Festival Hantu Lapar di Medan: Ritual Sembahyang Leluhur dan Pembakaran Uang Kertas

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 01:09:00 WIB

ONLINEKINI.ID — Medan (ANTARA) - Vihara Gunung Timur menjadi pusat konsentrasi umat Tionghoa yang menjalankan tradisi tahunan menghormati arwah leluhur. Rangkaian sembahyang berlangsung khusyuk, diwarnai sajian makanan dan pembakaran replika kertas berbentuk rumah, pakaian, hingga uang.

Makna Persembahan Kertas dan Sajian untuk Arwah

Pembakaran replika kertas merupakan simbol pemenuhan kebutuhan bagi arwah di alam baka. Masyarakat meyakini benda-benda yang terbakar akan berpindah secara spiritual kepada leluhur mereka.

Selain replika kertas, sesajen makanan juga menjadi bagian tak terpisahkan dari prosesi. Hidangan yang disajikan bervariasi, mulai dari lauk pauk hingga kue tradisional, sebagai wujud bhakti dan terima kasih kepada leluhur.

Suasana di pelataran vihara dipenuhi kepulan asap dari pembakaran kertas. Para warga secara bergantian melakukan sembahyang, memanjatkan doa bagi ketenangan arwah dan keselamatan bagi keluarga yang masih hidup.

Doa Keselamatan dan Kelancaran Rezeki bagi Umat

Ritual ini bukan sekadar formalitas tahunan, melainkan sarana refleksi spiritual. Warga memohon ketenangan bagi para arwah sekaligus mendoakan keselamatan serta kelancaran rezeki bagi yang masih hidup.

Inti perayaan Zhong Yuan Jie berpusat pada rasa hormat kepada leluhur. Tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya hubungan antara dunia nyata dan alam spiritual, sebuah warisan budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

Perayaan puncak yang biasanya jatuh pada tanggal 15 bulan ketujuh kalender Imlek ini menjadi momen berkumpulnya keluarga besar. Vihara Gunung Timur menjadi salah satu lokasi utama di Medan yang menyelenggarakan rangkaian upacara secara lengkap.

Pelestarian Tradisi di Tengah Modernitas

Keberlangsungan Festival Hantu Lapar di Medan menunjukkan ketahanan budaya Tionghoa di Sumatra Utara. Ritual ini tetap dijalankan dengan khidmat meskipun arus modernisasi terus berkembang.

Prosesi sembahyang yang berlangsung di Vihara Gunung Timur mencerminkan keyakinan masyarakat Tionghoa akan kehidupan setelah kematian. Persembahan yang diberikan merupakan bentuk kasih sayang yang tak terputus kepada leluhur.

Doa yang dipanjatkan mengandung harapan akan perlindungan dan bimbingan dari leluhur. Kelancaran rezeki yang dimohon menjadi simbol optimisme warga dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Terkini