JAKARTA - Keberhasilan program kehamilan sangat bergantung pada kondisi kesehatan kedua belah pihak, baik istri maupun suami. Meskipun demikian, masih berembus pandangan di tengah masyarakat yang menitikberatkan masalah infertilitas atau gangguan kesuburan hanya pada kaum perempuan.
Padahal, pemeriksaan kesuburan pria memegang peranan yang amat vital sebagai pijakan awal sebelum menentukan langkah tindakan medis lanjutan.
Gagasan ini dipaparkan oleh Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM.
Faktor Pria Sebagai Penyumbang Terbesar
Faktor pria saat ini menjadi salah satu pemicu utama di balik terhambatnya proses kehamilan suatu pasangan. Kelainan sperma maupun mutunya yang kurang memadai menyumbang 35 persen atau sepertiga dari total kasus gangguan kesuburan yang ditemukan di dunia maupun Indonesia. Berlandaskan tingginya angka tersebut, urutan skenario pemeriksaan medis tidak boleh lagi melulu dipusatkan pada perempuan.
"Never touch the woman without sperm result. Jangan sentuh perempuan sebelum ada hasil sperma. Jadi jangan dibalik," kata dr. Budi dalam acara media gathering untuk memperingati lima tahun kehadiran RS Pondok Indah IVF Centre di Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Pada praktiknya, masih dijumpai sebagian suami yang enggan memeriksakan diri akibat terkungkung stigma atau ego maskulinitas. Banyak pria bersikukuh menuntut sang istri melakoni seluruh tahapan tes kesuburan terlebih dahulu sebelum mereka bersedia ditangani oleh tim dokter.
"Dulu, bukan di Jakarta sih ya, pasien-pasangan datang, dia bilang, 'Dok, periksa istri saya, kalau dia normal semua baru saya periksa.' Nah, sekarang enggak bisa. Bapaknya dulu cek. Baru ibu dicek," tegas dr. Budi.
Penyebab pasien mengikuti program bayi tabung di Indonesia tercatat mencapai 23 persen akibat faktor pria.
Oleh sebab itu, memastikan kondisi sperma wajib dijadikan prioritas utama sebelum memberikan resep obat-obatan penyubur maupun tindakan observasi pada pihak istri.
Kondisi Azoospermia dan Kesalahan Persepsi Ejakulasi
Salah satu persoalan kesuburan yang dialami oleh pria yakni azoospermia. Kondisi ini menyerang ketika tidak ditemukan sel sperma sama sekali di dalam cairan mani. Banyak pria tidak menyadari kondisi tersebut lantaran mereka tetap sanggup melakukan ejakulasi secara normal saat berhubungan intim.
Padahal, kuantitas volume cairan yang keluar saat ejakulasi tidak menjamin keberadaan sel sperma di dalamnya. Cairan mani dan sperma merupakan dua elemen yang berbeda, sehingga ejakulasi melimpah bukan merupakan tolok ukur mutlak bagi tingkat kesuburan seorang pria.
"Yang tumpah-tumpah itu cuma cairan mani namanya. Air mani. Spermanya nol, itu azoospermia namanya. Nah, itu yang bisa dibantu dengan bayi tabung," sebut dr. Budi.
Mendeteksi azoospermia sejak awal akan sangat menghemat alokasi waktu, tenaga, dan biaya pasangan yang tengah menjalani program hamil, sebab dokter dapat langsung merancang prosedur penanganan khusus.
Perbedaan Gangguan Produksi dan Distribusi
Azoospermia pada pria terbagi ke dalam dua masalah utama, yaitu gangguan produksi serta gangguan distribusi. Penanganan medis untuk kedua kondisi ini tentu sangat berbeda, bergantung pada lokasi hambatan yang ditemukan saat pemeriksaan.
Sumbatan pada saluran sperma umumnya lebih mudah diatasi bilamana organ penghasil sperma berfungsi normal, contohnya pada kasus sumbatan vasektomi yang ikatannya bisa dibuka kembali agar aliran sperma mengalir lancar.
Namun, ketika cairan mani terbukti benar-benar kosong akibat gangguan produksi ekstrem, pencarian sel benih wajib dilakukan langsung ke pusatnya melalui tindakan operasi pembedahan.
"Pada kondisi-kondisi tertentu, pada sperma yang sangat sedikit atau bahkan ada laki-laki yang tidak bisa memproduksi sperma, biasanya pengambilan sperma bisa dilakukan dengan operasi khusus pada buah zakarnya," terang dr. Budi.
Meski begitu, apabila akar masalahnya bermuara pada kelainan pabrik sperma itu sendiri, dokter akan menyampaikan risiko genetik tersebut secara transparan kepada pasangan saat sesi konseling sebelum kelanjutan program bayi tabung diproses.
Risiko bawaan ini wajib dipahami karena sifatnya dapat diwariskan. Apabila kelak pasangan tersebut berhasil hamil dan dikaruniai anak laki-laki, terdapat potensi bahwa sang anak kelak mewarisi kendala produksi sperma serupa di masa depan.