pergerakan harga saham BYAN yang cenderung fluktuatif akhir-akhir ini tidak lebih dari bentuk reaksi sesaat dari pasar terhadap isu perubahan kepemilikan pengendali, yang sifatnya masih terkategori sebagai event driven dan diliputi tingkat ketidakpastian tinggi.

"Terkait fluktuasi BYAN, kami melihat pasar memang sedang merespons isu potensi perubahan pengendalian. Namun, investor perlu membedakan antara spekulasi pasar, penjajakan, dan transaksi yang telah pasti," kata Ruly.

Ia turut memberikan peringatan kepada para investor agar tidak tergesa-gesa dalam menarik kesimpulan ihwal bentuk struktur kendaraan transaksi yang nantinya akan dipakai maupun kejelasan identitas pihak pembeli sebelum adanya rilis keterbukaan informasi resmi.

"Sejauh ini sentimen terhadap saham BYAN dan pihak terafiliasi bervariasi, tapi cenderung positif secara event driven. Tapi belum solid karena ketidakpastian masih tinggi," terangnya.

Terkini