Kenali Shrimp Posture, Dampak Buruk Menunduk Terlalu Lama

Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:25:31 WIB
Ilustrasi Udang [FOTO: NET].

JAKARTA - Menundukkan kepala saat melihat layar ponsel mungkin terkesan sebagai aktivitas sepele yang kerap diabaikan. Akan tetapi, jika kebiasaan ini dilakukan berulang-ulang dalam rentang waktu yang lama, alignment kepala, leher, hingga tulang belakang dapat mengalami perubahan. 

Kondisi inilah yang belakangan populer dengan sebutan shrimp posture, yakni istilah yang menggambarkan bentuk tubuh membungkuk layaknya udang.

Fisioterapis sekaligus pendiri Anchor Wellness dan WAVE Physical Therapy & Pilates, Dr. Sarah Cash Crawford, menyampaikan bahwa shrimp posture bukan merupakan terminologi medis. Ia menyebut label tersebut dipakai untuk mendeskripsikan pola kelainan postur yang sejatinya telah lama ditangani di bidang fisioterapi.

"Ini bukan diagnosis medis. Ini sebenarnya hanya nama modern untuk pola postur yang sudah ditangani fisioterapis selama beberapa dekade, yang dipengaruhi oleh lamanya kami membungkuk di depan ponsel dan laptop," jelas Crawford, disadur dari Parade.

Bukan Hanya karena Duduk di Depan Laptop

Shrimp posture dapat dikenali dari gestur bahu yang membulat ke arah depan, posisi kepala menunduk, serta area punggung atas yang melengkung menyerupai huruf C. Posisi tersebut tidak sekadar berpotensi terjadi ketika beraktivitas di depan komputer, melainkan juga saat terlalu sering menatap layar ponsel.

Crawford menegaskan bahwa letak permasalahannya bukan dipicu oleh satu kali momen duduk membungkuk. Sebaliknya, kebiasaan yang berulang-ulang dalam durasi panjang itulah yang memicu persoalan.

"Pengaruh terbesarnya adalah pengulangan dan durasi: berjam-jam sehari melihat ke bawah pada ponsel atau membungkuk ke layar laptop dengan dukungan dan kesadaran postur yang buruk," ujarnya.

"Ini bukan disebabkan oleh satu momen membungkuk yang buruk. Ini disebabkan oleh mempertahankan posisi yang sama berulang kali tanpa cukup melakukan perubahan posisi," imbuh Crawford.

Kondisi tersebut juga sangat dipengaruhi oleh kekuatan massa otot. Menurut penjelasan Crawford, kondisi otot punggung tengah, otot leher bagian dalam, serta otot gluteus (bokong) yang lemah bakal membuat seseorang kian mudah terjebak dalam posisi membungkuk akibat kesulitan mempertahankan postur tegak.

Kenali Tanda yang Mulai Muncul

Tubuh sejatinya memancarkan sinyal saat seseorang terlalu lama mendekam dalam posisi tersebut. Berdasarkan penuturan ahli ergonomi profesional bersertifikat Kristianne Egbert, sebagian orang dapat merasakan Sensasi tegang yang merambat di punggung bagian atas dan leher hingga memicu sakit kepala tegang.

Selain itu, dijumpai beberapa indikasi lain yang patut diwaspadai, seperti posisi dagu yang kian condong ke depan mengarah ke layar, bahu yang terangkat atau membulat ke depan, serta letak kepala yang lebih maju mendahului posisi bahu. Ketegangan atau rasa pegal di area antara tulang belikat dan dasar tengkorak juga rentan menyerang.

Pada tubuh bagian bawah, seseorang dapat merasakan nyeri pada area tulang ekor lantaran beban tubuh terlalu menumpuk pada tulang belakang bagian bawah pasca kehilangan topangan dari sandaran kursi.

Mata yang cepat lelah akibat jarak pandang semakin memendek ke arah layar juga menjadi indikator lainnya. Bahkan, ketika berdiri tegak terasa berat atau janggal setelah duduk dalam jangka waktu lama, hal itu mengindikasikan tubuh telah terbiasa dengan posisi membungkuk.

Ditinjau dalam jangka pendek, postur buruk ini memicu ketegangan pada leher dan bahu, timbulnya sakit kepala, hingga pegal pada punggung atas. Crawford menambahkan bahwa posisi membungkuk turut membatasi ruang kembang tulang rusuk sehingga secara tidak langsung mengganggu kedalaman napas.

Bilamana terus dibiarkan dalam jangka panjang, dampaknya bisa jauh lebih fatal. Ia membeberkan bahwa shrimp posture berisiko mengakibatkan ketidakseimbangan otot kronis, kekakuan sendi, serta lonjakan tekanan pada tulang belakang leher yang berpotensi memicu nyeri leher berkepanjangan hingga gangguan pada cakram tulang belakang.

Atas dasar itu, membenahi kebiasaan ini bukan berarti harus memaksakan tubuh duduk tegak kaku sepanjang hari. Crawford menekankan bahwa mempertahankan postur tegak murni mengandalkan niat saja tidak memadai untuk mengatasi persoalan tersebut.

"Anda tidak bisa (memperbaiki) postur hanya dengan berusaha duduk lebih tegak. Perilaku ini membuat otot cepat lelah dan sering kali melatih kelompok otot yang salah secaraberlebihan," katanya.

Satu di antara solusi praktis yang dapat diterapkan yaitu memangkas durasi berada dalam satu posisi diam. Saat mengoperasikan ponsel, Crawford menganjurkan agar posisi gawai diangkat hingga sejajar dengan tingginya mata, ketimbang terus-menerus menunduk. Di samping itu, sisipkan jeda secara berkala dari aktivitas duduk dengan bergerak atau melakukan peregangan tubuh. Langkah ini efektif mencegah tubuh terjebak dalam gestur yang sama selama berjam-jam.

Terkini