Pendapatan WIKA Naik 7,19 Persen per Semester I 2026

Minggu, 30 Agustus 2026 | 18:55:01 WIB
Karyawati beraktivitas di depan logo PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) di Jakarta.

JAKARTA — PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) mencatatkan perbaikan kinerja keuangan dengan menekan rugi bersih pada semester I/2026, seiring dengan lonjakan laba kotor dan pendapatan bersih perseroan.

Berdasarkan laporan keuangan akhir Juni 2026, WIKA membukukan pendapatan bersih sebesar Rp6,27 triliun. Capaian ini tumbuh 7,19 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp5,85 triliun.

Seiring dengan kenaikan topline dan efisiensi beban pokok pendapatan yang terjaga di level Rp5,39 triliun, laba kotor WIKA melesat 87,56 persen yoy menjadi Rp886,33 miliar dari sebelumnya Rp472,55 miliar pada semester I/2025.

Sementara itu, pertumbuhan margin kotor turut mengerek laba usaha BUMN Karya tersebut melompat 136,10 persen yoy menjadi Rp314,65 miliar dari posisi Rp133,27 miliar pada periode enam bulan pertama tahun lalu.

Dari sisi pos keuangan, beban keuangan terpantau melandai dari posisi Rp1,38 triliun menjadi Rp1,31 triliun pada semester I/2026. Meski demikian, tingginya porsi beban keuangan serta bagian rugi dari pengendalian bersama sebesar Rp721,40 miliar masih menekan pos laba sebelum pajak perseroan.

Alhasil, kinerja bottom line WIKA memperlihatkan perbaikan. Rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat mencapai Rp1,48 triliun, turun 10,88 persen dari rugi bersih semester I/2025 yang senilai Rp1,66 triliun.

Secara paralel, rugi bersih per saham dasar juga menunjukkan perbaikan dari level Rp41,71 menjadi Rp37,17 per saham hingga paruh pertama 2026.

WIKA juga tercatat membukukan perolehan kontrak baru sebesar Rp6,91 triliun sepanjang enam bulan pertama tahun ini. Perolehan tersebut ditopang oleh pengerjaan sejumlah proyek strategis nasional di berbagai sektor.

Berdasarkan keterangan resmi perseroan, capaian kontrak baru BUMN Karya tersebut didorong oleh proyek-proyek di sektor industri penunjang konstruksi, infrastruktur, bangunan gedung, hingga ketahanan energi.

Secara terperinci, komposisi kontrak baru WIKA hingga paruh pertama 2026 didominasi oleh sektor industri penunjang konstruksi sebesar Rp2,25 triliun atau menyumbang 32,6 persen dari total raihan nilai kontrak baru.

Sektor infrastruktur dan gedung menyumbang Rp2,24 triliun (32,4 persen), serta sektor energi dan industrial plant Rp2,10 triliun (30,4 persen). Adapun, properti berkontribusi Rp197,86 miliar (2,9 persen) dan lini investasi Rp124,63 miliar (1,8 persen).

Di sisi lain, manajemen WIKA melaporkan adanya penurunan total utang sebesar Rp2,15 triliun sepanjang kuartal II/2025 sampai dengan kuartal II/2026.

Usai restrukturisasi keuangan tahap I pada Februari 2024, WIKA telah membayar kewajiban kepada kreditur perbankan dan pemegang surat utang sebesar Rp4,17 triliun. Dari jumlah tersebut, pelunasan sebesar Rp915,83 miliar direalisasikan sepanjang kuartal II/2025 hingga kuartal II/2026.

Pada saat yang sama, perseroan juga menekan nilai utang kepada mitra kerja sebesar Rp5,02 triliun pascarestrukturisasi tahap I. Dari nilai itu, sebesar Rp1,23 triliun diselesaikan pada periode kuartal II/2025 hingga kuartal II/2026, sehingga posisi sisa utang usaha perseroan berada di level Rp4,32 triliun.

Manajemen WIKA mencatat seluruh pembayaran utang bersumber murni dari arus kas operasi internal hasil dari pengelolaan likuiditas yang disiplin.

Corporate Secretary WIKA Ngatemin menyampaikan bahwa efisiensi operasional dan penurunan liabilitas terus menjadi fokus utama dalam menjaga keberlanjutan bisnis emiten konstruksi tersebut.

“Penurunan utang mitra kerja dan kreditur, pengelolaan kas secara tepat, peningkatan tata kelola, penurunan opex, dan penerapan lean construction menjadi prioritas utama perseroan dalam memastikan keberlanjutan bisnis yang sehat dan kuat,” ujar Ngatemin dalam siaran resmi, Sabtu (29/8/2026).

Dari sisi likuiditas, perbaikan arus kas ditopang oleh strategi seleksi proyek berbasis pembayaran bulanan yang kini mencapai 96 persen dari total portofolio kontrak berjalan. Selain itu, perusahaan juga mencatat penurunan total piutang senilai Rp2,07 triliun pada kuartal II/2025 sampai kuartal II/2026.

Secara operasional, margin laba kotor WIKA pada kuartal II/2026 menanjak ke level 14,1 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar 8,1 persen.

Penguatan margin di sektor infrastruktur, bangunan gedung, dan EPCC ini mendorong perolehan EBITDA operasi positif sebesar Rp769,01 miliar.

Terkini